
Target Investasi untuk Pertumbuhan Ekonomi 8% pada 2029
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani, menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan penyerapan investasi sebesar Rp 13.032 triliun dalam lima tahun ke depan agar dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% pada 2029. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan total investasi yang masuk selama satu dekade terakhir, yaitu sekitar Rp 9.117 triliun.
"Jika dalam 10 tahun terakhir dari 2014 sampai 2024 investasi yang masuk adalah kurang lebih Rp 9.100 triliun (Rp 9.117 triliun). Lima tahun ke depan dari 2025 sampai 2029 (ditargetkan) mencapai lebih dari Rp 13.032 triliun. Itu investasi yang diharapkan masuk dalam rangka kita bisa mencapai pertumbuhan 8% di tahun 2029," ujarnya dalam Investor Daily Summit 2025 di Jakarta.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurutnya, investasi masih menjadi pendorong utama ekspansi ekonomi nasional. Sepanjang 2014-2024, total investasi domestik dan asing terus tumbuh stabil meskipun dihadapkan pada tekanan global.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi pada Januari-Juni 2025 telah mencapai Rp 942,9 triliun atau 49,5% dari target tahun ini sebesar Rp 1.905,6 triliun. Sementara untuk kuartal III 2025, realisasi investasi diperkirakan mencapai Rp 1.400 triliun atau 74% dari target tahunan.
Lebih lanjut, Rosan menekankan bahwa percepatan penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat akan sangat bergantung pada keberhasilan Indonesia menarik lebih banyak investor.
“Banyak sekali sebetulnya opportunity yang ada di kita, yang selama ini mungkin hanya menjadi kesempatan tanpa ada implementasi yang kuat,” ujarnya.
Sektor Energi Terbarukan sebagai Frontier Investasi
Ia menyebut sektor energi terbarukan sebagai salah satu frontier investasi yang sangat menjanjikan, namun belum dimanfaatkan optimal. Indonesia sendiri telah berkomitmen mencapai target emisi nol bersih pada 2060 atau lebih cepat, sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto.
Selain sektor energi bersih, dirinya juga menyoroti sejumlah kesepakatan perdagangan seperti Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa (IEU CEPA) dan Kanada (ICA CEPA) juga diharapkan memperkuat arus investasi asing ke sektor manufaktur dan infrastruktur digital.
Tantangan yang Dihadapi Sektor Industri Nasional
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menyoroti masih banyaknya tantangan yang dihadapi sektor industri nasional, baik dari faktor eksternal maupun domestik. Dari sisi eksternal, ia menyebut ketidakpastian global masih membayangi pelaku usaha di tanah air.
“Saya rasa tantangan itu masih banyak, terutama dengan kondisi ketidakpastian yang ada secara global. Jadi kalau dari segi global ini memang masih masalah tarif Trump, kemudian juga geopolitik, konflik Ukraina-Rusia maupun Timur Tengah, maupun Palestina dan Israel. Ini semua masih tentu saja berimbas juga kepada Indonesia,” kata Shinta.
Shinta menilai ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif Trump telah menciptakan ketidakpastian bagi arus modal dan perdagangan global. Dampaknya, pelaku industri di Indonesia harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan ekspansi maupun investasi.
Selain itu, penutupan sementara pemerintah AS atau government shutdown turut menghambat proses negosiasi tarif yang masih berjalan antara Indonesia dan AS.
Ia menyebut beberapa komoditas seperti produk tekstil, karet, dan kopi menjadi fokus utama negosiasi. Namun, proses perundingan tertunda akibat dampak politik dan fiskal di AS. Sementara itu, dari sisi domestik, daya beli masyarakat masih menjadi isu utama.
Menurut dia, industri padat karya menjadi sektor yang paling sensitif terhadap penurunan daya beli. Oleh karena itu, dunia usaha harus berhati-hati menavigasi situasi ekonomi yang tidak sepenuhnya stabil.