Peran Media dalam Membentuk Perspektif Kesejahteraan Hewan

admin.aiotrade 07 Nov 2025 4 menit 18x dilihat
Peran Media dalam Membentuk Perspektif Kesejahteraan Hewan

Peran Media dalam Membangun Kesadaran Kesejahteraan Hewan

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan, perubahan iklim, dan keberlanjutan pangan, topik kesejahteraan hewan sering kali masih luput dari perhatian media. Padahal, isu ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, serta moralitas manusia terhadap makhluk hidup lain.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, apresiasi patut diberikan kepada Animal Friends Jogja (AFJ) yang telah menyelenggarakan Pelatihan Jurnalis, Penerapan Kesejahteraan Hewan yang Diternakkan dalam Jurnalisme, Mengakui Hewan sebagai Sentient Being. Kegiatan ini diadakan pada Sabtu, 1 November 2025, di Perpustakaan Grhatama Pustaka, DPAD DIY. Peserta pelatihan terdiri atas jurnalis media arus utama, pers mahasiswa, dan organisasi kesejahteraan hewan. Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk memperkuat kapasitas jurnalis agar mampu mengangkat isu kesejahteraan hewan secara etis, empatik, dan berbasis data.

Kegiatan ini mencerminkan pentingnya peran media dalam membentuk cara pandang publik terhadap hewan, khususnya hewan ternak yang sering kali diperlakukan hanya sebagai komoditas. Oleh karena itu, terdapat setidaknya lima alasan mengapa media memegang peranan penting dalam membangun perspektif kesejahteraan hewan di masyarakat.

1. Media sebagai Pembentuk Opini Publik

Dalam era informasi digital, persepsi masyarakat sangat dipengaruhi oleh bagaimana media mengemas suatu isu. Menurut penelitian McCombs dan Shaw (1972) tentang Agenda Setting Theory, media memiliki kekuatan besar dalam menentukan topik apa yang dianggap penting oleh publik. Jika isu kesejahteraan hewan tidak diberitakan secara proporsional, maka kesadaran masyarakat terhadap pentingnya memperlakukan hewan dengan layak juga akan rendah.

Di sisi lain, pemberitaan yang mendalam tentang praktik peternakan berkelanjutan atau perlakuan etis terhadap hewan dapat menumbuhkan empati publik dan mendorong perubahan perilaku konsumsi.

2. Media sebagai Pengawas Praktik Industri Peternakan

Sektor peternakan modern sering diwarnai praktik factory farming yang menekankan efisiensi produksi, sering kali dengan mengorbankan kesejahteraan hewan. Laporan Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2023 menyebutkan bahwa lebih dari 70% ayam pedaging di Asia dibesarkan dalam sistem intensif dengan ruang gerak terbatas.

Jurnalisme investigatif berperan penting dalam mengungkap kondisi seperti ini. Liputan mendalam dapat membuka mata publik tentang realitas di balik daging, telur, dan susu yang mereka konsumsi sehari-hari. Dengan demikian, media dapat menjadi penggerak transparansi dan akuntabilitas dalam rantai pasok pangan.

3. Media sebagai Edukasi Hubungan Kesejahteraan Hewan dan Kesehatan Manusia

Studi ilmiah menunjukkan bahwa kesejahteraan hewan yang buruk berdampak langsung terhadap kualitas produk hewani dan potensi penyebaran penyakit zoonosis. Menurut laporan World Organisation for Animal Health (WOAH) tahun 2022, sekitar 60% penyakit menular pada manusia berasal dari hewan, termasuk flu burung, rabies, dan COVID-19.

Melalui pemberitaan yang berbasis data, media dapat mengedukasi masyarakat bahwa memperlakukan hewan secara manusiawi bukan hanya soal moralitas, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kesehatan dan keamanan pangan.

4. Media sebagai Jembatan Antara Sains dan Kebijakan Publik

Banyak kebijakan terkait peternakan masih belum mempertimbangkan prinsip kesejahteraan hewan secara menyeluruh. Padahal, konsep Five Freedoms (lima kebebasan hewan) yang dirumuskan oleh Farm Animal Welfare Council (FAWC), bebas dari rasa lapar, ketakutan, ketidaknyamanan, luka, dan bebas mengekspresikan perilaku alami, telah diakui secara internasional.

Jurnalis yang memiliki pemahaman ilmiah tentang kesejahteraan hewan dapat membantu menyampaikan temuan-temuan riset ini kepada pembuat kebijakan dan masyarakat luas, mendorong lahirnya regulasi yang lebih manusiawi.

5. Media sebagai Pembentuk Empati Lintas Spesies

Mengakui hewan sebagai sentient being, makhluk hidup yang memiliki perasaan dan mampu merasakan sakit. Ini merupakan langkah moral yang mendasar dalam membangun masyarakat berkeadaban. Psikolog moral Frans de Waal dalam bukunya The Age of Empathy (2009) menegaskan bahwa empati terhadap makhluk lain merupakan cerminan peradaban manusia yang maju.

Melalui narasi, foto, dan video yang menyentuh sisi emosional, media dapat menumbuhkan empati publik terhadap hewan yang kerap tak bersuara.

Pelatihan yang diselenggarakan oleh Animal Friends Jogja menjadi contoh konkret bagaimana kapasitas jurnalis perlu diperkuat untuk mengangkat isu kesejahteraan hewan secara berimbang dan berbasis bukti ilmiah. Media bukan hanya alat penyampai informasi, melainkan juga agen perubahan sosial. Dengan pemberitaan yang sensitif, faktual, dan berperspektif kesejahteraan hewan, media dapat membantu membangun budaya yang lebih peduli, beretika, dan berkelanjutan, bagi manusia, hewan, dan planet yang kita huni bersama.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan