
Piyu Padi, Dari Musik ke Investasi
Piyu Padi, gitaris legendaris dari grup band Padi, dikenal sebagai musisi yang telah mengukir sejarah dalam dunia musik Indonesia. Namun, di balik kesuksesannya sebagai musisi, ia juga memiliki kisah menarik sebagai seorang investor. Pengalaman ini ia bagikan dalam sebuah acara literasi keuangan yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang.
Dalam acara tersebut, Piyu menyampaikan pengalamannya tentang pentingnya investasi. Ia mengungkapkan bahwa dirinya ingin bisa memulai investasi lebih dini, bahkan sejak lulus SMA. "Saya pikir dulu, investasi harus punya uang banyak dulu. Ternyata tidak harus begitu," ujarnya dengan gaya santai namun penuh makna.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Awal Perjalanan Investasi
Piyu mengisahkan bahwa investasi pertamanya dimulai pada tahun 1997, saat ia masih muda dan bekerja sebagai kru band Dewa 19. Dari hasil jerih payahnya, ia membeli gitar Gibson Les Paul Custom seharga Rp 2,35 juta. Saat itu, harga terasa mahal, namun kini gitar tersebut bernilai hingga Rp 40 juta. "Nilainya naik lebih dari seratus persen," katanya.
Pengalaman ini menjadi titik awal kesadarannya tentang nilai aset. Setelahnya, Piyu benar-benar memasuki dunia investasi. Tepatnya pada tahun 2000, ketika album pertama Padi terjual lebih dari 800 ribu copy dalam enam bulan. Dari hasil penjualan album itu, ia membeli tanah dan membuka deposito. Lalu, dari album kedua yang terjual hingga dua juta copy, ia membangun studio rekaman.
"Saya ingin punya pasif income. Studio itu akhirnya jadi sumber penghasilan bahkan ketika saya tidak manggung," ujarnya.
Berbagai Jenis Investasi
Seiring berjalannya waktu, Piyu tak berhenti belajar. Ia mencoba berbagai instrumen investasi, mulai dari reksadana dolar hingga properti apartemen yang ia sewakan dengan imbal hasil 10–15 persen. Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Tahun 2008, krisis global melanda, dan nilai reksadana yang ia miliki anjlok hingga rugi 70 persen.
Namun dari peristiwa itu, ia justru mendapat pelajaran berharga tentang pentingnya memahami risiko. "Saya sempat kaget. Tapi dari situ saya belajar pentingnya tahu apa yang kita beli," ujarnya. Ia lalu menarik sebagian uang yang 30 persen itu, lalu membeli saham Bumi di harga Rp 725. "Saya tunggu sampai naik ke Rp 2.500. Dari situ saya baru benar-benar mengerti nikmatnya investasi jangka panjang."
Sayangnya, perjalanan itu sempat kembali diuji. Tahun 2009, ia terjun ke dunia forex dan kehilangan sekitar 25 ribu dolar AS. Alih-alih menyerah, pengalaman itu membuatnya semakin disiplin dan berhati-hati. "Di situ masih ada campur tangan teman, lalu saya pikir, kenapa nggak saya pantau sendiri saja. Kalau rugi, biar rugi karena keputusan saya sendiri," ujarnya.
Pesan untuk Generasi Muda
Di hadapan mahasiswa, Piyu berpesan agar generasi muda tidak takut memulai berinvestasi, asalkan dilakukan dengan pemahaman yang benar. Menurutnya, memilih saham dengan risiko rendah seperti blue chip bisa menjadi langkah awal yang aman. "Yang penting jangan jadi trader kalau belum punya penghasilan tetap. Sisihkan sebagian, dan investasikan dengan bijak," pesannya.
Bagi Piyu, musik dan investasi memiliki kesamaan filosofi. Keduanya membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan disiplin. "Investasi bukan cuma soal uang, tapi soal waktu dan ilmu. Dan semakin cepat kita mulai, semakin besar manfaatnya," tandasnya.
Penampilan Akustik
Usai memberikan edukasi kepada mahasiswa, Piyu sempat menghibur dengan membawakan sejumlah lagu Padi seorang diri. Diiringi dengan gitar akustik, Piyu sukses mendobrak dengan lagu-lagu seperti Harmoni hingga Begitu Indah. Penampilannya itu menutup kegiatan yang digelar di Gedung Samantha Krida UB itu.