
Nama Muhammad Alfariezie Mulai Menarik Perhatian di Kalangan Pecinta Sastra
Nama Muhammad Alfariezie kini mulai mencuri perhatian di kalangan pencinta sastra, terutama di Bandar Lampung. Penyair muda ini menulis dengan bahasa yang tampak sederhana, namun sarat kedalaman rasa. Karya-karyanya tidak berisik, tidak penuh teriakan, tetapi justru merayakan hening dan kesadaran batin. Salah satu karyanya yang menonjol adalah puisi berjudul “Hujan di Pucuk Bunga Jurang”.
Puisi ini menampilkan lanskap alam yang sunyi: sebuah bunga berduri tumbuh sendirian di tepi jurang, bertemu hujan, kupu-kupu, dan awan berat yang enggan membuka tirainya. Imaji yang dihadirkan bukan sekadar pemandangan, melainkan simbol dari kekuatan bertahan dan kemurnian jiwa yang berada di antara keindahan dan ancaman.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Puisi: Hujan di Pucuk Bunga Jurang
2025
Bunga berduri pinggir jurang
berteman hujan. Warnanya
merah berkaca bening: segar
Kupu-kupu enggak pernah alpa
sampai ke pucuknya hingga
tumbuh melulu pemandangan
pinggir jurang
Siapa yang tak betah berminggu
bertenda walau awan masih berat
membuka tirainya
Gerak lugu bunga pinggir jurang
refleksi nanti yang tidak akan
pernah sedih
Makna Simbolik dari Keberanian Bertahan
Bunga berduri yang tumbuh di pinggir jurang menjadi metafora yang kuat: sesuatu yang rapuh namun tetap hidup, indah tapi berada di zona ancaman, seolah setiap kelopak yang terbuka adalah keputusan untuk bertahan. Di sini, Alfariezie seolah ingin berkata bahwa keindahan sejati tidak selalu lahir di tempat yang aman.
Hujan hadir sebagai peristiwa penyucian. Ia turun tanpa disuruh, membelai bunga yang sendirian. Hujan dalam puisi ini bukan sekadar air, tetapi kesetiaan alam terhadap kehidupan yang tampak rapuh.
Kupu-kupu hadir sebagai simbol keindahan yang tidak pernah absen. Kehadirannya memberi penegasan bahwa kehidupan yang berada di tepi bahaya tetap memiliki saksi dan penghormatan.
Awan berat yang enggan membuka tirainya menggambarkan suasana batin yang sedang menunggu sesuatu, mungkin ketenangan, mungkin kepastian yang tidak pernah benar-benar datang. Namun, aku lirik justru memilih untuk bertahan “berminggu bertenda” di tempat itu, seakan menegaskan bahwa kedalaman makna sering kali ditemukan dalam kesabaran menghadapi ketidakpastian.
Estetika Bahasa dan Lanskap Kontemplatif
Gaya bahasa Alfariezie tidak berlebih. Ia tidak memaksa diksi rumit. Justru dari kesederhanaan kata lahir kedalaman perasaan. Pengulangan kata “pinggir jurang” menjadi jangkar emosi, mengingatkan pembaca bahwa puisi ini berbicara tentang batas: batas antara jatuh dan tumbuh, antara takut dan berani, antara rapuh dan kuat.
Ritme puisi mengalir perlahan, seperti hujan gerimis yang jatuh satu-satu di dedaunan. Ketiadaan tanda baca membuat pembaca membangun jedanya sendiri, menciptakan ruang kontemplasi pribadi.
Nada Kontemplatif yang Menyentuh Sunyi
Nada puisi ini adalah hening. Ada kesedihan yang tidak diratap, ada ketabahan yang tidak disombongkan, dan ada penerimaan yang begitu lembut. Pembaca tidak dipaksa merasakan sesuatu. Pembaca diajak menemani bunga itu, menunggu bersama awan, mendengar kupu-kupu berbisik, dan merasakan hujan menetes pelan-pelan.
Sebuah Kesadaran Eksistensial
Pada akhirnya, puisi ini berbicara tentang bagaimana manusia menemukan diri di tepi batasnya sendiri. Kehidupan sering kali membawa kita ke tempat rapuh. Namun, justru di tepi jurang itulah kita belajar melihat dunia dari sudut paling jujur.
Bunga itu tetap tumbuh. Hujan tetap turun. Kupu-kupu tetap datang. Dan di sana, sesuatu yang sederhana berubah menjadi kekuatan untuk tidak pernah sedih.
Kesimpulan
Muhammad Alfariezie berhasil menghadirkan puisi yang tidak hanya memanjakan imajinasi visual, tetapi juga menggetarkan ruang batin. “Hujan di Pucuk Bunga Jurang” adalah contoh bagaimana kesederhanaan bahasa dapat menyimpan lapisan makna yang dalam. Sebuah puisi yang mengundang pembaca untuk duduk sejenak di tepi, menatap sunyi, dan merasakan bahwa kekuatan sejati kadang tumbuh dari tempat yang paling rapuh.
Sastra muda Indonesia masih terus hidup. Dan dari Bandar Lampung, salah satu suaranya bernama Alfariezie.