PMI Bengkulu Tewas di Jepang, Diduga Korban Perdagangan Orang

admin.aiotrade 10 Nov 2025 4 menit 10x dilihat
PMI Bengkulu Tewas di Jepang, Diduga Korban Perdagangan Orang

Pemkab Seluma Berupaya Memulangkan Jenazah PMI yang Meninggal di Jepang

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Seluma, Provinsi Bengkulu, sedang berupaya memulangkan jenazah Adellia Meysa (23), seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Kampai, Kecamatan Talo, Kabupaten Seluma. Ia meninggal dunia di Kota Sakai, Prefektur Ibaraki, Jepang, pada Sabtu (8/11/2025).

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Bupati Seluma, Teddy Rahman, menyampaikan belasungkawa atas kematian Adellia dan menegaskan bahwa pemerintah daerah akan membantu proses pemulangannya.

“Atas nama pribadi dan Pemkab Seluma, kami turut berduka cita dan belasungkawa atas meninggalnya warga kita, Adellia Meysa,” ujar Teddy dalam keterangan tertulis yang diterima aiotrade, Senin (10/11/2025).

Proses Pemulangan dan Kendala Administrasi

Jenazah Adellia saat ini masih berada di Seinan Medical Centre Hospital, Ibaraki, Jepang. Teddy telah menginstruksikan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) untuk membantu pemulangan jenazah tersebut.

“Kita tidak melihat status almarhumah di sana (Jepang). Yang kita lihat, almarhumah adalah warga Seluma. Pemkab Seluma akan mengambil peran untuk pemulangan jenazah,” ujar Teddy.

Pemda Seluma telah berkoordinasi dengan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Selatan di Palembang serta Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) di Jakarta untuk mempercepat proses pemulangan.

“Karena almarhumah bekerja di Jepang menggunakan visa wisata, proses pemulangannya memakan waktu. Tapi kami akan berusaha maksimal agar jenazah dapat segera dipulangkan,” tutur Teddy.

Penyakit yang Menyerang Sebelum Meninggal

Sebelum meninggal, Adellia sempat dirawat di rumah sakit akibat Meningitis Tuberkulosis (TB), yakni peradangan pada selaput otak dan saraf tulang belakang yang disebabkan oleh infeksi bakteri mycobacterium.

Ia dirawat sejak Jumat (31/10/2025) dan kondisinya sempat membaik sebelum akhirnya kembali memburuk pada Jumat (7/11/2025). Adellia dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu (8/11/2025) pukul 14.45 waktu Jepang atau 12.45 WIB.

Ketua Ikatan Keluarga Bengkulu di Jepang (IKBJ), Andri Santoso, menyampaikan belasungkawa atas kepergian Adellia.

“Kami segenap keluarga besar IKBJ turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya almarhumah. Kami sangat prihatin dengan kabar duka ini,” kata Andri dalam keterangan pers yang diterima aiotrade, Senin (10/11/2025).

Persiapan Pemulangan Jenazah ke Bengkulu

Andri menjelaskan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan keluarga di Bengkulu untuk mengatur pemulangan jenazah ke kampung halaman di Desa Kampai, Kecamatan Talo, Kabupaten Seluma.

“Saat ini jenazah sudah dibawa dari Ibaraki ke persemayaman di Tokyo atas bantuan KBRI Tokyo. Tengah dilakukan penyiapan dokumen dan administrasi pemulangan,” jelas Andri.

Dugaan Korban Human Trafficking

Lebih lanjut, Andri mengungkapkan bahwa Adellia merupakan korban dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) atau human trafficking yang dilakukan oleh oknum Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

“Tujuh bulan lamanya mereka belajar bahasa Jepang di lembaga tersebut, kemudian ditawari bekerja di Jepang menggunakan visa kunjungan tiga bulan. Mereka dijanjikan akan dicarikan pekerjaan dan diganti dengan visa kerja resmi setelah tiba di Jepang,” ujar Andri.

Namun, janji itu tidak terealisasi. Setelah masa visa habis, mereka tidak bisa mengubah status ke visa kerja.

“Padahal mereka sudah membayar hingga Rp70 juta lebih untuk berangkat ke Jepang, belum termasuk biaya belajar dan hidup di sana,” ucap Andri.

Karena sudah mengeluarkan banyak uang dan berada di Jepang tanpa status kerja resmi, mereka terpaksa bertahan hidup dengan bekerja secara ilegal.

“Hingga akhirnya salah satu korban, Adellia Meysa, sakit dan dirawat tanpa jaminan asuransi. Setelah berjuang melawan penyakitnya, ia meninggal dunia pada 7 November 2025,” tutur Andri.

Kesulitan Biaya Pemulangan Jenazah

Menurut Andri, keluarga korban menghadapi kesulitan finansial untuk melunasi biaya rumah sakit dan pemulangan jenazah.

“Tagihan rumah sakit hingga Rabu (5/11/2025) mencapai ¥900.000 atau sekitar Rp99 juta dan sudah dibayar Rp50 juta. Ditambah biaya tindakan medis berikutnya dan biaya pemulangan jenazah sekitar ¥800.000, total bisa mencapai Rp200 juta lebih,” jelasnya.

Karena itu, Ikatan Keluarga Bengkulu di Jepang (IKBJ) mengajak masyarakat untuk membantu keluarga korban melalui donasi.

“Ini akan sangat berat bagi keluarga, apalagi mengumpulkan uang sebesar itu dalam dua minggu. Kami sangat mengharapkan bantuan dari semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah,” ujar Andri.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan