
PT Pertamina (Persero) memiliki rencana besar untuk menggabungkan tiga subholding di sektor hilir migas. Rencana ini bertujuan agar penggabungan atau merger dapat selesai pada 1 Januari 2026. Tiga subholding yang akan digabungkan adalah PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS).
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menyampaikan bahwa rencana merger tersebut sudah mencapai tahap finalisasi. Ia menjelaskan bahwa proses penggabungan ini akan dilaporkan ke Badan Pengelola Investasi Danantara. Tujuan dari pelaporan ini adalah untuk memperoleh persetujuan dari pihak terkait.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut catatan Bisnis, rencana penggabungan ketiga anak usaha ini pertama kali disampaikan oleh Simon dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI yang membidangi BUMN di Jakarta, pada 11 September 2025.
Langkah konsolidasi ini tidak lepas dari tantangan global yang dihadapi industri migas. Salah satu tantangan utamanya adalah penurunan harga minyak bumi serta penurunan permintaan minyak dunia, yang berdampak pada kinerja subholding perusahaan. Contohnya, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) mengalami tekanan terhadap margin bisnisnya.
Simon mengungkapkan bahwa margin bisnis kilang semakin menipis karena penurunan permintaan, sementara kapasitas produksi kilang global terus meningkat. Hal ini menyebabkan dampak negatif terhadap bottom line perusahaan.
"Karena margin bisnis yang semakin kecil, secara keseluruhan konsolidasi akan berpengaruh kurang baik terhadap kinerja perusahaan. Oleh karena itu, kami melakukan beberapa kajian untuk menggabungkan antara kilang, PIS, dan PPN," ujar Simon dalam wawancara pada 11 September 2025.
Selain itu, langkah ini juga sebagai upaya penyelarasan strategi bisnis dengan pemegang saham baru, yaitu BPI Danantara. Simon menjelaskan bahwa dulu, Pertamina memiliki struktur yang terbagi antara hulu dan hilir. Namun, saat ini, perusahaan melakukan holdingisasi untuk bergerak lebih hijau.
"Tetapi sebagai organisasi dan institusi yang terus berkembang, kita harus menyesuaikan diri dengan situasi yang ada," kata Simon.
Beberapa alasan lain yang mendorong merger ini adalah efisiensi operasional, pengurangan biaya, dan peningkatan kemampuan kompetitif di pasar global. Dengan menggabungkan tiga subholding tersebut, Pertamina berharap dapat meningkatkan kinerja keuangan dan operasional secara signifikan.
Tahapan selanjutnya yang akan dilakukan adalah penyusunan rencana kerja sama antara ketiga subholding, termasuk pengaturan struktur organisasi, sistem manajemen, dan pembagian tugas. Proses ini akan melibatkan berbagai pihak, seperti manajemen tingkat atas, tim hukum, dan ahli keuangan.
Dalam waktu dekat, Pertamina juga akan melakukan evaluasi terhadap aset dan kewajiban masing-masing subholding untuk memastikan keselarasan dalam penggabungan. Proses ini diperkirakan akan memakan waktu beberapa bulan hingga mencapai titik akhir.
Dengan target penggabungan pada 1 Januari 2026, Pertamina berkomitmen untuk memastikan semua prosedur sesuai dengan regulasi dan standar internasional. Diharapkan, hasil dari merger ini akan memberikan dampak positif bagi kinerja perusahaan dan kesejahteraan para pemangku kepentingan.