Perundingan Iran-AS Gagal, Trump Ancam Tutup Selat Hormuz

Perundingan Iran-AS Gagal, Trump Ancam Tutup Selat Hormuz

Kegagalan Perundingan AS-Iran dan Ancaman Blokade Selat Hormuz

Perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad, Pakistan, akhirnya gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lebih dari enam pekan. Pertemuan ini, yang berlangsung selama 21 jam, menjadi pertemuan langsung pertama antara kedua negara dalam lebih dari satu dekade. Meskipun sejumlah poin telah disepakati, isu utama seperti nuklir dan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz masih menjadi penghalang utama.

Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa perundingan berjalan baik dan sebagian besar poin telah disetujui. Namun, ia menekankan bahwa isu nuklir tetap menjadi titik terpenting yang belum terselesaikan. Dalam unggahan panjangnya di Truth Social, Trump menjelaskan bahwa pada suatu titik kesepakatan mengenai kebebasan pelayaran akan tercapai, tetapi Iran tidak memungkinkan hal itu terjadi hanya dengan mengatakan, Mungkin ada ranjau di suatu tempat, yang tidak diketahui siapa pun selain mereka.

Trump juga menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk mencari dan mencegat setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar biaya kepada Iran. Ia menambahkan bahwa Angkatan Laut AS akan mulai menghancurkan ranjau yang dipasang Iran di selat tersebut. Menurutnya, tidak ada pihak yang membayar biaya ilegal yang akan mendapat jalur aman di laut lepas. Selain itu, ia menegaskan bahwa setiap pihak Iran yang menembaki AS atau kapal sipil akan dihancurkan.

Blokade di Selat Hormuz disebut akan segera dimulai, meski hingga saat ini belum ada tindakan konkret yang dilakukan oleh AS. Trump menyatakan bahwa kesepakatan tidak sepenuhnya diperlukan bagi dirinya karena ia merasa sudah menang dalam perundingan tersebut.

Penyebab Kegagalan Perundingan

Kegagalan perundingan ini mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang masih rapuh. Dalam konferensi pers singkatnya, Wakil Presiden AS JD Vance tidak menyinggung pembukaan kembali Selat Hormuz. Ia mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan Presiden Trump hingga belasan kali selama perundingan berlangsung. Namun, Trump pada Sabtu menyatakan bahwa kesepakatan tidak sepenuhnya diperlukan.

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyalahkan AS atas kegagalan negosiasi. Menurutnya, AS gagal membangun kepercayaan Iran meskipun pihaknya telah menawarkan inisiatif yang berorientasi ke depan. Ia menegaskan bahwa AS telah memahami logika dan prinsip Iran, dan kini saatnya mereka memutuskan apakah dapat memperoleh kepercayaan dari Iran atau tidak.

Di sisi lain, media Iran melaporkan bahwa sebenarnya ada kesepakatan dalam beberapa isu, namun Selat Hormuz dan program nuklir Iran menjadi titik perbedaan utama. Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, menyebut tuntutan AS yang berlebihan sebagai penghambat tercapainya kesepakatan.

Nasib Selat Hormuz dan Perspektif Masa Depan

Selat Hormuz tetap menjadi pusat perhatian dalam perundingan. Iran menuntut kendali atas selat tersebut, pembayaran reparasi perang, serta gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk Lebanon. Selain itu, Iran juga ingin memungut biaya transit bagi kapal yang melintasi selat tersebut.

Meski terdapat perbedaan dalam perundingan di Islamabad, data pelayaran menunjukkan tiga kapal tanker raksasa bermuatan penuh minyak berhasil melintasi Selat Hormuz pada Sabtu. Kapal diduga menjadi kapal pertama yang keluar dari Teluk sejak kesepakatan gencatan senjata.

Namun, ratusan kapal tanker masih tertahan di kawasan Teluk, menunggu kesempatan keluar selama periode gencatan senjata dua pekan. Tujuan yang disampaikan Trump mengalami pergeseran, namun secara minimal ia menginginkan kebebasan pelayaran global di Selat Hormuz serta pelemahan program pengayaan nuklir Iran agar tidak mampu memproduksi bom atom.

Iran selama ini membantah memiliki ambisi untuk mengembangkan senjata nuklir. Namun, AS tetap bersikeras bahwa komitmen Iran untuk tidak membangun senjata nuklir harus menjadi prioritas utama dalam setiap kesepakatan.

Konflik di Lebanon dan Pengaruhnya

Di tengah perundingan, sekutu AS, Israel, tetap melanjutkan serangan terhadap militan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon. Israel menegaskan bahwa konflik tersebut tidak termasuk dalam gencatan senjata AS-Iran. Sementara itu, Iran menuntut agar pertempuran di Lebanon dihentikan.

Militer Israel menyatakan telah menyerang peluncur roket Hizbullah hingga Minggu dini hari. Asap hitam terlihat membumbung di wilayah selatan Beirut. Di wilayah perbatasan Israel, sirene peringatan serangan udara berbunyi, menandakan adanya roket yang ditembakkan dari Lebanon.

Pertemuan di Islamabad menunjukkan bahwa hubungan antara AS dan Iran masih sangat tegang. Meski ada upaya diplomasi, masalah utama seperti nuklir dan kontrol Selat Hormuz tetap menjadi penghalang utama. Kegagalan perundingan ini bisa memicu eskalasi konflik yang berpotensi merusak stabilitas regional.