Pesawat Tempur F-5 Iran Tembus Pertahanan Udara AS, Kerusakan Militer Capai Rp 80 Triliun

Pesawat Tempur F-5 Iran Tembus Pertahanan Udara AS, Kerusakan Militer Capai Rp 80 Triliun


Laporan Baru Memicu Kekhawatiran Soal Efektivitas Pertahanan Udara AS di Timur Tengah

Sebuah laporan terbaru telah menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas sistem pertahanan udara Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah. Dilaporkan bahwa pesawat tempur lawas milik Iran berhasil menembus sistem pertahanan dan menyerang pangkalan militer AS. Insiden ini menjadi perhatian utama, terutama setelah klaim bahwa jet tempur F-5 milik Iran mampu membombardir Camp Buehring di Kuwait, sebuah pangkalan yang dikenal memiliki sistem pertahanan udara yang sangat ketat.

Jika informasi tersebut benar, maka insiden ini bisa menjadi pelanggaran paling signifikan terhadap instalasi militer AS dalam beberapa tahun terakhir. Laporan ini didasarkan pada analisis dari American Enterprise Institute (AEI), serta wawancara dengan sejumlah pejabat AS dan staf Kongres. Temuan ini juga memicu pertanyaan baru mengenai sejauh mana pemerintah AS mengungkap dampak sebenarnya dari serangan balasan Iran.

Iran dilaporkan menyerang lebih dari 100 target di 11 pangkalan militer AS yang tersebar di kawasan Timur Tengah, termasuk di Arab Saudi, Qatar, dan Kuwait. Dua pejabat yang dikutip menyebut insiden F-5 sebagai "pertama kalinya dalam beberapa tahun pesawat tempur musuh berhasil menyerang pangkalan militer Amerika".

Klaim ini bertentangan dengan pernyataan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, yang sebelumnya menegaskan bahwa sistem pertahanan Amerika mampu mencegat hampir semua serangan Iran. Ia bahkan menyatakan, Hampir tidak ada yang bisa mereka lakukan secara militer terhadap kami. Namun, laporan AEI memperkirakan total kerusakan akibat serangan Iran melampaui EUR 3,7 miliar atau sekitar USD 5 miliar (setara lebih dari Rp 80 triliun). Selain kerugian material, Pentagon mencatat 13 personel tewas dan hampir 400 lainnya terluka.

Namun, laporan ini juga menyoroti kemungkinan bahwa angka sebenarnya bisa lebih besar. Beberapa rudal Iran disebut berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan sekutunya, bertolak belakang dengan narasi resmi sebelumnya. Seorang staf Kongres dari Partai Republik bahkan mengungkapkan frustrasi atas minimnya informasi yang dibuka ke publik.

Tidak ada yang tahu apa-apa. Kami sudah berminggu-minggu meminta detail, tapi tidak mendapat jawaban jelas, ujarnya.

Respons Gedung Putih dan Pentagon

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menepis kemungkinan Iran mampu menimbulkan kerusakan besar. Ia bahkan menyebut Iran telah dihancurkan dan menegaskan posisi kuat AS dalam negosiasi damai. Sementara itu, Pentagon menolak memberikan rincian lebih lanjut. Seorang pejabat menyatakan bahwa pihaknya tidak membahas penilaian kerusakan pertempuran demi alasan keamanan operasional, namun menegaskan bahwa pasukan AS tetap siap dan beroperasi penuh.

Kontroversi juga meluas ke isu transparansi data. Laporan menyebut Gedung Putih meminta perusahaan satelit swasta untuk menunda publikasi citra pangkalan militer AS pasca-serangan Iran. Langkah ini dinilai mempersempit akses publik terhadap bukti visual kerusakan. Padahal, citra satelit sebelumnya sempat mengungkap perbandingan kondisi pangkalan sebelum dan sesudah serangan.

F-5: Jet Tua yang Masih Mematikan

Pesawat yang menjadi sorotan dalam laporan ini adalah Northrop F-5, jet tempur ringan buatan Northrop Corporation yang pertama kali dikembangkan pada akhir 1950-an. Varian awal F-5A Freedom Fighter terbang perdana pada 1959, sementara versi lanjutannya, F-5E Tiger II, mulai mengudara pada 1972. Meski tergolong tua, pesawat ini dikenal tangguh, mudah dirawat, dan memiliki biaya operasional rendah, faktor yang membuatnya tetap digunakan oleh sejumlah negara hingga kini.

Di Indonesia sendiri, TNI AU pernah mengoperasikan F-5E/F Tiger II sejak 1980. Secara historis, F-5 juga merupakan pengembangan dari pesawat latih T-38 Talon. Keberhasilan jet generasi lama ini menembus sistem pertahanan modern, jika terbukti akurat, berpotensi menjadi alarm serius bagi militer AS dan sekutunya dalam mengevaluasi ulang strategi pertahanan udara mereka.