
Kamojang: Pilar Utama Transisi Energi Nasional
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) terus memperkuat peran strategis Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Kamojang sebagai penggerak utama industri panas bumi nasional sekaligus pilar penting dalam mendukung transisi energi Indonesia. Dengan menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dan kontribusi sosial, PGE mengembangkan WKP Kamojang sebagai wujud nyata komitmen perusahaan terhadap percepatan transisi energi nasional dan pencapaian target Net Zero Emission 2060.
Sebagai pionir panas bumi di Indonesia, Kamojang bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga bukti nyata kontribusi Indonesia dalam mewujudkan masa depan energi bersih. Komitmen PGE menjadikan Kamojang sebagai pusat inovasi yang membuktikan bagaimana energi panas bumi dapat memperkuat ketahanan energi nasional.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Program Digital Rangers App untuk Masyarakat Sekitar
Dalam mengembangkan energi bersih, PGE juga aktif memberdayakan masyarakat di sekitar wilayah operasi Kamojang melalui berbagai inisiatif berkelanjutan. Salah satu program yang dijalankan adalah Digital Rangers App, yang menghadirkan berbagai layanan digital, termasuk transportasi, mitra jasa wisata, platform penjualan daring, dan media promosi. Melalui program ini, masyarakat Kamojang berpartisipasi secara aktif dengan menjadi mitra driver menggunakan motor listrik yang dayanya bersumber dari listrik bersih hasil produksi PLTP Kamojang.
Inovasi Geothermal Dry House untuk Petani Kopi
Pemanfaatan panas bumi secara langsung (direct use) juga turut mendorong ekonomi lokal. Melalui inovasi Geothermal Dry House pertama di dunia, petani memanfaatkan uap panas bumi dari PLTP Kamojang untuk mempercepat proses pengeringan kopi dari yang sebelumnya memakan waktu 30–45 hari, kini hanya membutuhkan 3–10 hari. Inovasi ini telah meningkatkan pendapatan petani kopi hingga tiga kali lipat dan kopi Kamojang menembus pasar Jepang, Korea, dan Eropa.
Konservasi Elang Jawa
Untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati, PGE bekerja sama dengan BBKSDA Jawa Barat, Raptor Indonesia, dan masyarakat Kamojang untuk melestarikan Elang Jawa (Nisateus bartelsi) yang memiliki penglihatan tajam serta kecepatan hingga 300 km/jam. Kini, Pusat Konservasi Elang Kamojang telah melepasliarkan 153 Elang Jawa dari total 392 ekor yang telah dikonservasi sejak 2014.
Program GEMAH KARSA untuk Pemberdayaan Masyarakat
Terbaru, PGE tengah menjalankan program GEMAH KARSA (Geothermal Empowerment for Maximizing Agriculture through Kamojang Responsible and Sustainable Farming), yang memberdayakan 2.647 penerima manfaat dari kelompok rentan lewat pertanian berkelanjutan berbasis energi panas bumi, penyediaan air bersih, dan produksi pupuk organik.
General Manager PGE Area Kamojang I Made Budi Kesuma Adi Putra menegaskan komitmen PGE untuk memastikan bahwa pertumbuhan bisnis perusahaan berjalan selaras dengan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, “Keberadaan PLTP Kamojang tidak hanya memberikan manfaat energi, tetapi juga nilai sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Melalui berbagai program pemberdayaan, kami ingin memastikan bahwa setiap langkah pengembangan energi panas bumi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan komunitas lokal.”
Pengakuan Nasional dan Internasional
Berbagai program yang dijalankan PGE ini telah mendapatkan pengakuan nasional dan internasional, termasuk penghargaan PROPER Emas yang diterima PGE Kamojang dari Kementerian Lingkungan Hidup selama 14 kali berturut-turut.
Kamojang sebagai Tulang Punggung Transisi Energi Nasional
Area Kamojang merupakan wilayah panas bumi tertua di Indonesia, pertama kali dieksplorasi oleh Belanda pada tahun 1926. Sementara itu, eksplorasi oleh Pertamina dimulai pada 1974, dan PLTP Kamojang pertama resmi beroperasi komersial sejak 1983. Kini, pengelolaan WKP Kamojang dilakukan oleh PGE, dengan lima unit Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang memiliki total kapasitas mencapai 235 megawatt (MW) dari total 727 MW kapasitas terpasang yang dikelola PGE.
Dengan kapasitas tersebut, PLTP Kamojang mampu memasok listrik untuk lebih dari 260.000 rumah tangga setiap hari selama setahun penuh tanpa bergantung pada sinar matahari, cuaca, atau bahan bakar fosil. Hingga September 2025, produksi listrik dari Kamojang mencapai 1.326 gigawatt hour (GWh), tertinggi di antara seluruh WKP PGE. Operasi bersih ini juga berkontribusi signifikan terhadap pengurangan emisi karbon hingga 1,22 juta ton CO₂ per tahun, sejalan dengan upaya Indonesia mencapai Net Zero Emission pada 2060.
Ekspansi Kapasitas Terpasang
Lebih dari sekadar Kamojang, PGE kini tengah memperluas kapasitas terpasangnya dengan target mencapai 1 GW dalam 2–3 tahun ke depan, dan 1,8 GW pada tahun 2033. Dalam jangka panjang, PGE menargetkan kapasitas total sebesar 3 GW yang telah teridentifikasi dari 10 WKP yang dikelolanya. Untuk mewujudkan hal tersebut, PGE tengah memprioritaskan sejumlah proyek quick win, termasuk pemanfaatan uap dari sumur-sumur bertekanan rendah di Kamojang dengan kapasitas sebesar 5 MW yang ditargetkan mulai beroperasi tahun 2028.