Kondisi Likuiditas Perbankan Masih Longgar
Ketua Umum Perbanas, Hery Gunardi, menyatakan bahwa kondisi likuiditas perbankan saat ini masih dalam keadaan sangat longgar. Hal ini memberikan ruang bagi industri perbankan untuk terus melakukan ekspansi kredit hingga akhir tahun. Menurutnya, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mencapai 84,19 persen menunjukkan bahwa posisi tersebut jauh di bawah batas maksimal sebesar 92 persen yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selain itu, indikator Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) juga menunjukkan bahwa likuiditas perbankan tetap kuat.
“Artinya apa? Bank punya uang dan bank punya likuiditas untuk ekspansi,” ujarnya dalam Konferensi Pers Perbanas, Selasa (10/12/2025).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Faktor Penopang Kondisi Likuiditas yang Longgar

Hery menjelaskan bahwa kondisi likuiditas yang longgar dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia yang bersifat pro-growth. Bank Indonesia telah menerapkan beberapa kebijakan untuk memperkuat likuiditas, seperti relaksasi Giro Wajib Minimum (GWM). Selain itu, suku bunga acuan BI juga dijaga dalam tren penurunan.
“BI menjaga suku bunga acuan dalam tren menurun. Dan yang ketiga, kalau kita lihat pada 2023 lalu, Bank Indonesia memiliki instrumen bernama SRBI,” ungkapnya.
Biaya Dana Sudah Lebih Rendah Dibanding Tahun Lalu

Di sisi lain, Hery menilai bahwa bank mulai menikmati penurunan biaya dana (cost of fund) seiring dengan likuiditas yang semakin longgar di tahun ini. Kondisi ini berbeda dengan tahun 2023, ketika instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menawarkan imbal hasil tinggi dan menjadi pesaing ketat deposito perbankan.
“Pada 2023, yield SRBI sangat tinggi sehingga bersaing dengan deposito. Namun hari ini, dengan likuiditas yang ample, bank sudah mulai bisa menekan cost of fund yang kini lebih rendah dibandingkan tahun lalu,” ujar Herry.
Porsi Undisbursed Loan Masih Tinggi

Meski demikian, penyaluran kredit belum sepenuhnya optimal karena porsi undisbursed loan masih tinggi. Banyak debitur yang telah memperoleh fasilitas kredit, tetapi belum melakukan penarikan dana. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), per Oktober 2025 total undisbursed loan perbankan telah mencapai sekitar Rp2.450,7 triliun, atau sekitar 22,97 persen dari total plafon kredit yang tersedia.
“Banyak debitur yang wait and see. Mereka sudah dapat pembiayaan, tetapi masih menunggu momentum dan melihat peluang sebelum melakukan ekspansi bisnis,” katanya.
Di sisi lain, daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah juga belum pulih sepenuhnya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Lemahnya konsumsi kelompok ini turut memengaruhi permintaan kredit dan aktivitas ekonomi.