
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Tengah yang Menggembirakan
Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah berhasil mencapai angka 9,89 persen pada tahun 2024. Meskipun angka ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup pesat, tidak semua pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) merasakan manfaatnya secara langsung. Dari lebih dari 700 ribu UMKM yang tercatat di wilayah ini, sebagian besar masih berdiri sendiri dengan modal yang minim dan akses pasar yang terbatas.
Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, acara Business Matching PABETA 2025 diadakan sebagai wadah untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan industri modern, perbankan, retail, hotel, hingga regulator. Acara ini diselenggarakan oleh Inkubator PABETA di Tanaris Coffee, Jl Juanda, Kelurahan Lolu Utara, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, pada hari Sabtu (6/12/2025).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Ketua Pelaksana PABETA, Irfan, menjelaskan bahwa program inkubasi tahun ini diikuti oleh 150 pendaftar dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah. Setelah melalui seleksi administrasi, uji produk, dan wawancara, hanya 25 UMKM yang dinyatakan siap naik kelas. Mereka telah melewati berbagai pelatihan teknis, coaching clinic, pendampingan lapangan, hingga kelas public speaking yang profesional.
“Hari ini menjadi momentum penting untuk menguji kesiapan mereka langsung di hadapan calon mitra,” ujar Irfan.
Peran Pemerintah dalam Menyokong UMKM
Sekretaris Provinsi Sulteng, Novalina, menegaskan bahwa struktur ekonomi daerah masih timpang karena UMKM belum terhubung ke rantai nilai industri. “Industri pengolahan merupakan penyumbang terbesar PDRB, tetapi UMKM belum masuk dalam arus nilai tersebut,” katanya.
Ia menekankan bahwa pemerintah harus memastikan UMKM mendapatkan akses pasar yang lebih besar dan berkelanjutan. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi dapat lebih merata dan berdampak positif bagi seluruh masyarakat.
Perspektif OJK: UMKM Harus Masuk Ekosistem Keuangan Modern
Kepala OJK Sulteng, Bonny Hardi Putra, menyampaikan bahwa tiga masalah utama yang dihadapi UMKM adalah rendahnya literasi keuangan, terbatasnya pembiayaan, dan kesiapan digital yang belum merata. “UMKM harus terkoneksi ke ekosistem keuangan modern mulai dari pencatatan digital hingga transaksi cashless,” tegasnya.
Menurutnya, PABETA menjadi contoh kolaborasi konkret antara pelaku usaha, lembaga keuangan, dan regulator. Dengan demikian, UMKM dapat lebih mudah mengakses sumber daya dan peluang bisnis yang lebih luas.
Kemitraan Bukan Lagi Pilihan, Tapi Kebutuhan
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sulteng, Sisliandy Ponulele, menegaskan bahwa Business Matching bukan hanya sekadar pertemuan bisnis, tetapi juga mekanisme strategis untuk memperkuat struktur usaha. “UMKM tak bisa lagi berjalan sendiri. Mereka harus masuk jaringan distribusi modern dan memenuhi standar industri,” ujarnya.
Ia berharap kemitraan yang terbentuk hari ini mencakup pembiayaan, kurasi produk, distribusi ke hotel/restoran, hingga kerja sama jangka panjang. Dengan begitu, UMKM dapat berkembang lebih cepat dan stabil.
Deretan Mitra Besar Hadir dalam Acara
Business Matching PABETA 2025 menghadirkan banyak mitra strategis. Beberapa di antaranya adalah:
- BSI, BNI, Bank Sulteng
- Alfamidi, Alfamart, Grand Hero, Bumi Nyiur, Palu Mitra Utama
- Hotel Santika, Aston, Best Western, RM Doda
- OJK, Balai POM
- PHRI dan instansi perindustrian
Setiap UMKM melakukan pitching produk, menjelaskan keunggulan, sekaligus membuka peluang kerja sama dengan calon pembeli industri.
Peluang Baru bagi UMKM Sulteng
Koordinator PABETA, Mardiyah, menegaskan bahwa pendampingan tidak berhenti pada acara hari ini. PABETA akan menyiapkan program lanjutan untuk membantu UMKM menindaklanjuti kemitraan. Mulai dari perbaikan standar produk, sertifikasi, penguatan laporan keuangan, hingga integrasi digital.
“Tujuan kami bukan hanya menampilkan UMKM, tapi memastikan mereka benar-benar masuk pasar modern dan bertahan di dalamnya,” ucapnya.
Menuju Ekonomi Sulteng yang Lebih Inklusif
Pemerintah Provinsi Sulteng, OJK, dan PABETA berharap Business Matching 2025 menjadi pijakan penting untuk mendorong UMKM masuk ke rantai pasok industri modern. Dalam beberapa tahun ke depan, diharapkan semakin banyak produk lokal Sulteng tampil di rak retail nasional, tersaji di hotel dan restoran, serta mampu bersaing di pasar luar daerah.