Penyebab Peningkatan Titik Banjir di Kota Malang Tahun 2025

admin.aiotrade 16 Des 2025 3 menit 15x dilihat
Penyebab Peningkatan Titik Banjir di Kota Malang Tahun 2025
Penyebab Peningkatan Titik Banjir di Kota Malang Tahun 2025

Peningkatan Titik Terdampak Banjir di Kota Malang

Pada tahun 2025, jumlah titik terdampak banjir di wilayah Kota Malang mengalami peningkatan signifikan. Hal ini disampaikan oleh Kalaksa BPBD Kota Malang, Prayitno, yang menjelaskan bahwa curah hujan yang tinggi menjadi salah satu penyebab utama. Selain itu, kondisi drainase yang tercemar oleh sedimentasi dan sampah juga berkontribusi pada kejadian banjir tersebut.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, mulai Januari hingga awal Desember 2025, tercatat sebanyak 45 kejadian banjir dengan titik sebaran atau wilayah terdampak sebanyak 298 titik. Dibandingkan tahun 2024 lalu, yang hanya mencatat 36 kejadian banjir dengan 182 titik terdampak, peningkatan ini sangat mencolok.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Prayitno menuturkan bahwa rilis dari BMKG menunjukkan kenaikan curah hujan sebesar 40 persen dibandingkan tahun 2024. Rata-rata curah hujan di wilayah Malang juga meningkat, dari 20 mililiter menjadi 60 mililiter. Fenomena ini memengaruhi tingkat genangan air yang lebih dalam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Faktor Penyebab Banjir

Selain curah hujan yang tinggi, kondisi drainase yang tidak optimal juga menjadi faktor utama. Drainase yang penuh dengan sedimentasi dan sampah menyebabkan aliran air tidak lancar, sehingga memicu banjir. Untuk mengatasi hal ini, BPBD telah melakukan beberapa upaya mitigasi, seperti kerja bakti bersama masyarakat serta pengerukan sedimentasi dan sampah di wilayah-wilayah rawan banjir.

Namun, Prayitno menjelaskan bahwa tindakan mitigasi hanya dilakukan saat bencana terjadi. Untuk penormalan kondisi, tanggung jawabnya berada pada dinas teknis terkait. Ia juga mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di dekat Daerah Aliran Sungai (DAS), untuk selalu waspada terhadap endapan sampah yang dapat menyumbat aliran air.

Banjir Terparah di Tahun 2025

Banjir yang terjadi pada Kamis (4/12/2025) lalu dinilai sebagai yang terparah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Prayitno menyebutkan bahwa peningkatan curah hujan hingga 40 persen berdampak langsung pada tingkat genangan air yang lebih dalam. Ia menjelaskan bahwa dulu genangan air hanya setinggi tumit orang dewasa, tetapi kini bisa mencapai paha orang dewasa.

Anomali cuaca yang terjadi tidak dapat dikendalikan secara teknis oleh BPBD. Perubahan iklim menjadi salah satu penyebab utamanya. Saat ini, BPBD fokus pada penyajian data dan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah untuk penanganan lanjutan.

Upaya Mitigasi dan Persiapan

Setelah banjir terjadi pekan lalu, BPBD meningkatkan mitigasi dengan melakukan pembersihan sedimentasi dan sampah di wilayah-wilayah rawan banjir. Prayitno berharap dengan langkah ini, dampak banjir tidak semakin parah. Minggu kemarin, seluruh camat, Linmas, PU, dan DLH turun bersih-bersih.

Selain itu, BPBD secara rutin memperbarui informasi cuaca setiap dua jam dan mengirimkannya ke kelurahan agar masyarakat lebih siap menghadapi ancaman banjir. Satuan tugas tanggap bencana juga telah dibentuk, termasuk desain jalur evakuasi dan titik pengungsian.


Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan