
Petani Cabai di Sukamulya Mengalami Kegagalan Panen
Petani cabai di Desa Sukamulya, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka menghadapi tantangan berat akibat gagal panen. Tanaman cabai mereka diserang tikus, yang menyebabkan kerusakan pada bagian ujung buah dan membuatnya mengering serta putih. Selain itu, curah hujan yang tinggi dan cuaca yang tidak menentu juga memengaruhi proses pembuahan tanaman, sehingga banyak bunga yang jatuh sebelum berkembang menjadi buah.
Kondisi ini terjadi di tengah harga cabai yang sedang tinggi di pasaran, namun para petani justru mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah. Mereka merasa pesimistis bahwa tanaman bisa diselamatkan jika serangan tikus terus berlanjut dan obat-obatan tidak mampu mengatasi masalah sistem pembuahan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Edi Candra, salah satu petani yang menanam cabai tanjung seluas 300 bata, dan Yatna, yang menanam seluas 100 bata, kini hanya bisa pasrah karena tanaman mereka rusak akibat gigitan tikus. Buah cabai yang masih kecil terlihat putih dan mengering setelah digigit tikus. Beberapa juga mengalami busuk dan berulat akibat hujan yang terus-menerus.
Bunga cabai yang masih kuncup atau mulai mekar jatuh tanpa menjadi buah. Menurut para petani, hal ini sulit diatasi meskipun menggunakan obat daun atau obat buah seperti gandasil D dan B. Yatna mengatakan, saat berbuah, ujungnya digigit tikus, sehingga perkembangan buah rusak dan harus dibuang karena mengganggu yang lain.
”Waktu berbuah, ujungnya digigit tikus. Jadi perkembangan buahnya juga rusak karena ujungnya kering memutih, sehingga terpaksa dibuang karena mengganggu yang lain,” kata Yatna, yang mengaku rugi puluhan juta rupiah akibat kondisi tersebut.
Sementara itu, Edi Candra mengatakan bahwa para petani di Sukamulya setiap tahun menanam cabai tanjung dan rawit. Namun, baru kali ini mereka mengalami kerugian besar karena gagal panen.
”Tiap tahun kami di sini bertani cabai. Setiap hari di depan rumah penduduk bertumpuk karung berisi cabai. Tinggal nanti ditimbang dan diambil bandar. Sekarang mah boro-boro, cabainya habis oleh tikus. Di saat harga mahal, kami tidak bisa menikmatinya,” kata Edi.
Dasep, bandar cabai di Sukamulya, mengatakan bahwa harga cabai di pasaran sedang melambung. Saat ini, harga cabai tanjung di tingkat petani dijual seharga Rp 25.000 per kilogram hingga Rp 40.000 per kilogram, tergantung kondisi cabai.
Untuk harga cabai di tingkat bakulan, katanya, juga masih tinggi. Cabai hijau masih Rp 12.000 per kilogram. Kalau cabai merah kualitas super bisa mencapai Rp 40.000 per kilogram. Namun, sekarang ini untuk cabai super sulit diperoleh karena banyak petani yang gagal panen,” kata Dasep.
Para petani cabai yang mengalami gagal panen kini akan mengganti tanaman cabainya dengan paria untuk mengurangi kerugian yang lebih besar. Pasalnya, dari bertani paria, jarang yang mengalami gagal panen. Selain itu, harganya tetap stabil.