aiotrade.CO.ID - JAKARTA.
Sebagian besar emiten di sektor otomotif dan komponen masih mencatatkan performa yang relatif moderat. Hal ini terlihat dari kinerja pendapatan emiten yang umumnya hanya tumbuh satu digit, sementara beberapa emiten lainnya justru mengalami penurunan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut laporan keuangan per September 2025, beberapa emiten seperti PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS), PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM), dan PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) berhasil mencatatkan kenaikan pendapatan satu digit. Sebaliknya, emiten raksasa otomotif seperti PT Astra International Tbk (ASII) mengalami penurunan pendapatan. Begitu pula dengan PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) dan PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) yang juga mencatatkan penurunan.
Hanya BOLT yang mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan double digit sepanjang periode Januari hingga September 2025.
Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand menjelaskan bahwa kinerja emiten otomotif dan komponen pada kuartal III-2025 cenderung moderat karena tekanan dari sisi makroekonomi dan permintaan domestik yang masih lemah. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penurunan penjualan mobil wholesales sebesar 11,3% year to date hingga September 2025, yang menandakan bahwa pasar otomotif belum sepenuhnya pulih.
Daya beli masyarakat masih tertahan akibat tingginya suku bunga Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), sehingga pembelian mobil secara kredit menjadi lebih mahal dan menekan permintaan kendaraan baru. Selain itu, ASII sebagai pemain terbesar di sektor ini juga terdampak oleh anjloknya harga komoditas global, yang menekan kontribusi laba dari segmen non-otomotif seperti alat berat dan pertambangan.
Di sisi komponen, meskipun beberapa emiten seperti AUTO, SMSM, dan DRMA menunjukkan resiliensi, pertumbuhannya tetap terbatas pada kisaran satu digit. Hal ini disebabkan oleh kontraksi pasar Original Equipment Manufacturer (OEM) yang membuat permintaan komponen baru menurun. Namun, segmen aftermarket—seperti yang digarap SMSM dan AUTO—masih menjadi penyelamat karena permintaan suku cadang pengganti tetap stabil.
"Jadi, walaupun tidak sepenuhnya tertekan, kinerja sektor ini masih tertahan oleh kombinasi lemahnya permintaan akhir, biaya kredit tinggi, dan tekanan margin akibat kenaikan harga bahan baku," kata Abida kepada aiotrade, Kamis (6/11/2025).
Abida menilai prospek emiten otomotif hingga akhir 2025 masih moderat karena pemulihan permintaan belum akan terjadi secara penuh sebelum transmisi penurunan suku bunga KKB benar-benar terasa. Kuartal IV 2025 kemungkinan akan ditopang oleh faktor musiman seperti promo akhir tahun dan pameran otomotif, namun dampaknya terbatas karena efek suku bunga tinggi belum hilang.
Secara umum, sektor ini masih menghadapi risiko daya beli yang lemah, meski potensi rebound ada jika bank mulai menurunkan bunga kredit secara konsisten dan tidak hanya melalui promo. Memasuki 2026, prospek menjadi lebih positif dengan dua katalis utama yaitu penurunan suku bunga KKB yang lebih luas dan transisi ke kendaraan listrik (EV) melalui kebijakan lokalisasi komponen.
Emiten komponen seperti AUTO dan DRMA diperkirakan menjadi penerima manfaat utama karena mereka paling siap memasok komponen untuk kendaraan listrik lokal. Dus, investor disarankan untuk fokus pada saham sektor komponen yang memiliki adaptabilitas tinggi terhadap transisi EV, serta mempertahankan posisi di ASII melalui strategi buy on weakness mengingat valuasinya masih undervalued dan memiliki diversifikasi bisnis yang kuat.
Berikut hasil kinerja keuangan emiten otomotif per kuartal III-2025:
-
PT Astra International Tbk (ASII)
PT Astra International Tbk (ASII) mencatat penurunan kinerja per kuartal III-2025. Pendapatan emiten otomotif ini turun tipis 1,10% secara tahunan (yoy) dari Rp 246,32 triliun menjadi Rp 243,60 triliun per September 2025. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih ASII hingga September 2025 tercatat Rp 30,11 triliun, turun 5,02% yoy dari Rp 32,41 triliun setahun sebelumnya. -
PT Astra Otoparts Tbk (AUTO)
Hingga bulan September 2025, AUTO meraup pendapatan Rp 14,80 triliun atau meningkat 4,51% yoy dibandingkan raihan Rp 14,16 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sedangkan laba bersih AUTO naik 2,63% (yoy) dari Rp 1,52 triliun menjadi Rp 1,56 triliun. -
PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS)
Emiten otomotif Grup Salim, PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) mencatatkan pertumbuhan kinerja apik sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih IMAS naik tajam 216,06% yoy menjadi Rp 257,60 miliar per kuartal III-2025, dari periode yang sama sebelumnya Rp 81,50 miliar. IMAS meraih pendapatan bersih sebesar Rp 22,72 triliun, naik 4,62% yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 21,72 triliun. -
PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR)
Emiten pembuatan dan distribusi ban, GDYR melaporkan kinerja pendapatan sebesar US$ 120,17 juta per kuartal III-2025, turun 7,6% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 130,18 juta. Terkoreksinya pendapatan pun menggerus kinerja laba bersih. Tercatat, bottom line perusahaan anjlok 37,48% yoy dari US$ 5,34 juta menjadi US$ 3,34 juta per September 2025. -
PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL)
Emiten produsen ban, GJTL membukukan penurunan pendapatan 2,38% yoy dari Rp 13,44 triliun menjadi Rp 13,12 triliun per kuartal III-2025. Turunnya pendapatan ini sejalan dengan kondisi laba bersih yang turun 20,11% menjadi Rp 789,69 miliar per September 2025 dari sebelumnya Rp 988,55 miliar. -
PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM)
Emiten komponen otomotif, SMSM melaporkan kinerja pendapatan sebesar Rp 3,91 triliun per kuartal III-2025, naik 2,64% yoy dari sebelumnya Rp 3,81 triliun. Sejalan dengan kinerja top line, laba bersih perusahaan juga meningkat 13,50% yoy menjadi Rp 819,58 miliar hingga September 2025, dari sebelumnya Rp 722,07 miliar. -
PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA)
Sepanjang sembilan bulan pertama 2025, penjualan DRMA naik 9,20% yoy dari Rp 4,02 triliun menjadi Rp 4,39 triliun. Sementara laba bersih DRMA tumbuh 1,89% yoy dari Rp 412,07 miliar menjadi Rp 419,87 miliar. -
PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT)
BOLT juga berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja yang solid, bahkan mencapai level dua digit. Penjualan BOLT naik 13,55% yoy dari Rp 1,10 triliun menjadi Rp 1,25 triliun sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025. Sedangkan laba bersih BOLT melonjak 63,09% (yoy) dari Rp 66,07 miliar menjadi Rp 107,75 miliar.