PHEV China Mendominasi Pasar Indonesia, Gaikindo Peringatkan Tren Mobil Listrik Membosankan

admin.aiotrade 08 Nov 2025 2 menit 10x dilihat
PHEV China Mendominasi Pasar Indonesia, Gaikindo Peringatkan Tren Mobil Listrik Membosankan

Tren Mobil Listrik di Indonesia Menghadapi Tantangan

Di tengah semakin meningkatnya minat masyarakat terhadap mobil listrik, kini muncul tren baru yang menarik perhatian. Banyak merek asal Tiongkok mulai membanjiri pasar Indonesia dengan model-model mobil Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). Hal ini disebut sebagai respons terhadap keterbatasan infrastruktur dan kebutuhan konsumen akan alternatif yang lebih fleksibel.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Tren ini ditandai oleh kehadiran berbagai model PHEV dari produsen seperti Chery, Jaecoo, Geely, hingga Wuling. Contohnya, Chery meluncurkan Tiggo 8 CSH dan Tiggo 9 CSH, sementara Jaecoo menghadirkan J7 SHS dan J8 SHS. Geely juga turut serta dengan model Starray EM-i, dan Wuling baru-baru ini meluncurkan Darion PHEV. Dengan teknologi PHEV, kendaraan ini bisa menggunakan baterai untuk tenaga listrik, namun tetap memiliki mesin bensin sebagai cadangan.

Menurut Anton Kemal Tasli, Ketua Harian Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), tren ini sejalan dengan prediksi bahwa pasar mobil listrik murni (BEV) akan mengalami saturasi atau titik jenuh. Ia menyatakan bahwa keterbatasan BEV, seperti infrastruktur pengisian daya, durasi pengisian baterai, dan jarak tempuh, akan mendorong konsumen mencari alternatif lain.

"Kemarin waktu kami ke China, tahun lalu. Kami ketemu sama CAAM (China Association of Automobile Manufacturers), asosiasi seperti Gaikindo di sana, mereka juga (bilang) BEV ada batasnya," ujarnya.

Anton menjelaskan bahwa perkembangan teknologi di Tiongkok telah beralih ke PHEV karena kemampuan jarak tempuh yang lebih jauh dan kemampuan untuk mengisi bensin jika diperlukan. Hal ini menjadi solusi yang lebih realistis bagi konsumen yang masih merasa khawatir terhadap keterbatasan BEV.

Di Eropa, situasi serupa juga terjadi. Stefanus Sutomo, Staf Khusus Gaikindo, mengungkapkan bahwa penjualan BEV di Eropa mulai menurun, sementara penjualan mobil hybrid meningkat. Meski tidak secara eksplisit menyebutkan, ia mengindikasikan bahwa fenomena ini bisa menjadi cerminan untuk pasar Indonesia.

"Jadi BEV ini, yang kami juga nggak tahu saturasinya ada di angka berapa, 10 persen, atau 15 persen, atau berapa tapi suatu ketika akan ada saturasinya," katanya.

Sementara itu, Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menekankan bahwa masih terlalu dini untuk memproyeksikan kapan titik jenuh tersebut akan terjadi di Indonesia. Menurutnya, data yang tersedia masih sedikit, sehingga sulit untuk membuat prediksi pasti.

"Data kita terlalu sedikit untuk bisa memproyeksikan itu. Masih terlalu awal," ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa pasar mobil hybrid konvensional saat ini masih stabil. Bahkan, Kukuh memprediksi dalam tiga hingga lima tahun ke depan, mobil hybrid akan tetap mendominasi pasar Indonesia dibandingkan mobil listrik.

"3-5 tahun ke depan masih di hybrid. Cukup stabil ya," tutupnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan