PGEO Eksplor Panas Bumi untuk Kebutuhan Industri

admin.aiotrade 08 Nov 2025 4 menit 15x dilihat
PGEO Eksplor Panas Bumi untuk Kebutuhan Industri


PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) terus berupaya mempercepat pengembangan energi panas bumi di Indonesia. Selain untuk kebutuhan kelistrikan, PGEO juga mulai mengembangkan pemanfaatan panas bumi dalam sektor-sektor lain yang tidak terkait dengan ketenagalistrikan.

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan Pertamina Geothermal Energy, Edwil Suzandi, menjelaskan bahwa PGEO memiliki inisiatif yang disebut Beyond Electricity. Tujuan dari inisiatif ini adalah untuk memanfaatkan panas bumi dalam berbagai sektor industri, agar dapat mendorong pertumbuhan industri manufaktur di Indonesia.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Saat ini, PGEO telah menyiapkan tiga proyek utama yang terkait dengan Beyond Electricity:

1. Pilot Proyek Green Hydrogen di Ulubelu, Lampung

PGEO sedang mengembangkan proyek Green Hydrogen atau Hidrogen Hijau di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Ulubelu, Lampung. Proyek ini dilakukan bekerja sama dengan Toyota Indonesia sebagai calon offtaker. Tujuan dari proyek ini adalah untuk membangun ekosistem hidrogen hijau terpadu di Indonesia, termasuk meningkatkan skala industri tersebut.

Proyek ini tidak bertujuan komersial, melainkan untuk menguji efisiensi teknologi electrolyzer serta menentukan biaya produksi dan kelayakan komersial hidrogen hijau pada masa mendatang. Target commissioning proyek ini adalah pada tahun 2026.

2. Proyek Green Ammonia dengan PT Pertamina Gas

PGEO juga memiliki proyek Green Ammonia dengan kolaborasi bersama PT Pertamina Gas (Pertagas). Hidrogen hijau menjadi salah satu komoditas strategis di masa depan, karena bisa digunakan untuk produk pupuk hingga bahan bakar transportasi perkapalan. Jika dikembangkan secara baik, produk ini juga bisa diekspor ke berbagai negara.

Saat ini, proyek ini masih dalam tahap studi kelayakan.

3. Proyek Green Data Center

PGEO juga sedang mengembangkan proyek Green Data Center dengan menggunakan panas bumi sebagai sumber listrik utama. Karakteristik panas bumi yang bersifat base load membuatnya cocok untuk memberikan pasokan listrik ramah lingkungan secara stabil selama 24 jam.

Lokasi awal pengembangan Green Data Center berada di WKP Kamojang, Jawa Barat. Lokasi ini dipilih karena memiliki sumber panas bumi stabil dan infrastruktur yang lebih matang. PGEO sudah menandatangani joint agreement dengan calon mitra untuk proyek ini. Target Final Investment Decision (FID) akan dilakukan pada akhir tahun 2025.

Strategi Jangka Panjang PGEO

Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy, Julfi Hadi, menjelaskan bahwa inisiatif Beyond Electricity bukan hanya untuk diversifikasi bisnis, tetapi juga bagian dari upaya perusahaan dalam menciptakan nilai tambah dari aset panas bumi yang ada.

Bisnis listrik panas bumi memiliki margin yang terbatas dan sangat bergantung pada harga jual kepada PLN. Dengan adanya proyek seperti Green Hydrogen, Green Ammonia, dan Green Data Center, PGEO dapat memaksimalkan aset tanpa perlu membangun sumur baru, sehingga berpeluang mendapatkan laba lebih cepat dan sumber pendapatan tambahan.

Tujuan jangka panjang PGEO adalah menjadi clean energy company dengan portofolio yang lebih luas dan berkelanjutan. Perusahaan menargetkan kapasitas terpasang panas bumi mencapai 1 gigawatt (GW) dalam dua hingga tiga tahun mendatang (2028–2029), dan 3 GW dalam waktu 8–10 tahun.

Hingga saat ini, PGEO mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) dengan total kapasitas 1.932 megawatt (MW). Sebanyak 727 MW dikelola mandiri, sedangkan 1.205 MW melalui skema Joint Operation Contract (JOC). PGEO berkontribusi sekitar 70% terhadap kapasitas panas bumi nasional.

Untuk mencapai target 1 GW, PGEO telah melakukan beberapa proyek penting, seperti:
PLTP Lumut Balai Unit 2 di Sumatra Selatan (55 MW) yang telah COD pada Juni 2025.
PLTP Lumut Balai Unit 3 (55 MW) yang akan dimulai pada akhir 2025 dan ditargetkan COD pada 2029.
PLTP Gunung Tiga di Lampung (2x27,5 MW) dengan nilai investasi US$ 298,3 juta, yang akan COD pada 2029 dan 2030.
PLTP Kotamobagu di Sulawesi Utara (50+14 MW) yang telah mendapatkan FID dan akan menyelesaikan pengeboran pertamanya pada 2026.
PLTP Bukit Daun* di Bengkulu (2x30 MW) yang akan COD pada 2030.

PGEO juga mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 4,20% year on year (yoy) menjadi US$ 318,86 juta per kuartal III-2025. Namun, laba bersih PGEO turun 22,18% yoy menjadi US$ 104,26 juta.

Dari sisi operasional, PGEO mencatatkan produksi listrik sebanyak 3.744 gigawatt hour (GWh) per kuartal III-2025, tumbuh 4,06% yoy. Produksi listrik PGEO diproyeksikan mencapai 4.978 GWh pada akhir 2025 dan 5.100 GWh pada 2026.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan