
Pemerintah Indonesia tengah merancang kebijakan impor sapi perah yang menimbulkan kekhawatiran dari berbagai pihak, terutama dari Gabungan Koperasi Sapi Indonesia (GKSI). Meskipun rencana ini dianggap sebagai langkah untuk meningkatkan produksi susu nasional, banyak pihak melihatnya sebagai ancaman bagi peternak rakyat.
Lahan yang Disiapkan untuk Sapi Impor
Kementerian Pertanian telah menyiapkan lahan seluas 1,7 juta hektare di 3.346 titik lokasi untuk pengembangan sapi perah dan pedaging impor. Namun, Ketua Umum GKSI Jawa Timur, Nur Kayin, menyatakan bahwa sebagian besar lahan tersebut berada di luar Pulau Jawa dan berada di dataran rendah.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Sapi perah idealnya dikembangkan di dataran tinggi. Bisa saja dipelihara di dataran rendah, tapi biaya produksinya akan sangat tinggi," ujarnya saat berbicara di Jakarta Selatan, Senin (15/12).
Masalah Biaya dan Modal Besar
Selain masalah lokasi, Kayin juga mengkritik kesiapan peternak rakyat dalam menghadapi penambahan populasi sapi perah impor. Menurutnya, peternak harus mengeluarkan modal besar untuk membangun kandang.
"Contohnya, saya sendiri harus menghabiskan sekitar Rp 1 miliar untuk membuat kandang yang bisa menampung 40 ekor sapi perah impor," katanya.
Karena itu, ia meminta pemerintah untuk membantu persiapan kandang agar peternak tidak terbebani. Kayin khawatir penambahan populasi sapi perah hanya akan menambah beban bagi peternak rakyat.
Produktivitas yang Rendah
Menurut Kayin, produktivitas sapi perah impor saat ini hanya sekitar 10 hingga 15 liter per hari per ekor. Hal ini dinilai akan menyebabkan kerugian bagi peternak rakyat jika jumlah sapi perah ditingkatkan.
Ia menyarankan pemerintah lebih fokus pada peningkatan produktivitas sapi perah lokal dibandingkan menambah populasi. Saat ini, produktivitas sapi perah lokal masih rendah, yaitu sekitar 12 liter per hari per ekor, jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 20 liter per hari per ekor.
Perlu Intervensi dalam Pengadaan Pakan
Kayin juga menyoroti pentingnya intervensi pemerintah dalam pengadaan pakan. Ia menilai peternak sapi perah butuh lebih banyak jagung subsidi untuk meningkatkan produktivitas.
Badan Pangan Nasional telah menganggarkan Rp 78 miliar untuk menyalurkan jagung Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan ke peternak sejumlah 52.500 ton pada paruh kedua tahun ini. Namun, menurut Kayin, anggaran tersebut belum cukup.
"Peternak sapi perah hanya menikmati 20% dari volume produksi pakan sapi domestik, sedangkan sisanya diekspor," katanya.
Investasi di Bidang Peternakan
Kementerian Pertanian berencana mengajukan beberapa investasi di bidang peternakan sebagai proyek strategis nasional (PSN). Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan investasi sapi ternak di dalam negeri.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Agung Suganda menjelaskan bahwa status PSN dapat memicu pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan dan pelabuhan di wilayah proyek investasi.
Agung menghitung bahwa 1,7 juta hektare lahan yang disiapkan untuk sapi impor dapat menampung tambahan populasi sapi ternak hingga 2,2 juta ekor. Target impor sapi perah hingga 2029 adalah 1,2 juta ekor, sedangkan sapi potong impor sekitar 1 juta ekor.
Importasi ini merupakan tahap awal dari realisasi sekitar 200 komitmen investasi yang telah diterima pemerintah.