
Perbedaan Kenaikan Suhu Global 1,5 Derajat dan 2 Derajat Celsius
Peneliti dari Research Center for Climate Change Universitas Indonesia (RCCC-UI), Riko Wahyudi, menjelaskan bahwa perbedaan kenaikan suhu global sebesar 1,5 derajat dan 2 derajat Celsius memiliki konsekuensi yang signifikan terhadap ekosistem Bumi. Berdasarkan kajian para ilmuwan dan laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), dampak pemanasan 2 derajat Celsius jauh lebih parah bagi keanekaragaman hayati dan kehidupan manusia.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Para ilmuwan sudah coba melakukan analisis bagaimana dampaknya bila kenaikan suhu itu 1,5 dan bagaimana ketika suhu itu 2 derajat Celcius,” kata Riko dalam diskusi yang digelar secara daring oleh JustCOP, Jumat, 7 November 2025.
Ia menjelaskan berbagai studi menunjukkan peningkatan suhu global sebesar 2 derajat Celcius akan mengancam kelangsungan hidup banyak spesies di Bumi. “Bahkan kalau kenaikan suhu 2 derajat Celsius, dampaknya 8 persen spesies di Bumi ini punah. Mungkin ada beberapa spesies yang mungkin kita waktu kecil masih bisa melihatnya, nanti kalau kenaikan suhu sampai 2 derajat Celsius, banyak spesies-spesies atau biodiversitas yang punah, termasuk terumbu karang dan sebagainya,” tuturnya.
Dampak pada Keanekaragaman Hayati
Selain kehilangan keanekaragaman hayati, perbandingan antara kenaikan 1,5 dan 2 derajat Celcius juga menunjukkan lonjakan risiko ekstrem lainnya. Pada tingkat 1,5 derajat, sekitar 4 persen spesies daratan terancam punah dan 70–90 persen spesies laut atau terumbu karang dapat hilang. Sementara pada 2 derajat, ancaman meningkat menjadi 8 persen spesies daratan dan lebih dari 99 persen terumbu karang musnah.
Frekuensi gelombang panas ekstrem juga naik tajam, dari satu kali dalam 20 tahun menjadi satu kali setiap lima tahun. Kenaikan permukaan laut diproyeksikan bertambah dari 0,26–0,77 meter pada pemanasan 1,5 derajat menjadi 0,36–0,87 meter pada 2 derajat. Jumlah orang yang berisiko mengalami kekurangan air meningkat dari 350 juta menjadi 411 juta jiwa. Sementara itu, luas wilayah hutan yang terbakar diprediksi berubah dari tingkat “moderate” pada 1,5 derajat menjadi “parah” pada 2 derajat.
Peran Aktivitas Manusia dalam Perubahan Iklim
Riko menegaskan bahwa perubahan iklim tidak terlepas dari aktivitas manusia. “Kalau kita bicara perubahan iklim, ini sebenarnya juga didukung oleh aktivitas manusia, antroposentris. Jadi kegiatan-kegiatan kita, industri dan lain-lain yang melepaskan emisi gas rumah kaca, CO2, metan, SO4 dan sebagainya,” katanya.
Ia menambahkan bahwa aktivitas ekstraktif yang menghasilkan emisi memperparah pemanasan global, sedangkan kegiatan protektif seperti menanam pohon dapat membantu menangkap emisi.
Tantangan untuk Menjaga Batas 1,5 Derajat Celsius
Terbaru, Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) memperingatkan bahwa Bumi akan melampaui ambang batas pemanasan global 1,5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri dalam sepuluh tahun ke depan. Temuan itu disampaikan dalam laporan Emissions Gap 2025 yang dirilis Selasa, 4 November, hanya beberapa hari sebelum KTT iklim COP30 dimulai di Brasil.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa suhu rata-rata global akan melampaui 1,5 derajat Celsius sebelum 2035. Untuk tetap berada di bawah ambang batas tersebut, dunia harus memangkas emisi gas rumah kaca tahunan sebesar 55 persen dari tingkat tahun 2019 pada 2035. Namun, UNEP menilai peluang untuk mencapai target itu sangat kecil mengingat aksi mitigasi yang masih jauh dari cukup.
Kesimpulan
Perbedaan kenaikan suhu global 1,5 derajat dan 2 derajat Celsius memiliki dampak yang sangat berbeda terhadap ekosistem dan kehidupan manusia. Dari segi keanekaragaman hayati hingga risiko ekstrem seperti gelombang panas dan kenaikan permukaan laut, kenaikan suhu yang lebih besar memberikan ancaman yang lebih parah. Oleh karena itu, penting bagi seluruh pihak untuk bekerja sama dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan menjaga lingkungan agar tetap stabil.