Perhatikan Rekomendasi Saham Perusahaan Properti Industri yang Menarik Diperhatikan

admin.aiotrade 09 Okt 2025 3 menit 11x dilihat
Perhatikan Rekomendasi Saham Perusahaan Properti Industri yang Menarik Diperhatikan

aiotrade.app.CO.ID - JAKARTA.

Kinerja perusahaan-perusahaan kawasan industri di kuartal IV-2025 terlihat semakin prospektif. Salah satu faktor yang memberikan sentimen positif adalah investasi dalam ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/ EV). Hal ini menjadi dorongan utama bagi sejumlah pengembang kawasan industri untuk memperluas aktivitas bisnis mereka.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Salah satu contohnya adalah PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), yang mengalami pertumbuhan pesat berkat pengembangan kawasan di Subang Smarpolitan. Kehadiran jalan tol Subang-Patimban dan pelabuhan Patimban telah membuka peluang baru bagi para tenant untuk menempatkan usaha mereka di area tersebut.

Analis dari Bahana Sekuritas Indonesia, Arvin Lienardi, menyebutkan bahwa kinerja SSIA juga didorong oleh pembukaan pabrik BYD di kawasan industri Subang. Selain itu, masuknya investasi dari Grup Djarum senilai Rp 3 triliun serta kepemilikan saham sebesar 6,05% oleh Grup Barito melalui PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turut memberi dampak positif pada kinerja emiten ini.

“Kehadiran BYD di area tersebut membuktikan reputasi kuat SSIA,” ujarnya dalam riset tertanggal 6 Oktober 2025.

Saham SSIA naik sebesar 1,96% dalam sebulan terakhir dan melesat hingga 54,65% sejak awal tahun alias year to date (YTD).

Menurut analis Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, kenaikan saham SSIA secara YTD disebabkan oleh dua sentimen kuat. Pertama, masuknya BYD ke Subang Smartpolitan, dan kedua, ekspektasi sinergi proyek energi hijau dari Grup Barito di kawasan tersebut.

“Market menilai SSIA punya katalis konkret dan visibilitas pendapatan yang kuat untuk 2026 ke depan,” ujarnya kepada aiotrade.app, Rabu (8/10).

Sayangnya, saham perusahaan kawasan industri lainnya seperti PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) dan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) terpantau turun. DMAS turun 0,74% dalam sebulan dan 9,40% YTD. Sementara KIJA turun 7,07% dalam sebulan dan 1,08% YTD.

Perbedaan performa ini disebabkan oleh pipeline penjualan lahan baru yang belum seagresif SSIA. Selain itu, faktor valuasi yang sudah lebih tinggi sebelumnya juga turut memengaruhi.

“Jadi perbedaan performa ini bukan sekadar hype, tapi juga soal narrative clarity. SSIA punya cerita besar yang sedang ‘on progress’,” ungkapnya.

Wafi melihat prospek emiten kawasan industri masih positif di semester II 2025 dan tahun 2026. Momentum reindustrialization dan Foreign Direct Investment (FDI) dari Asia Timur, khususnya di bidang EV, solar, dan data center, menjadi faktor pendorong utama.

SSIA dinilai sebagai yang terbaik di antara rekan-rekannya karena lahan Subang semakin diminati oleh tenant otomotif dan energi baru. DMAS masih diuntungkan oleh basis kuat di Bekasi dan Karawang, meski kecepatan pendapatan prapenjualan mungkin melambat di semester II.

Sementara, KIJA membutuhkan waktu untuk pemulihan, tetapi katalis bisa datang dari pengembangan kawasan Kendal Industrial Park dan potensi tenant baru berbasis logistik.

“Jadi rotasi jawara masih bisa terjadi, tapi SSIA tetap kandidat utama sampai pipeline BYD dan Barito benar-benar terealisasi,” paparnya.

Wafi merekomendasikan hold untuk SSIA dengan target harga Rp 1.950 per saham. Rekomendasi trading buy diberikan untuk DMAS dan KIJA dengan target harga masing-masing Rp 140 per saham dan Rp 220 per saham.

Arvin menuturkan, pendapatan hotel bisa bertumbuh hingga double digit SSIA hingga 129% YoY di tahun 2026, berkontribusi sekitar 15% pada tahun depan. Sementara, segmen konstruksi berkontribusi 51% ke pendapatan SSIA pada tahun 2026-2027.

“Kerjasama dengan Grup Barito ditandai dengan kontrak senilai Rp 50 miliar dengan anak usaha SSIA, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) untuk membangun infrastruktur di Griya Idola Patimban Industrial Park,” katanya.

Arvin pun merekomendasikan beli untuk SSIA dengan target harga Rp 2.500 per saham.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, melihat, pergerakan saham KIJA ada di level support Rp 179 per saham dan resistance Rp 186 per saham. Namun, Herditya masih merekomendasikan wait and see untuk KIJA.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan