Perundingan Iran-AS Gagal, JD Vance Sebut Hambatan Utama

Perundingan Iran-AS Gagal, JD Vance Sebut Hambatan Utama
Perundingan Iran-AS Gagal, JD Vance Sebut Hambatan Utama

Kegagalan Perundingan AS dan Iran, Penyebab dan Pernyataan dari Kedua Pihak

Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, menyampaikan bahwa kegagalan kesepakatan antara AS dan Iran disebabkan oleh beberapa hambatan dalam negosiasi. Perundingan damai yang dilakukan keduanya tidak berhasil mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Vance menuduh bahwa Iran tidak mau menerima syarat-syarat yang ditawarkan oleh AS. Ia menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan Iran, namun belum mencapai kesepakatan. Menurutnya, ini adalah kabar buruk bagi Iran, jauh lebih buruk daripada bagi AS.

"Kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan Iran, itu kabar baiknya. Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Dan menurut saya ini adalah kabar buruk bagi Iran, jauh lebih buruk daripada bagi AS," ujar Vance dalam konferensi pers, Minggu (12/04).

Ia juga mengatakan bahwa AS datang ke perundingan dengan sikap fleksibel dan "itikad baik", tetapi sangat disayangkan kedua pihak tidak mencapai kesepakatan. Vance menjelaskan bahwa pihaknya meninggalkan tempat ini dengan sebuah proposal yang sangat sederhana, sebuah pemahaman bahwa ini adalah penawaran terakhir dan terbaik dari mereka. Mereka akan melihat apakah pihak Iran akan menerimanya.

Selain itu, Vance menyebutkan bahwa Presiden AS, Donald Trump, terlibat langsung dalam pembicaraan tersebut. Ia mengaku telah berbicara dengan presiden sekitar belasan kali selama 21 jam proses negosiasi berlangsung.

Menurut Vance, tujuan utama dari Donald Trump adalah menghentikan Iran memiliki senjata nuklir, baik sekarang maupun di masa depan. Ia juga memberikan apresiasi kepada Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif dan pejabat militer, Asim Munir. Ia menegaskan bahwa apa pun kekurangan dalam negosiasi, itu bukan karena pihak Pakistan, yang telah bekerja dengan luar biasa.

Di sisi lain, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai diskusi yang "intens". Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan negosiasi bergantung pada "keseriusan dan itikad baik dari pihak lawan".

Baqaei juga menyerukan kepada Washington untuk menahan diri dari "tuntutan yang berlebihan dan permintaan yang melanggar hukum". Selain itu, ia menegaskan agar AS menerima "hak dan kepentingan sah" Iran.

Beberapa topik yang menjadi pembahasan antara AS dan Iran antara lain adalah Selat Hormuz, program nuklir Iran, dan "pengakhiran total perang di Iran".

Sebelumnya, delegasi Amerika Serikat dan Iran telah tiba di Islamabad menjelang perundingan damai kedua negara, pada Sabtu (11/04). JD Vance tiba dengan disambut beberapa pejabat Pakistan, termasuk Menteri Luar Negeri Mohammad Ishaq Dar.

JD Vance bakal menghadiri perundingan bersama utusan khusus Steve Witkoff serta menantu sekaligus penasihat Presiden Donald Trump, Jared Kushner. Sementara itu, stasiun televisi pemerintah Iran menyebutkan bahwa delegasi Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf.

Dia didampingi oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi; Sekretaris Dewan Pertahanan, Ali Akbar Ahmadian; Gubernur Bank Sentral, Abdolnaser Hemmati; serta sejumlah anggota parlemen Iran.

Trump mengatakan AS telah menerima proposal 10 butir dari Iran yang ia sebut sebagai "dasar yang dapat dijalankan untuk bernegosiasi". Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga menyebutkan adanya proposal 15 butir.

Serangan Israel terhadap sekutu Iran di Lebanon, kelompok Hizbullah, dapat menggagalkan perundingan bahkan sebelum negosiasi dimulai. "Kelanjutan tindakan-tindakan ini akan membuat perundingan menjadi tanpa makna," tulis Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, di X.

"Jari-jari kami tetap berada di pelatuk. Iran tidak akan pernah meninggalkan saudara-saudari Lebanon kami," sambungnya.