
Kebijakan Blokade Maritim AS terhadap Iran Tampaknya Belum Efektif
Upaya Amerika Serikat (AS) untuk membatasi ekonomi Iran melalui blokade laut di Selat Hormuz tampaknya belum berhasil sepenuhnya. Meskipun begitu, Iran masih mampu menjaga aliran minyak mereka ke luar negeri meski melalui jalur yang diblokir oleh AS.
TankerTrackers, sebuah platform pelacakan pengiriman minyak, melaporkan bahwa sekitar 4 juta barel tambahan minyak Iran berhasil melewati blokade maritim AS. Platform tersebut juga menyebutkan bahwa Iran memuat 4,6 juta barel minyak mentah ke pelabuhannya. Dalam akun X-nya, TankerTrackers mengungkapkan bahwa pengiriman minyak senilai sekitar $1,05 miliar dikembalikan ke Iran setelah dicegat oleh pasukan angkatan laut AS.
Sumber yang sama juga menunjukkan bahwa Angkatan Laut AS menyita pengiriman minyak Iran yang diperkirakan senilai sekitar 380 juta dolar AS di Samudra Hindia, yang tampaknya ditujukan untuk Amerika Serikat. Data ini memperkuat laporan Reuters tiga hari lalu, yang mengutip perusahaan analisis data Vortexa. Vortexa melaporkan bahwa sekitar 10,7 juta barel minyak Iran melintasi Selat Hormuz antara 13 dan 21 April, setelah embargo AS mulai berlaku pada 13 April.
Vortexa mencatat bahwa pengiriman tersebut diangkut menggunakan enam kapal tanker yang telah mematikan sistem pelacakannya, praktik yang digunakan untuk mengurangi kemampuan memantau rute. Selain itu, Vortexa juga melaporkan 35 transit kapal yang terkait dengan Iran antara 13 dan 22 April, menunjukkan bahwa aktivitas pengiriman Iran tetap berlangsung meskipun ada pembatasan dari AS.
Penerobosan Blokade Meluas
Bloomberg melaporkan bahwa 34 kapal tanker minyak yang terkait dengan Iran berhasil menyeberangi Selat Hormuz, sementara Wall Street Journal melaporkan bahwa lebih dari 24 kapal bermuatan minyak dan gas lolos dari embargo, berdasarkan data dari Lloyds List Intelligence. Sebaliknya, Komando Pusat AS mengatakan bahwa mereka telah memaksa 37 kapal untuk berbalik arah sebagai bagian dari penegakan blokade angkatan laut terhadap kapal-kapal yang datang ke atau menuju pelabuhan Iran.
Citra satelit juga menunjukkan dua kapal tanker raksasa, Hero 2 dan Heidi, melintasi Laut Arab pada tanggal 20 April, membawa hingga 4 juta barel. Meskipun demikian, laju pengiriman barang terkait Iran melalui selat tersebut telah menurun menjadi antara satu dan dua kapal tanker per hari, dibandingkan dengan rata-rata antara dua dan tiga kapal tanker per hari sebelum embargo AS diberlakukan.
Serangan Israel di Lebanon
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan Israel di wilayah selatan negara itu menewaskan 14 orang pada Minggu (26/4/2026). Insiden ini menjadikan hari paling mematikan sejak gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah mulai berlaku lebih dari sepekan lalu. Korban tewas termasuk dua perempuan dan dua anak-anak, sementara 37 orang lainnya mengalami luka-luka. Di sisi lain, militer Israel menyatakan satu tentaranya juga tewas dalam serangan yang terjadi pada hari yang sama.
Gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku pada 16 April dan telah diperpanjang hingga pertengahan Mei. Kesepakatan ini sempat menurunkan intensitas konflik, namun kedua pihak masih terus saling serang dan saling menuduh melakukan pelanggaran.
Israel Menuduh Hizbullah Merusak Gencatan Senjata
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Hizbullah menjadi pihak yang merusak kesepakatan damai tersebut. Ia menambahkan bahwa Israel akan bertindak tegas sesuai aturan yang telah disepakati bersama Amerika Serikat dan Lebanon. Militer Israel juga kembali mengeluarkan peringatan evakuasi bagi warga di tujuh kota Lebanon selatan yang berada di utara Sungai Litani.
Reuters melaporkan bahwa Israel menyebut pasukannya beroperasi di wilayah yang mereka sebut sebagai garis kuning, yakni jalur selebar sekitar 10 kilometer di sepanjang perbatasan Lebanon, tempat warga sipil diminta tidak kembali. Militer Israel mengklaim telah menyerang pejuang Hizbullah, peluncur roket, serta gudang senjata, dan juga mencegat tiga drone sebelum memasuki wilayah Israel.
Hizbullah: Tidak Akan Menunggu Diplomasi Gagal
Hizbullah menolak menghentikan serangannya selama Israel masih terus melakukan pelanggaran gencatan senjata. Al Jazeera melaporkan bahwa kelompok yang didukung Iran itu menyatakan tidak akan menunggu diplomasi yang mereka anggap terbukti tidak efektif maupun bergantung pada otoritas Lebanon yang dinilai gagal melindungi negara. Hizbullah menegaskan serangan terhadap pasukan Israel di Lebanon dan wilayah Israel utara akan terus berlanjut selama operasi militer Israel masih berlangsung.
Sebelumnya, Hizbullah mengaku menyerang pasukan Israel serta tim penyelamat yang datang mengevakuasi mereka. Israel menyebut satu tentarinya tewas dan enam lainnya terluka.
Ribuan Korban Jiwa Sejak Konflik Meletus
Konflik kembali memanas sejak 2 Maret, ketika Hizbullah menembakkan roket ke Israel sebagai respons atas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan gabungan AS-Israel. Sejak saat itu, lebih dari 2.500 orang dilaporkan tewas akibat serangan Israel di Lebanon. Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, korban tewas tersebut mencakup 277 perempuan, 177 anak-anak, dan 100 petugas medis. Sementara itu, serangan Hizbullah telah menewaskan dua warga sipil di Israel, serta 16 tentara Israel di Lebanon sejak awal Maret, menurut data pemerintah Israel.
Dengan gencatan senjata yang masih rapuh dan saling tuding yang terus meningkat, Lebanon kini kembali berada di ambang eskalasi besar yang dapat menyeret kawasan ke konflik yang lebih luas.