Perusahaan besar berinvestasi di EBT, mulai dari BlackRock hingga Google

admin.aiotrade 31 Des 2025 3 menit 12x dilihat
Perusahaan besar berinvestasi di EBT, mulai dari BlackRock hingga Google


aiotrade, JAKARTA — Tahun 2025 menjadi momen penting dalam perjalanan investasi korporasi besar di sektor energi terbarukan. Berbagai perusahaan global, mulai dari raksasa teknologi hingga manajer aset besar, semakin agresif menanamkan modal guna mengamankan pasokan energi bersih dan mendukung target dekarbonisasi jangka panjang.

Salah satu contoh paling menonjol adalah Alphabet Inc., induk usaha Google. Perusahaan teknologi ini telah menyepakati kerja sama pasokan listrik tenaga surya di Malaysia untuk memenuhi kebutuhan energi operasionalnya yang terus meningkat. Menurut laporan, Google akan membeli listrik dari pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 30 megawatt (MW) di Kedah, Malaysia, yang dikembangkan oleh konsorsium pimpinan Shizen Energy Inc., unit lokal. Proyek ini direncanakan mulai beroperasi pada 2027 dan menjadi bagian dari strategi nasional Malaysia dalam menyediakan energi hijau bagi korporasi global.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kesepakatan ini mencerminkan upaya perusahaan teknologi global untuk mendekarbonisasi operasionalnya, terutama pusat data yang sangat intensif penggunaan energi. Namun, sebagian wilayah Asia, tempat Google, Microsoft Corp., dan Amazon.com Inc. memiliki kehadiran besar, masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Oleh karena itu, skema perjanjian jual beli listrik jangka panjang atau power purchase agreement (PPA) kini menjadi instrumen utama bagi perusahaan multinasional untuk mengunci pasokan energi bersih di tengah ketidakpastian regulasi.

Di luar tenaga surya, Google juga memperluas eksposur investasinya ke sektor panas bumi. Perusahaan ini tercatat sebagai salah satu investor dalam penggalangan dana terbaru Fervo Energy, perusahaan rintisan asal Amerika Serikat yang mengembangkan teknologi enhanced geothermal system (EGS). Teknologi ini memungkinkan ekstraksi panas bumi dari batuan panas di kedalaman menggunakan teknik yang diadaptasi dari industri migas. Fervo telah mengoperasikan proyek percontohan komersial di Nevada Utara yang memasok listrik ke pusat data Google, serta tengah membangun fasilitas berkapasitas 500 MW di Utah yang diproyeksikan menjadi proyek EGS terbesar di dunia.

Minat terhadap panas bumi meningkat seiring melonjaknya kebutuhan listrik dari elektrifikasi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Sumber energi yang andal dan bebas karbon menjadi krusial bagi pusat data, sehingga mendorong masuknya investor baru sekaligus keterlibatan perusahaan energi konvensional dalam teknologi panas bumi nonkonvensional.

Gelombang investasi serupa juga terlihat di India. Perusahaan investasi asal Jepang, Sumitomo Corp., berencana menanamkan dana sekitar 200 miliar yen atau setara US$1,3 miliar pada proyek pembangkit energi terbarukan melalui perusahaan patungan dengan AMPIN Energy Transition. Proyek-proyek tersebut ditargetkan mencapai kapasitas total 2 gigawatt (GW) hingga akhir tahun fiskal 2028, seiring melonjaknya permintaan listrik dari sektor industri berskala besar di India. Langkah Sumitomo sejalan dengan kebutuhan India untuk mempercepat pembangunan energi bersih, mengingat sekitar tiga perempat pembangkit listriknya masih bergantung pada bahan bakar fosil.

Pasar PPA korporasi di negara tersebut diproyeksikan tumbuh pesat, didorong oleh kebutuhan perusahaan multinasional untuk memenuhi target emisi mereka. Sementara itu, manajer aset global BlackRock Inc. melalui unit infrastrukturnya turut memperkuat posisinya di sektor energi terbarukan India. Global Infrastructure Partners, yang berada di bawah BlackRock, akan menginvestasikan hingga US$335 juta di Aditya Birla Renewables Ltd., anak usaha Grup Aditya Birla. Investasi ini dilakukan melalui pembelian saham minoritas dan memberikan valuasi perusahaan sekitar 146 miliar rupee, dengan portofolio pembangkit terpasang mencapai 4,3 GW.

Grup Aditya Birla sendiri menargetkan percepatan pembangunan kapasitas energi bersih hingga melampaui 10 GW dalam beberapa tahun ke depan, seiring meningkatnya permintaan listrik, termasuk dari pembangunan pusat data. Langkah ini menempatkan Birla sejajar dengan konglomerat India lain yang berlomba memperluas kapasitas energi hijau guna mendukung target nasional mencapai 500 GW energi terbarukan pada 2030.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan