Peringatan Hari Ayah: Kekosongan Ayah Ancam Perkembangan Emosional Anak

admin.aiotrade 12 Nov 2025 3 menit 16x dilihat
Peringatan Hari Ayah: Kekosongan Ayah Ancam Perkembangan Emosional Anak


jogja.aiotrade
, YOGYAKARTA - Tanggal 12 November diperingati sebagai Hari Ayah. Google Doodle hari ini turut memuat tema peringatan Hari Ayah di Indonesia. Hari Ayah bukan sekadar peringatan, tetapi menegaskan pentingnya kehadiran sosok bapak bagi tumbuh kembang anak.

Fenomena fatherless atau ketidakhadiran sosok ayah, baik secara fisik maupun emosional, akhir-akhir ini menjadi perbincangan publik karena ternyata bisa berdampak buruk bagi perkembangan psikologis dan emosional anak. Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Rahmat Hidayat mengungkapkan bahwa sekitar 15,9 juta anak di Indonesia berpotensi tumbuh tanpa peran ayah yang memadai.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Dari jumlah tersebut, 4,4 juta anak tidak tinggal bersama ayah, sementara 11,5 juta anak lainnya tinggal bersama ayah yang bekerja lebih dari 60 jam per minggu atau lebih dari 12 jam per hari, yang berarti ayah hadir secara fisik, tetapi rentan absen secara emosional.

Menurut Rahmat, peran ayah sangat penting dalam membentuk kepercayaan diri, nilai moral, dan kecerdasan emosi seorang anak. Ketidakhadiran figur ayah, khususnya secara emosional, dapat memengaruhi pembentukan rasa percaya diri hingga kesulitan dalam membentuk identitas diri anak.

“Banyak keluarga masa sekarang yang mengalami ketidakhadiran ayah karena faktor pekerjaan yang menuntut mobilitas tinggi. Namun, kehadiran ayah tetap dibutuhkan untuk mendukung perkembangan emosional dan sosial anak,” kata dia pada kamis (16/10).

Peran Ayah dalam Tiga Proses Pembelajaran Anak

Rahmat menjelaskan terdapat tiga proses pembelajaran utama yang membutuhkan peran aktif ayah sebagai role model. Pertama, pembelajaran observasional. Anak belajar melalui pengamatan perilaku orang lain sejak usia dini. Ketidakhadiran ayah secara emosional menyebabkan anak kehilangan model perilaku utama dalam pengendalian diri, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Kedua, pembelajaran behavioral. Proses ini dijalankan melalui pembiasaan dan penguatan perilaku (mekanisme reward and punishment). Sosok ayah berperan sebagai otoritas dalam mengatur batasan, memberikan penghargaan saat anak berperilaku baik dan koreksi saat anak melanggar.

Ketiga, pembelajaran kognitif. Pembelajaran ini fokus pada interaksi verbal, seperti percakapan dan nasihat, yang membentuk nilai moral dan cara berpikir. Ayah berperan sebagai pengarah berpikir, penalaran, hingga nilai-nilai yang membantu anak memahami dunia sosial.

"Ketiganya membutuhkan figur yang komplit. Tidak adanya sosok ayah jelas menghilangkan satu model peran yang memperkaya proses belajar anak sehingga tumbuh kembangnya bisa jadi tidak komplit," ujar Rahmat.

Meskipun peran ayah dapat digantikan secara terbatas oleh figur lain seperti ibu, guru, atau keluarga besar, Rahmat menekankan perlunya intervensi sistematis dari pemerintah. Pemerintah diminta berperan aktif dalam mengatasi fenomena fatherless melalui edukasi pendidikan pranikah yang lebih sistemik dan intensif.

Program ini harus memastikan calon pasangan benar-benar memahami nilai, tanggung jawab, dan peran yang akan diemban sebelum membangun keluarga, tidak sekadar formalitas administratif. Rahmat juga menyoroti perlunya pemerataan lapangan pekerjaan di daerah-daerah luar Jawa. Ia menilai tingginya kasus fatherless tidak bisa disalahkan sepenuhnya pada individu.

Tekanan ekonomi dan kesempatan kerja yang timpang memaksa ayah memiliki mobilitas tinggi, yang pada akhirnya mengurangi interaksi emosional dengan anak.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan