
aiotrade, JAKARTA - Harga saham emiten yang tergabung dalam Grup Bakrie kembali menjadi sorotan investor pasar modal sepanjang tahun 2025. Saham-saham milik keluarga asal Lampung ini mengalami lonjakan signifikan hingga ratusan persen secara tahun kalender (ytd).
Sebagai pengingat, Grup Bakrie pernah menjadi salah satu penggerak pasar modal Indonesia pada 2008 sebelum akhirnya terpuruk akibat krisis utang Amerika Serikat yang memengaruhi seluruh pasar modal Tanah Air. Pada masa itu, saham-saham Bakrie sering digunakan sebagai jaminan (repo) untuk membayar ganti rugi korban lumpur Lapindo. Namun, karena tidak mampu menutupi valuasi utangnya, terjadi jual paksa yang menyebabkan harga saham jatuh dalam dan belum pulih seperti posisi di tahun 2008.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pada masa itu, terdapat tujuh saham Bakrie yang diperdagangkan di pasar modal, dikenal oleh investor sebagai seven samurai. Emiten-emiten tersebut antara lain PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), PT Darma Henwa Tbk. (DEWA), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR), PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY), dan PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL).
Setelah 17 tahun berlalu, konglomerasi Bakrie telah menambah beberapa emiten baru di pasar modal, seperti PT Ancara Logistics Indonesia Tbk. (ALII), PT Visi Media Asia Tbk. (VIVA), PT Intermedia Capital Tbk. (MDIA), Bakrie Sumatera Plantations (UNSP), PT Vktr Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR), serta PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk. (JGLE).
Selain BTEL yang sudah delisting, sepanjang tahun kalender (ytd), saham-saham keluarga Bakrie menunjukkan kinerja yang sangat baik dan memberikan capital gain besar kepada para investor.
Performa Saham Keluarga Bakrie
Dalam perdagangan kemarin, saham BUMI melonjak sebesar 16,67%. Sementara itu, secara tahun kalender (ytd), saham emiten batu bara ini memberikan capital gain sebesar 82,11%. Meski demikian, hingga September 2025 kinerja keuangan BUMI mengalami penurunan sebesar 76,1% year on year (yoy). Kinerja harga saham yang mirip juga terlihat dari entitas anak usahanya, BRMS, yang bergerak dalam tambang emas dan mineral.
Emiten tambang yang kini berkongsi dengan Salim Group itu naik 2,55% pada perdagangan kemarin. Meskipun demikian, saham emas ini sudah memberi capital gain 150% jika dihitung secara tahun kalender (ytd).
Perusahaan tambang lain dalam Grup Bakrie, ENRG, juga memberikan kinerja harga saham yang luar biasa. ENRG ditutup pada level Rp910 pada perdagangan kemarin alias naik 0,55% secara harian. Meski demikian, capital gain investor mencapai 276% jika dihitung ytd.
Capita gain besar lainnya sepanjang tahun kalender (ytd) dalam Grup Bakrie disumbang oleh DEWA (264.41%), BNBR (56,25%), serta ELTY (118,18%). Sedangkan emiten yang IPO setelah 2008 yakni ALII sudah memberikan cuan sebesar 81,94%, VIVA (357,14%), UNSP (109,68%), VKTR (228,68%) dan MDIA (218,18%).
Meski memberi cuan puluhan hingga ratusan persen, sebagian emiten Keluarga Bakrie ini masih berada dalam status Full Call Auction (FCA) dan harga sahamnya berada di bawah Rp50 seperti VIVA, MDIA, ELTY, hingga BNBR.
Faktor Pendukung Lonjakan Saham
Lonjakan saham Bakrie sendiri didukung oleh berbagai sentimen seperti aksi korporasi, promosi di indeks bergengsi, hingga momentum lonjakan harga komoditas.
Terbaru, saham BRMS masuk ke dalam daftar MSCI Global Standard Indexes. Hal ini terungkap dalam pengumuman resmi Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 5 November 2025. BRMS masuk bersama dengan emiten panas bumi Prajogo Pangestu, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN).
Saham BUMI tercatat masuk ke dalam tiga indeks bergengsi di dalam negeri. Mengacu pada pengumuman Bursa Efek Indonesia (BEI), saham emiten tambang batu bara kongsi Grup Bakrie dan Grup Salim itu masuk dalam indeks LQ45, IDX80, dan Indeks Bisnis-27. Saham BUMI masuk ketiga indeks tersebut mulai 3 November 2025 sampai 30 Januari 2026.
Adapun, kontribusi likuiditas saham BUMI memberikan bobot sebesar 0,73% pada indeks LQ45, 0,71% pada IDX80, dan 1,14% pada Bisnis-27.
Emiten kongsi Grup Bakrie dan Grup Salim, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) juga menjalin kesepakatan dengan PT Supreme Global Investment untuk mengakuisisi saham perusahaan tambang bauksit di Indonesia. Hal itu tertuang dalam kesepakatan bersama (term sheet) dengan PT Supreme Global Investment (SGI) yang ditandatangani pada 25 September 2025.
Term sheet itu menjadi dasar bagi BUMI untuk mengakuisisi 45% saham PT Laman Mining dari PT Supreme Global Investment. Sebagai informasi, PT Laman Mining merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan bauksit di Indonesia.
“Nilai pembelian saham ditetapkan sebesar US$59,1 juta yang akan dibayarkan dalam dua tahap,” tulisnya dalam laporan keuangan per 30 September 2025, dikutip Kamis (13/11/2025).
Lainnya, BUMI telah mengakuisisi 100% saham Wolfram Limited (WFL), perusahaan tambang emas dan tembaga asal Australia.
Investor asing juga aktif memborong bisnis komoditas kelompok ini. Pada perdagangan pekan lalu aliran masuk atau inflow dana asing masuk dengan deras di tengah momen Rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Periode ini, saham BRMS termasuk yang menjadi incaran meski bukan yang utama. Periode ini, saham BBCA yang jadi idola investor asing.
Selain itu, MSCI juga menunjuk enam saham Indonesia untuk masuk dalam kategori MSCI Small Cap Indexes termasuk milik Grup Bakrie. Mereka adalah PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG), PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF), PT MNC Digital Entertainment Tbk. (MSIN), PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA), dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI).
Analisis Sentimen Pasar
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi mengatakan aliran dana asing mengalir deras ke pasar saham Indonesia dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Di global ekspektasi The Fed mulai longgar di 2026.
Dari domestik, stabilitas rupiah, surplus neraca dagang, serta valuasi saham bank jumbo dan blue chip yang sudah murah relatif ke regional.
"Fund flow sampai akhir tahun kemungkinan masih positif, tapi intensitasnya bisa melambat. Asing masih akan memanfaatkan momentum window dressing dan rebalancing akhir tahun," kata Wafi kepada Bisnis pada awal pekan ini (10/11/2025).
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus juga menjelaskan sejumlah sentimen menjadi pendorong pembelian saham oleh asing di pasar modal Indonesia.
“Kalau kita bicara sentimen, The Fed sudah pangkas tingkat suku bunga kemarin, dan The Fed akan melanjutkan pertemuan pada Desember mendatang. Sejauh ini, ada potensi yang cukup besar bagi The Fed untuk memangkas kembali tingkat suku bunganya,” kata Nico pada beberapa waktu lalu.
Menurutnya, pemangkasan suku bunga Fed tersebut berpotensi terjadi lagi pada akhir tahun nanti. Lalu, katalis selanjutnya menurut Nico adalah pemangkasan tingkat suku bunga BI Rate pada akhir tahun ini. Dia menuturkan hal ini akan membuat pasar menjadi semakin menarik, khususnya sektor-sektor yang memiliki koneksi terhadap penurunan tingkat suku bunga. Katalis ketiga, kata dia, sampai saat ini meskipun pertumbuhan ekonomi kuartal III/2025 turun, tetapi angka tersebut masih di atas 5%.
“Harapannya adalah apa yang diberikan Pak Purbaya, Menteri Keuangan terhadap stimulus, semoga sudah mendapatkan hasil pada kuartal keempat ini,” ujarnya.
Di sisi lain, dengan rebalancing indeks MSCI, cukup banyak saham-saham yang memiliki fundamental baik, memiliki potensi valuasi di masa yang akan datang, yang akan menarik banyak investor asing untuk kembali masuk ke pasar saham Indonesia.
"Jadi kami pikir tentu investor asing perlahan tapi pasti, memperhatikan momentum, memperhatikan fundamental saham, memperhatikan potensi valuasi di masa yang akan datang, mereka akan masuk kembali,” kata dia.