Polisi: Pemilik Akun Kripto Pengancam Bom di Sekolah Internasional Bukan Warga Negara Indonesia

admin.aiotrade 08 Okt 2025 3 menit 15x dilihat
Polisi: Pemilik Akun Kripto Pengancam Bom di Sekolah Internasional Bukan Warga Negara Indonesia
Polisi: Pemilik Akun Kripto Pengancam Bom di Sekolah Internasional Bukan Warga Negara Indonesia

Penyelidikan Terkait Ancaman Bom di Sekolah Internasional Jakarta

Pihak kepolisian mengungkapkan bahwa akun kripto yang digunakan oleh teroris untuk mengancam bom di North Jakarta Intercultural School (NJIS) di Kelapa Gading tidak tersedia di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Kapolsek Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kompol Seto Handoko Putra, saat melakukan pemeriksaan di sekolah tersebut pada Rabu 8 Oktober 2025.

Seto Handoko Putra menyatakan bahwa dalam pemeriksaan yang dilakukan, tidak ditemukan barang mencurigakan di sekitar area sekolah. Ia menjelaskan bahwa alamat dompet kripto yang disebutkan dalam ancaman tidak valid atau tidak ada di sistem bursa kripto lokal Indonesia.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

"Alamat dompet yang disebutkan tidak ada atau tidak valid, sehingga kami tidak menemukan apa pun di bursa kripto lokal di Indonesia," ujar Seto Handoko Putra di Jakarta pada hari yang sama.

Informasi ini diperoleh setelah ia berkoordinasi dengan Wakil Ketua Umum Asosiasi Aset Kripto Bidang Aset Kripto, Mohammad Naufal Alvir. Pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi pelaku teror tersebut.

Identifikasi Pelaku dan Ancaman yang Diterima

Berdasarkan penyelidikan sementara, orang yang mengirim pesan teror itu berinisial EM dan menggunakan nomor marketing melalui aplikasi WhatsApp. Individu yang tidak dikenal tersebut menuntut uang tebusan sebesar 30.000 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp450 juta dalam bentuk bitcoin yang harus dikirim ke alamat dompet yang diberikan.

Pelaku mengancam akan meledakkan bom yang telah terpasang di sekolah jika tebusan tidak dibayarkan dalam waktu 45 menit. Ancaman ini memicu kepanikan di lingkungan sekolah dan membuat petugas segera melakukan penyisiran di NJIS Kelapa Gading.

Hasil dari penyisiran tersebut menunjukkan bahwa tidak ada barang mencurigakan yang ditemukan di sekitar area sekolah. Meskipun demikian, pihak kepolisian tetap waspada dan terus memperkuat langkah-langkah pengamanan di lokasi tersebut.

Proses Penyelidikan dan Tindakan yang Dilakukan

Seto Handoko Putra menambahkan bahwa penyelidikan masih terus berlangsung untuk mengungkap identitas pelaku dan mencegah kemungkinan ancaman serupa di masa depan. Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya sedang bekerja sama dengan lembaga-lembaga terkait untuk memastikan keamanan di sekolah-sekolah internasional dan tempat-tempat umum lainnya.

Selain itu, pihak kepolisian juga memberikan edukasi kepada siswa dan staf sekolah tentang bagaimana mengenali tanda-tanda ancaman dan cara melaporkannya secara cepat. Langkah-langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan di lingkungan pendidikan.

Kesimpulan dan Peringatan

Ancaman bom yang dialami oleh NJIS menjadi peringatan bagi seluruh masyarakat, terutama pengelola institusi pendidikan, untuk tetap waspada terhadap tindakan-tindakan yang dapat membahayakan keselamatan. Pihak kepolisian berkomitmen untuk terus memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak guna memastikan keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat.

Meski tidak ditemukan bukti nyata adanya bom, ancaman ini tetap menjadi perhatian serius bagi semua pihak. Dengan peningkatan pengawasan dan koordinasi yang lebih baik, diharapkan bisa mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan