
Persaingan di bawah mistar Timnas Wanita Indonesia kini semakin ketat. Banyak nama baru muncul, termasuk pemain-pemain yang berkompetisi di luar negeri—sementara para kiper berpengalaman tetap menunjukkan kemampuannya. Kondisi ini membuat persaingan untuk mendapatkan satu tempat di skuad Garuda Pertiwi semakin sengit. Hal ini juga dirasakan langsung oleh kiper muda, Gadhiza Asnanza.
Dalam wawancaranya, Gadhiza mengungkapkan pandangan tentang persaingan tersebut. Ia juga berbicara tentang dampak kehadiran pemain diaspora terhadap penjaga gawang seperti dirinya.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Persaingan yang Sehat
Gadhiza menyadari bahwa saat ini ada banyak kiper berkualitas yang bersaing untuk posisi utama di tim nasional. Ia mengatakan bahwa kompetisi ini memang nyata, namun tidak pernah berkembang menjadi hal yang tidak produktif.
“Ya, persaingan pasti ada, tapi kita tetap bekerja keras bersama. Yang penting sehat, jangan sampai saling merusak atau mencelakai teman satu tim. Jadi saling support dan saling membantu,” ujar Gadhiza.
Di sisi lain, Gadhiza memberikan reaksi positif terhadap kehadiran kiper diaspora, Iris de Rouw. Iris, yang baru dinaturalisasi pada tahun 2025, langsung mendapat tempat utama. Ia menjadi kiper utama saat Indonesia menjalani kualifikasi Piala Asia Wanita 2026 bulan Juni lalu.
Menurut Gadhiza, kehadiran Iris membawa banyak hal positif, baik dalam latihan maupun suasana ruang ganti.
“Kak Iris itu orangnya lucu, suka ngelawak saat sesi latihan. Saat latihan juga kita serius, kadang kita ikuti dan lihat bagaimana dia bermain. Wah, bagus banget dia,” kata Gadhiza.

Selain itu, Gadhiza menyebut Iris sebagai role model dalam aspek teknis yang sangat dibutuhkan oleh kiper modern.
“Yang paling menonjol dari Kak Iris adalah build up, di kaki dan bola-bola atasnya. Build up sih yang paling aku suka, dia suka langsung ke depan, langsung memberi ke striker atau winger. Jadi itu yang ingin aku perbaiki dari dia,” tambahnya.
Tidak hanya itu, kehadiran Iris juga menjadi motivasi bagi kiper muda seperti Gadhiza. “Jadi kita termotivasi untuk bisa seperti dia, mengikuti cara dia berlatih,” ujar pemain berusia 18 tahun itu.