
Proyeksi Kinerja PT PERTAMINA Geothermal Energy Tbk. (PGEO) pada Tahun 2026
PT PERTAMINA Geothermal Energy Tbk. (PGEO atau PGE) telah memproyeksikan peningkatan produksi sebesar 2,5 persen menjadi 5.103 GWh pada tahun 2026, dibandingkan dengan produksi tahun ini yang mencapai 4.978 GWh. Selain itu, perusahaan juga menargetkan pendapatan sekitar US$ 450 juta atau setara dengan Rp 7,5 triliun, yang berasal dari gabungan produksi own operation dan JOC (Joint Operating Company).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Corporate Secretary Pertamina Geothermal Energy, Kitty Andhora, menyampaikan bahwa perseroan akan menjaga EBITDA margin tetap berada di kisaran 78-80 persen serta net profit margin pada angka 33-35 persen. “Untuk tahun 2026, kinerja perseroan diperkirakan akan mengalami stabilisasi dan peningkatan dibanding tahun sebelumnya,” ujarnya dalam hasil paparan publiknya di Bursa Efek Indonesia.
Di sisi lain, Kitty juga menyebutkan bahwa pada sisa akhir tahun ini, perseroannya menargetkan bisa mengantongi pendapatan antara US$ 424 hingga 426 juta. Dengan demikian, EBITDA margin tetap berada di kisaran 78-80 persen dan net profit margin di kisaran 33-35 persen. “Untuk tahun 2025, outlook produksi diproyeksikan mencapai 4.978 GWh, dengan beroperasinya Lumut Balai Unit 2,” tambahnya.
Kerja Sama dengan Toyota Motor Manufacturing Indonesia untuk Pengembangan Green Hydrogen
Pada bulan September lalu, Pertamina Geothermal Energy dan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menandatangani joint declaration pengembangan ekosistem hidrogen hijau di Indonesia. Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy, Julfi Hadi, menyebut kolaborasi ini sebagai bagian dari upaya mempercepat transisi energi bersih sekaligus mendukung target Net Zero Emission 2060.
Hidrogen hijau yang dihasilkan dari energi panas bumi diproyeksikan mampu mendukung ekosistem kendaraan berbasis hidrogen di masa depan. “Meski aspek keekonomian masih menjadi tantangan, PGE optimistis green hydrogen bisa menjadi solusi energi bersih jika didukung oleh ekosistem dan model bisnis yang tepat,” kata Julfi dalam keterangan tertulis.
Julfi menambahkan bahwa pengembangan green hydrogen merupakan bagian dari strategi beyond electricity yang sedang digarap oleh Pertamina Geothermal Energy dengan memanfaatkan panas bumi. Menurut dia, panas bumi tidak hanya digunakan untuk pembangkit listrik, tetapi juga mendorong lahirnya produk turunan energi bersih yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Strategi Jangka Panjang dan Kontribusi Masyarakat
Dengan fokus pada inovasi dan kolaborasi, Pertamina Geothermal Energy terus berupaya meningkatkan kontribusi terhadap perekonomian nasional dan keberlanjutan lingkungan. Perusahaan tidak hanya berfokus pada produksi listrik, tetapi juga mengembangkan solusi-solusi energi baru yang dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Selain itu, perusahaan juga aktif dalam berbagai inisiatif yang bertujuan untuk memperkuat ekosistem energi bersih di Indonesia. Hal ini dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk industri otomotif seperti Toyota Motor Manufacturing Indonesia.
Dengan proyeksi kinerja yang positif dan strategi pengembangan yang komprehensif, Pertamina Geothermal Energy siap menjadi salah satu pelaku utama dalam transformasi energi di Indonesia. Keberlanjutan dan inovasi menjadi pilar utama dalam langkah-langkah yang diambil oleh perusahaan.
Nandito Putra berkontribusi dalam penulisan artikel ini.