PMK Bea Keluar Emas Jadi Ancaman, Ini Rekomendasi Saham Perusahaan Emas

admin.aiotrade 21 Des 2025 3 menit 14x dilihat
PMK Bea Keluar Emas Jadi Ancaman, Ini Rekomendasi Saham Perusahaan Emas
PMK Bea Keluar Emas Jadi Ancaman, Ini Rekomendasi Saham Perusahaan Emas

Perubahan Kebijakan Bea Keluar Emas dan Dampaknya pada Perusahaan Tambang

Penerapan bea keluar terhadap komoditas emas di Indonesia dinilai akan memberikan dampak signifikan terhadap kinerja dan strategi perusahaan tambang. Kebijakan ini, yang mulai berlaku pada 23 Desember 2025, menunjukkan upaya pemerintah untuk mendukung program hilirisasi produk mineral dalam negeri sambil tetap memperhatikan keberlanjutan usaha sektor emas.

Bea keluar emas ditetapkan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 80 Tahun 2025, yang diterbitkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Tarif bea keluar ini bervariasi tergantung pada harga referensi emas yang ditetapkan oleh Menteri Perdagangan. Jika harga referensi emas berada dalam kisaran US$ 2.800 hingga kurang dari US$ 3.200 per troy ounce, tarif bea keluar akan berkisar antara 7,5% hingga 12,5%. Sementara itu, jika harga referensi mencapai atau melebihi US$ 3.200 per troy ounce, tarif bea keluar akan berada pada rentang 10% hingga 15%, tergantung jenis emas yang diekspor.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Dampak pada Perusahaan Tambang

Berdasarkan analisis dari Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, kebijakan ini akan berdampak pada beberapa perusahaan tambang emas. Di antaranya adalah PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB).

Menurut Harry, PSAB akan mengalami dampak terbesar karena penjualan ekspor emasnya mencapai 100%. Sebaliknya, UNTR tidak akan terganggu separah PSAB karena memiliki diversifikasi bisnis dan penjualan ekspor emas yang tidak mencapai 100%. BRMS juga tidak akan terkena dampak material karena seluruh penjualan mereka dilakukan di pasar domestik. Sementara itu, ANTM justru akan mendapat manfaat dari kebijakan baru ini karena meningkatkan ketersediaan pasokan emas domestik.

Perubahan Strategi Ekspor

Tim analis JP Morgan Sekuritas Indonesia, Henry Wibowo, Arnanto Januri, dan Steven Suntoso menyatakan bahwa kebijakan bea keluar akan mengubah strategi perusahaan yang melakukan ekspor emas. Misalnya, UNTR diperkirakan akan fokus pada penjualan emas ke pasar domestik, dengan ANTM sebagai pembeli besar yang siap menyerap pasokan. Meskipun harga di pasar domestik lebih rendah sekitar 1%-2%, UNTR masih akan menjual emas ke pasar tersebut.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan bahwa meski bea keluar bisa mengurangi margin laba perusahaan pengekspor, tekanan margin tersebut dapat diminimalkan melalui peningkatan penjualan ekspor. Hal ini sejalan dengan arah harga emas yang cenderung menguat akibat ketidakstabilan geopolitik. Emas dianggap sebagai aset safe heaven, sehingga perusahaan dapat memperoleh manfaat dari peningkatan harga ekspor.

Proyeksi Kinerja Keuangan

Harry memproyeksikan bahwa UNTR akan mengalami penurunan pendapatan menjadi Rp 132,2 triliun (-1,6% YoY) pada 2025, dengan laba bersih turun menjadi Rp 16,2 triliun (-16,8% YoY). Namun, pada 2027, pendapatan dan laba bersih diharapkan kembali tumbuh menjadi Rp 17,0 triliun (+4,7% YoY).

Sementara itu, ANTM diperkirakan akan mengalami kenaikan pendapatan sebesar 23,9% YoY menjadi Rp 85,7 triliun pada 2025, serta naik menjadi Rp 110,6 triliun pada 2026. Laba bersih diharapkan mencapai Rp 6,9 triliun pada 2025 dan Rp 7,8 triliun pada 2026.

BRMS juga diproyeksikan mengalami pertumbuhan pendapatan sebesar 59,9% YoY menjadi Rp 4,3 triliun pada 2025, dan naik menjadi Rp 6,8 triliun pada 2026. Laba bersih diharapkan mencapai Rp 893 miliar pada 2025 dan Rp 1,8 triliun pada 2026.

Rekomendasi Investasi

Harry merekomendasikan investor untuk membeli saham UNTR dengan target harga Rp 31.000 per saham, serta saham ANTM dengan target harga Rp 4.300 per saham dan saham BRMS dengan target harga Rp 1.300 per saham. Tim analis JP Morgan Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi netral terhadap saham UNTR dengan target harga Rp 25.000 per saham. Nafan merekomendasikan investor untuk menambah posisi saham ANTM dengan target harga Rp 3.300 per saham.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan