Perhatikan Rekomendasi Saham TOBA yang Buyback 825 Juta Lembar

admin.aiotrade 28 Des 2025 4 menit 18x dilihat
Perhatikan Rekomendasi Saham TOBA yang Buyback 825 Juta Lembar


PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) memiliki rencana untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback dengan jumlah maksimal sebanyak 825.740.293 saham. Angka ini mencerminkan 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perusahaan. Rencana tersebut diumumkan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 24 Desember 2025.

Perkiraan jadwal buyback akan berlangsung mulai dari 25 Desember 2025 hingga 24 Maret 2026, yaitu selama tiga bulan. Tujuan utama dari aksi korporasi ini adalah untuk menjaga kepercayaan investor terhadap TOBA, memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan struktur permodalan, meningkatkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang, serta menjaga stabilitas harga saham di tengah kondisi pasar yang tidak stabil.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Biaya pelaksanaan buyback berasal dari saldo kas internal perusahaan. TOBA menegaskan bahwa dana tersebut tidak akan memengaruhi kemampuan keuangan perusahaan secara signifikan dalam memenuhi kewajiban yang akan jatuh tempo. Dengan asumsi seluruh buyback terlaksana sepenuhnya, total dana yang diperlukan sebesar Rp 586.275.608.030 atau setara US$ 34.918.142 dengan asumsi kurs Rp 16.790 per dolar AS. Dana tersebut sudah termasuk biaya transaksi, biaya pedagang perantara, dan biaya lainnya.

Harga saham yang digunakan dalam perhitungan buyback adalah Rp 710 per saham, sesuai dengan penutupan perdagangan pada 23 Desember 2025.

Reaksi Pasar dan Analisis

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menyebut rencana buyback senilai Rp586,27 miliar sebagai salah satu aksi korporasi paling agresif di sektor energi pada akhir 2025 hingga awal 2026. Target pembelian kembali hingga 10% saham beredar dianggap mampu memberikan dukungan struktural terhadap harga saham TOBA. Dengan jumlah saham beredar yang berkurang, potensi earning per share (EPS) bagi investor tetap bertahan dapat meningkat.

Selain itu, buyback juga menjadi indikasi kepercayaan diri manajemen bahwa valuasi saham TOBA saat ini belum mencerminkan nilai fundamental dan arah transformasi bisnis perseroan. Bagi investor jangka menengah-panjang, buyback bisa menjadi confidence booster, terutama di tengah fase transisi TOBA dari bisnis berbasis batu bara menuju energi bersih dan pengelolaan lingkungan.

Namun, reaksi pasar terhadap buyback tidak berdiri sendiri. Prospek saham TOBA pasca-buyback masih sangat bergantung pada narasi fundamental tahun 2026. Secara kinerja, 2025 menjadi tahun yang berat bagi TOBA akibat divestasi aset fosil dan penurunan kontribusi batu bara. Hal ini tercermin dari tekanan laba bahkan rugi bersih.

Pendapatan konsolidasi TOBA tercatat sebesar US$ 288,2 juta sepanjang sembilan bulan pertama 2025, turun 14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. TOBA juga mengalami rugi bersih US$ 127,37 juta per September 2025, berbanding terbalik dari laba bersih US$ 34,83 juta per September 2024. Meski terlihat negatif secara jangka pendek, kondisi ini dianggap sebagai biaya transisi menuju model bisnis yang lebih berkelanjutan.

Potensi Kinerja di Tahun 2026

Pada 2026, kinerja TOBA berpotensi lebih baik dibanding 2025. Ini seiring mulai berjalannya kontribusi penuh dari segmen pengelolaan limbah dan solusi lingkungan, serta stabilisasi struktur keuangan pasca refinancing melalui penerbitan obligasi Rp 500 miliar. Kombinasi buyback dan penataan liabilitas dinilai memberi ruang bagi TOBA untuk menata ulang neraca dan arus kas secara lebih sehat.

Sentimen positif kinerja TOBA pada tahun depan didorong oleh tren global yang semakin mendukung bisnis hijau dan ekonomi sirkular. Hal ini berpotensi membuka akses pendanaan lebih murah dan memperluas basis investor institusi. Selain itu, berkurangnya ketergantungan pada PLTU dan aset fosil membuat risiko kebijakan lingkungan ke depan relatif lebih terkendali.

Namun, sentimen negatif tetap perlu dicermati, khususnya terkait tekanan kas akibat buyback yang besar, ketidakpastian waktu monetisasi bisnis hijau, serta kontribusi batu bara yang semakin mengecil di tengah volatilitas harga komoditas.

Analisis Teknikal dan Rekomendasi

Dari perspektif teknikal, saham TOBA saat ini masih berada dalam fase downtrend, bahkan telah breakdown MA200, yang menandakan tekanan jual belum sepenuhnya mereda. Dalam jangka pendek, saham ini masih berpotensi melanjutkan koreksi untuk menguji area support psikologis di level Rp 640 – Rp 670 per saham, sebelum membentuk dasar harga yang lebih solid.

Hendra berpandangan, area ini menjadi krusial, karena kegagalan bertahan di support dapat memperpanjang fase konsolidasi. Sementara itu, resistance kuat berada di kisaran Rp 800 per saham yang baru akan relevan jika ada katalis kuat, baik dari realisasi buyback yang agresif maupun sinyal perbaikan kinerja fundamental.

Alhasil, rekomendasi speculative buy atau buy on weakness disematkan Hendra untuk TOBA dengan target harga Rp 780 – Rp 820 per saham. Ini dengan catatan level support di Rp 640 – Rp 670 per saham mampu bertahan dan buyback terealisasi optimal.

Buyback menjadi floor value, sementara keberhasilan transformasi bisnis akan menjadi upside driver.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan