
Pertumbuhan Pasar Mobil Listrik di Indonesia
Persaingan di pasar mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) kian memanas seiring dengan lonjakan penjualan dan masuknya sejumlah pemain baru. Data yang dirilis oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menunjukkan bahwa penjualan mobil listrik murni pada periode Januari hingga September 2025 mencapai 55.225 unit, naik tajam dari 43.188 unit pada tahun 2024.
Sekretaris Umum GAIKINDO, Kukuh Kumara, menyatakan bahwa pangsa pasar BEV saat ini telah mencapai sekitar 9,8 persen hingga 10 persen dari total penjualan mobil nasional. Ia mengatakan, “Sekarang pangsa pasar mobil listrik antara 9,8 % sampai 10 %. Mungkin bisa tembus 10 % di bulan ini.” Menurutnya, pertumbuhan ini menandai fase penting dalam transisi industri otomotif nasional menuju elektrifikasi.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Namun, ia juga mengingatkan bahwa keberlanjutan kebijakan dan kesiapan infrastruktur masih menjadi tantangan utama agar momentum tersebut tidak melambat setelah 2025.
Perkembangan Penjualan Berdasarkan Merek
Dari sisi merek, BYD masih menjadi pemain dominan di pasar BEV Indonesia dengan penjualan sebesar 20.077 unit selama sembilan bulan pertama 2025. Beberapa model unggulan seperti M6, Sealion 7, Atto 3, Seal, Dolphin, dan Atto 1 menjadi pendorong utama performa penjualan. Pabrikan asal Tiongkok ini juga tengah mempercepat pembangunan pabrik di Subang, Jawa Barat, yang diperkirakan rampung pada akhir 2025 sebagai bagian dari komitmen lokalisasi produksi.
Posisi kedua ditempati Wuling Motors dengan penjualan sebesar 8.345 unit. Kinerja ini ditopang oleh model Air EV, Binguo EV, dan Cloud EV yang semuanya sudah dirakit lokal di pabrik Wuling Cikarang. Denza, submerek premium milik Grup BYD, menempati posisi ketiga dengan penjualan 6.775 unit, seluruhnya berasal dari model D9. Di bawahnya, Chery menorehkan 6.170 unit melalui model Chery J6 dan E5.
Sementara itu, Aion mencatat penjualan sebesar 4.405 unit, disusul VinFast asal Vietnam dengan 2.841 unit, Geely 1.876 unit, Hyundai 1.164 unit, Morris Garage (MG) 1.123 unit, dan Neta 487 unit.
Munculnya Merek Baru di Pasar
GAIKINDO mencatat bahwa lonjakan penjualan BEV juga ditopang oleh munculnya merek-merek baru di pasar nasional sepanjang 2025. Beberapa di antaranya yakni VinFast dari Vietnam, Polytron EV milik Grup Djarum, dan Maxus di bawah naungan Grup Indomobil. Kukuh menegaskan, “Semakin banyak model dan merek yang hadir, pasar akan semakin dinamis. Tapi kita juga perlu memastikan ekosistemnya siap, terutama dalam hal infrastruktur pengisian dan kebijakan purna jual.”
Kebijakan Pemerintah dan Produksi Lokal
Pemerintah sebelumnya menegaskan akan mengakhiri fasilitas impor utuh (completely built up/CBU) untuk mobil listrik pada 31 Desember 2025, sesuai dengan Peraturan Menteri Investasi Nomor 6/2023 juncto Nomor 1/2024. Mulai 1 Januari 2026 hingga 31 Desember 2027, setiap produsen wajib melunasi komitmen produksi lokal (skema 1:1) sesuai peta jalan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Komponen lokal tersebut mencakup spesifikasi daya motor listrik dan kapasitas baterai yang setara dengan model CBU sebelumnya.
Jika kewajiban tersebut tidak dipenuhi, pemerintah berhak mencairkan bank garansi yang telah diserahkan sebagai bentuk jaminan atas komitmen investasi. Kukuh menilai, berakhirnya insentif CBU ini akan menjadi uji ketahanan bagi pabrikan EV di Indonesia. “Insentif memang mendorong penetrasi pasar, tapi setelah 2025 industri harus siap dengan basis produksi lokal yang kuat,” ujarnya.
Tantangan Pasca-Garansi
Selain isu insentif, GAIKINDO juga menyoroti aspek after sales dan keberlanjutan baterai. Sekretaris Umum GAIKINDO, Kukuh Kumara menjelaskan, garansi baterai mobil listrik umumnya berlaku selama delapan tahun, namun pengelolaan limbah dan daur ulang setelah masa garansi masih menjadi tantangan bagi industri. “Memang sudah ada inisiatif recycling, tapi sistemnya masih dalam tahap awal. Industri perlu memikirkan keberlanjutan baterai pasca-garansi agar konsumen tetap merasa aman,” ujar Kukuh.
Dengan laju pertumbuhan hampir 30% secara tahunan, GAIKINDO memperkirakan pangsa pasar BEV nasional akan stabil di kisaran 10% hingga akhir 2025, sebelum memasuki fase transisi ke produksi lokal pada 2026. “Kalau infrastruktur dan regulasi bisa berjalan seiring, kami optimistis industri kendaraan listrik bisa tumbuh lebih sehat dan berkelanjutan,” pungkas Kukuh.
Daftar Penjualan Mobil Listrik Berbasis BEV
- Total penjualan: 55.225 unit
- BYD: 20.077 unit
- Wuling: 8.345 unit
- Denza: 6.775 unit
- Chery: 6.170 unit
- Aion: 4.405 unit
- VinFast: 2.841 unit
- Geely: 1.876 unit
- Hyundai: 1.164 unit
- Morris Garage (MG): 1.123 unit
- Neta: 487 unit