
Identifikasi Korban Tewas dalam Pembakaran Gedung ACC
Polisi telah mengidentifikasi salah satu korban tewas dalam pembakaran Gedung Astra Credit Companies (ACC) di Kwitang, Jakarta Pusat. Korban tersebut adalah Muhammad Farhan Hamid. Informasi ini didapatkan setelah pihak kepolisian melakukan penyelidikan terhadap kerabat dan teman dekat korban.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Farhan diketahui sempat menggadaikan ponselnya sebelum mengikuti aksi unjuk rasa. Pergadaian tersebut dilakukan di wilayah Jakarta Utara, tidak jauh dari tempat tinggalnya. Seorang teman dekat Farhan bertindak sebagai perantara dalam proses penggadaian tersebut.
Dalam konferensi pers yang diadakan di Rumah Sakit Polri, Jakarta Timur, Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar (AKBP) Putu Kholis Aryana menjelaskan bahwa pihaknya menemukan informasi tersebut melalui penelusuran periode September hingga Oktober 2025. Menurutnya, almarhum Farhan menggadaikan handphone beserta nomornya kepada saudara K dan W.
Selain itu, polisi juga menelusuri jejak digital Farhan sejak ia dinyatakan hilang. Akun media sosialnya, termasuk Instagram dan Facebook, sempat aktif. Bahkan, akun WhatsApp milik Farhan membalas pesan dari keluarganya.
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), yang mendampingi pencarian orang hilang selama demonstrasi Agustus 2025, menduga akun WhatsApp Farhan diretas. Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, menyatakan bahwa akun tersebut sempat diretas dan kemudian dipegang oleh orang yang belum diidentifikasi oleh kepolisian.
Farhan merupakan salah satu dari dua orang yang teridentifikasi dari kerangka manusia yang ditemukan hangus di Gedung ACC Kwitang. Jasad satunya teridentifikasi sebagai Reno Syahputradewo.
Kedua korban dinyatakan hilang sejak 31 dan 30 Agustus 2025, menurut pantauan KontraS. Keduanya terakhir diketahui berada di kawasan Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob) Kwitang.
Dokter forensik RS Polri mengambil kesimpulan tentang identitas kedua jenazah setelah melakukan pemeriksaan postmortem. Nomor postmortem 0080 cocok dengan antemortem 002, sehingga teridentifikasi sebagai Reno Syahputeradewo, anak biologis dari Bapak Muhammad Yasin.
Pemeriksaan dilakukan terhadap tulang tengkorak, panggul, serta gigi kerangka yang diidentifikasi sebagai Reno. Selain itu, dokter juga mencocokkan kerangka dengan sampel asam deoksiribonukleat (DNA) milik anggota keluarga Reno.
Sementara itu, jenazah satunya diidentifikasi sebagai Farhan. Hasil pemeriksaan DNA dan tulang nomor postmortem 0081 cocok dengan antemortem 001, sehingga teridentifikasi sebagai Muhammad Farhan Hamid, anak biologis dari Bapak Hamidi.
Terhadap kerangka tersebut, polisi melakukan pemeriksaan DNA dan tulang, serta identifikasi kalung beserta kepala ikat pinggang yang ditemukan di tempat kejadian perkara.
Polres Jakarta Pusat menerima laporan penemuan dua kerangka manusia dalam keadaan hangus di lantai dua Gedung ACC di Kwitang pada 30 Oktober 2025. Kedua jenazah tertimbun plafon gedung yang terbakar.
Laporan tentang penemuan tersebut diterima oleh kepolisian dari tim teknis gedung ACC yang sedang mengecek konstruksi untuk merenovasi gedung itu. Gedung ACC dibakar oleh massa dalam demonstrasi yang berujung rusuh di depan Mako Brimob, Kwitang, Jakarta Pusat, pada 29 Agustus 2025.
Kepolisian Sektor Senen saat itu langsung mengirimkan jenazah ke RS Polri. Polisi kemudian memanggil keluarga Farhan dan Reno untuk melakukan tes DNA di RS Polri.