PHTC Bangkitkan Sekolah, Tingkatkan Infrastruktur Pendidikan dan Ekonomi Lokal

admin.aiotrade 14 Nov 2025 3 menit 13x dilihat
PHTC Bangkitkan Sekolah, Tingkatkan Infrastruktur Pendidikan dan Ekonomi Lokal

Komitmen Kemendikdasmen dalam Revitalisasi Sekolah

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus berupaya mewujudkan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang diinisiasi oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui revitalisasi satuan pendidikan. Sejak diluncurkan pada Hari Pendidikan Nasional 2025, program ini telah menjadi harapan baru bagi seluruh satuan pendidikan di Indonesia.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen), Gogot Suharwoto, menyampaikan bahwa capaian PHTC Revitalisasi Satuan Pendidikan yang dijalankan Kemendikdasmen telah melampaui target. Salah satu contohnya adalah Direktorat Jenderal (Ditjen) PAUD Dikdasmen yang awalnya menetapkan target revitalisasi sebanyak 9.429 sekolah, namun dalam pelaksanaannya berhasil mencapai 14.071 sekolah penerima manfaat. Hal serupa juga terjadi di Ditjen Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) yang awalnya menargetkan 982 sekolah, tetapi akhirnya mencapai 2.000 sekolah.

Gogot menjelaskan bahwa PHTC Revitalisasi Satuan Pendidikan tidak hanya berdampak pada sektor pendidikan, tetapi juga memberikan dampak positif pada sektor ekonomi masyarakat lokal. Implementasi program tersebut dilakukan melalui skema swakelola dan melibatkan partisipasi semesta, yaitu keterlibatan berbagai pihak seperti sekolah, pemerintah daerah (pemda), hingga masyarakat sekitar.

Selain mempercepat pembangunan, pendekatan ini juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar serta mendorong pembelian bahan bangunan dari lingkungan setempat, sehingga berdampak positif pada perekonomian masyarakat di sekitar satuan pendidikan. Gogot menegaskan bahwa revitalisasi sekolah bukan hanya tentang bangunan, tetapi juga tentang menciptakan sekolah yang aman, nyaman, dan menggembirakan.

Respons Positif Masyarakat

Kompetensi Kemendikdasmen dalam mewujudkan PHTC Revitalisasi Satuan Pendidikan mendapat respons positif dalam beberapa survei. Hasil survei IndoStrategi menunjukkan bahwa Kemendikdasmen berada di peringkat pertama kementerian terbaik dengan perolehan 3,35 poin. Respons positif juga datang dari Arus Survei Indonesia (ASI) yang menemukan bahwa 78,4 persen masyarakat menyambut baik program PHTC Revitalisasi Sekolah. Sekitar 29,3 persen masyarakat menilai program ini dapat meningkatkan lingkungan belajar menjadi lebih baik.

Hasil riset Pusat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Universitas Indonesia (P3M UI) menunjukkan tingginya persepsi positif publik terhadap program unggulan Kemendikdasmen. Hal tersebut tercermin dari penilaian terhadap implementasi program PHTC Revitalisasi Sekolah yang mencapai 96,0 hingga 98,7 persen. Dengan capaian ini, Kemendikdasmen dinilai berhasil menjalankan program dengan baik dan sangat baik.

Menurut riset tersebut, 22,2 persen masyarakat menilai PHTC Revitalisasi Sekolah berdampak pada ruang belajar yang aman dan nyaman, 19,8 persen menyatakan mampu meningkatkan kualitas pendidikan, dan 9,8 persen menilai program ini dapat memperluas akses pendidikan. Selain itu, persepsi publik terhadap program rehabilitasi sekolah juga menunjukkan kecenderungan positif di media sosial.

Hasil analisis Drone Emprit melalui riset di sejumlah platform media sosial terkait sentimen, emosi, dan framing memperlihatkan tingginya perhatian publik terhadap program rehabilitasi sekolah dengan respons positif mencapai 95 persen. Capaian tersebut didorong oleh keberhasilan Kemendikdasmen melampaui target, penerapan skema swakelola yang meningkatkan akuntabilitas, serta kontribusinya dalam membuka lapangan kerja.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan