
Pergerakan Harga Bitcoin dan Emas yang Mengkhawatirkan
Bitcoin mengalami penurunan harga dalam beberapa hari terakhir, meskipun sebelumnya sempat mencapai rekor tertinggi. Sementara itu, harga emas justru mengalami kenaikan signifikan. Hal ini menimbulkan perhatian dari berbagai pihak, termasuk ekonom ternama Peter Schiff yang menganggap kondisi ini sebagai tanda awal kejatuhan dominasi Bitcoin.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Schiff menyatakan bahwa pasar kripto akan segera mengalami "rug pull" oleh emas. Istilah ini sering digunakan dalam dunia kripto untuk menggambarkan penarikan dana besar-besaran yang memicu penurunan harga secara drastis. Menurutnya, emas sedang menuju target harga USD 4.000 per ons, yang merupakan kenaikan hampir 50% dari posisi saat ini di sekitar USD 2.700.
Ia yakin, jika target tersebut tercapai, modal besar dari Wall Street akan beralih dari kripto ke emas karena dianggap lebih aman dan memiliki nilai nyata. “Optimisme terhadap kripto di kalangan investor institusional sudah sulit dibenarkan. Lonjakan emas bisa jadi pukulan keras bagi pasar digital,” tulis Schiff.
Harga Bitcoin turun ke USD 122.000 (sekitar Rp 2,02 miliar) setelah sebelumnya menyentuh USD 126.000 (sekitar Rp 2,09 miliar). Sementara itu, kapitalisasi pasar kripto global merosot menjadi USD 4,13 triliun (sekitar Rp 68.558 triliun). Beberapa aset besar seperti Ethereum, XRP, dan Solana juga ikut turun antara 5–6%, sementara BNB menjadi satu-satunya koin yang masih menguat.
Namun tidak semua analis sepakat dengan pandangan pesimistis Schiff. Deutsche Bank dalam riset terbarunya menilai bahwa emas dan Bitcoin dapat hidup berdampingan sebagai aset cadangan masa depan. Laporan bank asal Jerman itu memprediksi bahwa bank sentral di berbagai negara bisa mulai menempatkan emas dan Bitcoin dalam neraca mereka pada 2030, sebagai bagian dari strategi menghadapi pelemahan dolar AS dan meningkatnya risiko geopolitik global.
“Bitcoin telah menunjukkan daya tahannya sebagai aset cadangan modern, sementara emas tetap menjadi penyimpan nilai tradisional,” tulis Deutsche Bank dalam catatan risetnya.
Pandangan Investor yang Terpecah
Pandangan di kalangan investor kini terbagi dua. Sebagian, seperti Paul Tudor Jones, masih percaya reli Bitcoin belum selesai dan melihat koreksi saat ini sebagai jeda wajar di tengah tren bullish. Namun kelompok lain sepakat dengan Schiff, memandang fase ini sebagai awal rotasi modal menuju aset aman seperti emas.
Di sisi lain, ketidakpastian akibat shutdown pemerintahan Amerika Serikat ikut memperbesar volatilitas di pasar aset berisiko, termasuk kripto. Meski begitu, sebagian analis melihat penurunan ini lebih disebabkan oleh aksi ambil untung jangka pendek, bukan tanda awal dari pembalikan tren besar.
Kini pasar dihadapkan pada dua skenario. Rotasi ke emas yang bisa menekan harga kripto, atau kenaikan simultan di kedua aset jika ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed semakin kuat. Dengan situasi yang terus berubah, para investor harus tetap waspada dan siap menghadapi berbagai kemungkinan.