
aiotrade,
JAKARTA — Tahun 2025 menjadi tahun yang mencatatkan rekor baru dalam dunia peretasan aset kripto. Para pelaku kejahatan siber berhasil mencuri dana dalam jumlah besar, yaitu lebih dari US$2,7 miliar atau setara dengan Rp45,28 triliun dalam bentuk cryptocurrency. Dugaan kuat mengarah pada kelompok peretas yang diduga berasal dari pemerintah Korea Utara.
Berdasarkan laporan dari perusahaan pemantau blockchain, para peretas menargetkan berbagai bursa kripto dan proyek DeFi. Mereka berhasil mencuri dana dalam jumlah yang sangat besar, salah satunya adalah peretasan terhadap bursa kripto Bybit yang berbasis di Dubai. Pada peristiwa ini, sekitar US$1,4 miliar atau sekitar Rp23 triliun berhasil dicuri oleh para pelaku.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Peristiwa ini menarik perhatian banyak pihak, termasuk FBI dan perusahaan analisis blockchain. Mereka menghubungkan peretasan ini dengan kelompok peretas yang diduga berasal dari pemerintah Korea Utara. Kelompok ini telah lama dikenal sebagai salah satu yang paling produktif dalam melakukan peretasan dan pencurian kripto.
Sebelum peretasan Bybit, pencurian kripto terbesar terjadi pada tahun 2022, yaitu saat Jaringan Ronin dan Jaringan Poly masing-masing merugi sebesar US$624 juta atau Rp10,42 triliun dan US$611 juta atau Rp10,20 triliun. Namun, pencurian yang terjadi pada tahun 2025 jauh melampaui angka-angka tersebut, dengan total kerugian yang mencapai US$2,7 miliar atau Rp45,28 triliun.
Angka ini tidak hanya mencakup peretasan besar-besaran, tetapi juga pencurian dari dompet pribadi. Diperkirakan sekitar US$700.000 atau Rp11,69 miliar berhasil dicuri dari dompet individu. Perusahaan keamanan web3 seperti De.Fi, yang melacak kejadian-kejadian peretasan ini, menyebutkan bahwa jumlah total kripto yang dicuri pada tahun 2025 memang mencapai US$2,7 miliar atau Rp45,28 triliun.
Pemerintah Korea Utara kembali muncul sebagai aktor utama dalam pencurian ini. Estimasi menyebutkan bahwa negara tersebut telah mencuri lebih dari US$6 miliar atau Rp100,2 triliun sejak 2017 untuk mendanai program senjata nuklir mereka. Program ini selama ini mendapat sanksi internasional.
Selain peretasan Bybit, ada beberapa kejadian penting lainnya pada tahun 2025. Misalnya, peretasan terhadap bursa terdesentralisasi Cetus yang menghasilkan US$223 juta atau Rp3,7 miliar bagi para pelaku. Selain itu, peretasan pada protokol Balancer menyebabkan kerugian hingga US$128 juta atau Rp2,14 triliun, serta peretasan pada bursa Phemex yang merugikan sekitar US$73 juta atau Rp1,22 triliun.
Keamanan di dunia kripto tampaknya terus menghadapi ancaman besar. Tahun 2024 mencatatkan kerugian sebesar US$2,2 miliar atau Rp36,74 triliun, sedangkan tahun 2023 mencapai US$2 miliar atau Rp33,4 triliun. Angka pada tahun 2025 menjadi rekor tertinggi dalam sejarah peretasan kripto.