
Strategi Pengembangan Energi Terbarukan oleh BREN dan PGEO
PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) menjadi dua perusahaan besar yang mengambil peluang dalam pengembangan energi terbarukan. Keduanya berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dan energi bersih lainnya.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Target Kapasitas Pembangkit Listrik
BREN menargetkan peningkatan kapasitas pembangkit panas bumi menjadi 1,9 gigawatt (GW) pada tahun 2032. Sementara itu, PGEO membidik target kapasitas pembangkit listrik energi bersih sebesar 1,8 GW pada 2033. Kedua perusahaan ini memiliki strategi dan rencana ekspansi jangka panjang untuk mencapai target tersebut.
Rencana Investasi dan Proyek yang Sedang Berjalan
Untuk mencapai target tersebut, BREN merencanakan capital expenditure (capex) sebesar US$250 juta pada tahun 2026, atau sekitar Rp4,17 triliun. Angka ini lebih tinggi dibanding capex 2025 sebesar US$100 juta. Presiden Direktur BREN, Hendra Soetjipto, menjelaskan bahwa dalam jangka pendek, BREN menargetkan kapasitas pembangkit listrik panas bumi menjadi 1 GW pada 2026. Selanjutnya, proyek-proyek geothermal akan memberikan tambahan kapasitas sebesar 900 MW hingga 2030.
Dalam paparannya, BREN menyebutkan skenario terbaik dengan tambahan kapasitas sebesar 525 MW, sehingga pada 2032 kapasitas panas bumi BREN bisa mencapai 2.430 MW. Saat ini, BREN memiliki portofolio pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dan pembangkit listrik tenaga angin (PLTB) dengan kapasitas masing-masing 910 MW dan 79 MW.
Untuk sektor energi angin, BREN menargetkan kapasitas 398 MW pada 2032, dari tambahan masing-masing 220 MW pada 2028 dan 99 MW pada medio 2029–2032. Saat ini, BREN memiliki empat proyek yang sedang berjalan, terdiri dari dua proyek baru dan dua proyek eksisting untuk penambahan kapasitas.
Proyek baru yang sedang dikerjakan adalah Wayang Windu Unit 3 dengan kapasitas 30 MW dan Salak Unit 7 dengan kapasitas 40 MW. Kedua proyek ini ditargetkan selesai pada kuartal IV 2026. Sementara itu, proyek retrofit Wayang Windu Unit 1 dan 2 serta Darajat Unit 3 akan menambah kapasitas sebesar 18,4 MW dan 7 MW masing-masing.
Direktur BREN, Chiam Hsing Chee, menjelaskan bahwa capex tahun depan akan bertambah seiring dengan proyek berjalan yang digarap perusahaan. "Kami merencanakan US$250 juta, lebih tinggi dibanding tahun ini. Ini sejalan dengan aktivitas kami dengan retrofit pada aset-aset kami serta unit 3 dan 7 [Wayang Windu]," ujarnya.
Chiam optimistis progres tersebut akan terefleksi dalam kinerja keuangan BREN tahun depan. Meski begitu, dia enggan menyebut pasti target angkanya. "Kami berekspektasi 2026 akan menjadi tahun yang kuat dalam hal pendapatan dan laba bersih."
Upaya PGE dalam Meningkatkan Kapasitas Pembangkit
Sementara itu, Direktur Utama PGEO, Julfi Hadi, menjelaskan bahwa perseroan terus mendorong pencapaian target kapasitas geothermal terpasang sebesar 1 GW dalam 2-3 tahun ke depan. Ia menegaskan bahwa pencapaian target ini akan menjadi awal dari perjalanan menuju swasembada energi.
Pertengahan tahun ini, PGE mendapat suntikan tenaga baru dari beroperasinya PLTP Lumut Balai Unit 2 dengan kapasitas 55 MW. Dengan tambahan tersebut, PGE kini mengelola kapasitas terpasang sebesar 727 MW dari enam wilayah operasi. "Oleh karena itu, kami terus menatap ke depan untuk mewujudkan target 1,8 GW pada 2033 dan mengembangkan potensi panas bumi hingga 3 GW," ujar Julfi.
Saat ini, PGE tengah menggarap pengembangan proyek Hululais Unit 1 dan 2 dengan kapasitas 110 MW, proyek-proyek co-generation dengan total kapasitas 230 MW, serta kegiatan eksplorasi di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Tiga yang telah diresmikan oleh Presiden Prabowo pada Juni lalu.
Julfi menjelaskan bahwa upaya PGE untuk menggenjot kapasitas pembangkit listrik bersih tidak semata untuk pertumbuhan bisnis perusahaan saja, namun sebagai bentuk komitmen PGE untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pemanfaatan energi panas bumi yang bersih dan berkelanjutan.
Kinerja Keuangan dan Proyeksi Tahun 2026
Direktur Keuangan PGEO, Yurizki Rio, menjelaskan bahwa beroperasinya PLTP Lumut Balai Unit 2 pertengahan tahun ini berkontribusi besar atas capaian perseroan membukukan pertumbuhan pendapatan 4,19% year on year (YoY) menjadi US$318,86 juta sepanjang kuartal III/2025. Realisasi tersebut bahkan melampaui target sebelumnya sebesar US$314,30 juta.
Untuk tahun 2026, manajemen PGEO memperkirakan kinerja perseroan akan stabil dan meningkat dibanding tahun sebelumnya. Produksi diproyeksikan naik sekitar 2,5% menjadi 5.103 GWh, dengan potensi pendapatan sekitar US$450 juta (gabungan produksi own operation dan JOC). Perseroan akan menjaga EBITDA margin tetap di kisaran 78%–80% dan net profit margin pada 33%–35%.