PGAS andalkan proyek strategis 2026, ini rekomendasinya

admin.aiotrade 10 Des 2025 3 menit 17x dilihat
PGAS andalkan proyek strategis 2026, ini rekomendasinya


PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) atau PGAS, yang merupakan subholding gas dari Pertamina, menunjukkan kinerja yang tidak seimbang antara pendapatan dan laba pada periode Januari–September 2025. Meskipun pendapatan meningkat, laba bersih mengalami penurunan. Namun, efisiensi operasional serta percepatan proyek strategis diharapkan menjadi pendorong utama agar prospek fundamental PGAS tetap stabil hingga tahun 2026.

Berdasarkan laporan keuangan, PGAS mencatat pendapatan sebesar US$ 2,92 miliar selama sembilan bulan pertama tahun ini, naik 3,78% dibandingkan US$ 2,82 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Sayangnya, beban pokok pendapatan juga meningkat sebesar 8,59% YoY menjadi US$ 2,42 miliar. Akibatnya, laba bersih PGAS turun 9,68% dari US$ 263,38 juta menjadi US$ 237,89 juta.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut Nafan Aji Gusta, Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas, PGAS perlu terus melakukan optimalisasi dan peningkatan efisiensi di berbagai lini operasi untuk menjaga konsistensi laba bersih. "Di masa depan, diharapkan laba bersih PGAS bisa sustain, bahkan tumbuh," ujarnya kepada aiotrade, Rabu (10/12/2025).

Selain itu, Nafan melihat bahwa proyek-proyek strategis PGAS menunjukkan kemajuan yang solid sepanjang sembilan bulan. Beberapa proyek seperti transportasi minyak memasuki tahap engineering, procurement, and construction (EPC) menuju pengelasan. Proyek biometana telah mencapai 5% dari fase konstruksi, sementara pembangunan jaringan kota gas terus berlanjut dengan total 26.182 jaringan hingga kuartal III. Proyek LNG Hub Arun juga mencatat progres signifikan, dengan pembangunan tangki mencapai 86% dan fasilitas non-tangki 97%, yang menempatkannya di jalur untuk mulai beroperasi pada akhir 2025.

"Ini diharapkan PGAS bisa meningkatkan percepatan akselerasi pengembangan proyek LNG Hub Arun supaya terealisasi sesuai target. Sehingga bisa mendorong fundamental PGAS tahun 2026," tambah Nafan.

Sementara itu, analis J.P. Morgan Sekuritas Indonesia Henry Wibowo, Arnanto Januri, dan Sumed Samant memperkirakan harga minyak akan turun pada 2026 karena keseimbangan suplai-permintaan akan beralih ke surplus. Peralihan dari suplai gas konvensional ke LNG untuk pelanggan HGBT diperkirakan meningkatkan margin bagi PGAS, karena harga jual LNG tidak terikat aturan harga regulasi. Margin LNG diperkirakan meningkat menjadi US$ 2/mmbtu, dibanding sekitar US$ 1/mmbtu untuk gas konvensional HGBT.

Berdasarkan perhitungan mereka, kondisi ini bakal memberikan kontribusi kenaikan laba sebesar 5% untuk PGAS. Harga jual LNG ke pelanggan memiliki lag satu kuartal, sementara PGAS membeli LNG dari pasar spot dengan indeks harga minyak (slope sekitar 16%). "Dengan begitu, estimasi laba tahun 2026 akan kami perkirakan 9% lebih tinggi dari konsensus, seiring asumsi margin US$ 2/mmbtu tetap terjaga," ujar ketiga analis tersebut dalam riset mereka, 2 Desember 2025.

Tim Riset Ina Sekuritas Indonesia mencatat bahwa volume perdagangan dan penjualan gas turun secara tahunan karena produsen besar mengurangi pasokan dan permintaan pelanggan melemah. Namun, gas pipa masih mendominasi pasokan sebesar 90%, sementara LNG berkontribusi 10%. Dari sisi pemasok, Grup Pertamina menyumbang 42% pasokan, dengan sebagian besar sisanya berasal dari Blok Corridor.

Permintaan terutama berasal dari industri listrik, kimia, keramik, makanan, kaca, dan metal. Volume transmisi meningkat seiring kenaikan aliran gas ke kilang di Kalimantan, pembangkit listrik di Jawa, dan kawasan industri di Jawa Timur. Aktivitas regasifikasi LNG dan pemrosesan LPG juga membaik. Maka, prospek jangka pendek PGAS akan tetap stabil namun cenderung mixed.

Rentang gas spread diproyeksikan berada pada level US$ 1,6–US$1,8 per mmbtu pada tahun 2025, dengan potensi volatilitas kuartalan seiring meningkatnya porsi LNG dalam struktur pasokan, dari sekitar 11% saat ini hingga bisa mencapai 24% pada tahun 2026. Perubahan ini dikhawatirkan menekan daya beli pelanggan karena biaya LNG yang lebih tinggi.

"Perdagangan spread dan transmisi gas diperkirakan tetap tangguh, meski keterbatasan pasokan akan terus menekan kinerja," terang Tim Riset Ina Sekuritas dalam risetnya, 14 November 2025.

Dengan berbagai sentimen dan katalis di atas, Ina Sekuritas memberikan rekomendasi Neutral saham PGAS dengan target harga Rp 1.900 per saham. Kemudian, analis J.P. Morgan Sekuritas merekomendasikan investor untuk Overweight saham PGAS dengan target harga Rp 2.200 per saham. Sedangkan Nafan memberikan rekomendasi Add saham PGAS dengan target harga Rp 1.965 per saham.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan