
Proyek Kereta Cepat Whoosh Jakarta-Bandung: Dibalik Kebanggaan dan Beban Finansial
Proyek kereta cepat Whoosh Jakarta-Bandung yang berjarak sekitar 142,3 km menjadi salah satu proyek infrastruktur terbesar di Indonesia. Total investasi proyek ini mencapai 7,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp116 triliun. Proyek yang resmi beroperasi sejak 2 Oktober 2023 ini mengalami pembengkakan biaya hingga 1,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp19,54 triliun dari biaya awal yang direncanakan sebesar 6,07 miliar dollar AS.
Pembiayaan proyek Whoosh didominasi oleh pinjaman dari China Development Bank sebesar 75 persen, sementara sisanya berasal dari setoran modal pemegang saham, yaitu PT KCIC yang merupakan gabungan dari PSBI (60 persen) dan Beijing Yawan HSR Co Ltd (40 persen). Namun, utang yang besar ini menjadi beban berat bagi BUMN Indonesia, khususnya PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai pemimpin konsorsium PSBI.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Utang proyek Whoosh dinilai sebagai bom waktu yang membuat PT KAI dan konsorsium BUMN kewalahan menanggung kerugian. Pada semester I-2025, PSBI mencatat kerugian senilai Rp1,625 triliun. Sebagai lead konsorsium, PT KAI menanggung porsi kerugian terbesar, yaitu sebesar Rp951,48 miliar per Juni 2025, jika dibanding tiga BUMN anggota konsorsium PSBI lainnya.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyebut besar utang proyek Whoosh ini bagai bom waktu. Pihaknya akan melakukan koordinasi dengan BPI Danantara untuk menanganinya. “Kami akan koordinasi dengan Danantara untuk masalah KCIC ini, terutama kami dalami juga. Ini bom waktu,” ujar Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Whoosh adalah sistem kereta api berkecepatan tinggi pertama di Indonesia dan Asia Tenggara. Kereta api ini memiliki kecepatan operasional hingga 350 km/h dan memiliki relasi Tegalluar Summarecon—Halim. Jalur kereta ini melintasi empat stasiun utama: Halim (Jakarta), Karawang, Padalarang, dan Tegalluar (Bandung). Dengan kecepatan tersebut, waktu tempuh Jakarta-Bandung sekitar 36-44 menit, sedangkan rute Jakarta-Bandung biasanya memerlukan waktu tempuh sekitar 3-4 jam dengan kendaraan bermotor, tergantung kondisi lalu lintas.
Harga tiket yang dipatok untuk menaiki kereta cepat Whoosh adalah Rp 250.000-Rp 300.000 untuk sekali perjalanan. Kereta cepat Whoosh memiliki tiga kelas, yakni VIP dengan total 18 penumpang, kelas 1 dengan 28 penumpang, dan kelas 2 dengan 555 penumpang.
Awal Mula Proyek Whoosh
Proyek Whoosh digagas sejak era Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2011, dengan Jepang sebagai mitra utama melalui JICA (Japan International Cooperation Agency). Jepang telah melakukan studi kelayakan hingga menggelontorkan biaya sebesar 3,5 juta dollar AS, dan menawarkan pinjaman bunga rendah 0,1 persen dengan tenor 40 tahun, memakai skema Government-to-Government (G2G) dan biaya estimasi 5 hingga 6,2 miliar dollar AS.
Namun, pada 2015, Jokowi yang saat itu menjabat Presiden RI, memilih China sebagai mitra untuk membangun Whoosh. Alasannya, China menawarkan skema Business-to-Business (B2B) tanpa jaminan APBN, berbagi teknologi lebih luas, dan pinjaman sebesar 5 miliar dollar AS tanpa syarat ketat seperti Jepang, meski bunganya lebih tinggi, yakni 2 hingga 3,4 persen. Selain menyebabkan Jepang marah, keputusan Jokowi beralih ke China ini dinilai kontroversial.
Ignasius Jonan yang saat itu menjabat sebagai Menteri Perhubungan RI menyatakan penolakan karena menganggapnya tidak menguntungkan, tapi akhirnya dipecat. Whoosh ditetapkan sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2016.
Bandingkan dengan Kereta Cepat Arab Saudi
Arab Saudi kini sedang menggarap bakal proyek kereta api (KA) berkecepatan tinggi dengan rel jauh lebih panjang dibanding Whoosh di Indonesia. Nilai proyeknya lebih murah dari Whoosh. Rel kereta cepat sepanjang 1.500 kilometer (km) bakal menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Arab. Anggaran dana yang disediakan mencapai 7 miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 112 triliun.
Kereta cepat tersebut diberi nama Land Bridge. Land Bridge bakal beroperasi dengan rute Jeddah ke Dammam melalui Riyadh. Proyek ini dikerjakan oleh konsorsium Saudi–Tiongkok, melibatkan Saudi Arabia Railways, China Civil Engineering Construction Company (CCECC), dan Al-Ayuni Contracting dari pihak lokal. Sejumlah perusahaan internasional juga ikut berperan, seperti Systra (Prancis), Thales, WSP, Hill International (AS), Italferr (Italia), dan Sener (Spanyol).
Dikutip dari Daleel, dengan adanya teknologi moda transportasi ini, perjalanan dari Riyadh ke Jeddah diperkirakan hanya membutuhkan waktu 4 jam. Hal ini mempersingkat perjalanan Riyadh ke Jeddah yang bisa mencapai 12 jam jika menggunakan mobil. Proyek kereta cepat di Arab Saudi termasuk landasan dari Visi Saudi 2030 yang dirancang untuk menghubungkan pusat-pusat populasi besar dan mengubah negara ini menjadi pusat transportasi global.
Bagian dari Visi Saudi 2030
Berdasarkan Visi Saudi 2030, pembangunan rel kereta api bakal diperpanjang dari 5.300 km menjadi 8.000 km. Proyek ini menempatkan Kerajaan Arab Saudi sebagai pusat logistik bagi Teluk dan dunia Arab yang lebih luas. Tak hanya rel yang panjang, perusahaan Kereta Api Saudi juga bakal membangun stasiun kereta barang dan penumpang yang menghubungkan Pelabuhan Raja Abdullah dengan pusat-pusat industri lainnya seperti Yanbu.
Sebagai bagian dari peningkatan tersebut, 15 kereta baru yang mampu melaju hingga 200 km/jam telah dipesan. Layanan mewah "Dream of the Desert" turut dibangun dengan membentang sekitar 1.290 km dari Riyadh ke Qurayyat. Perjalanan ini menawarkan pemandangan yang indah melintasi beragam lanskap. Rencana tersebut juga mencakup kereta bertenaga hidrogen untuk mendukung transportasi yang lebih bersih.