Polisi Sebut Kerangka di Gedung ACC Reno dan Farhan, Keluarga Terpukul

admin.aiotrade 07 Nov 2025 3 menit 30x dilihat
Polisi Sebut Kerangka di Gedung ACC Reno dan Farhan, Keluarga Terpukul


Polisi mengungkapkan bahwa kerangka yang ditemukan di kantor Astra Credit Companies (ACC), Kwitang, Jakarta Pusat, adalah jenazah dari M Farhan Hamid dan Reno Syahputra Dewo. Keduanya dilaporkan hilang sejak demonstrasi yang berujung ricuh pada akhir Agustus lalu.

Adin, yang mewakili keluarga Farhan, merasa terpukul dengan penemuan tersebut. Ia mengatakan, selama dua bulan, kondisi keluarganya berada di ambang ketidakpastian setelah Farhan dilaporkan hilang.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Biarkan kami melewati duka ini karena perjalanannya sangat panjang. Dua bulan kami terombang-ambing, dan hasil akhirnya ternyata ada kerangka. Itu menyakitkan,” kata Adin dalam konferensi pers yang digelar di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (7/11).

Sementara itu, Dani Aji, yang mewakili keluarga Reno, juga mengaku syok dengan penemuan kerangka tersebut. “Kami akan diskusi terkait langkah selanjutnya. Kami masih berduka, syok, dan belum tahu akan bagaimana. Terlebih lagi, keluarga Reno berdomisili di Surabaya,” ujar dia.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menyoroti beberapa kejanggalan dalam pernyataan polisi. Mereka menilai ada hal-hal yang perlu didalami lebih lanjut terkait identifikasi jenazah tersebut.

Reno dan Farhan dilaporkan hilang sejak demonstrasi berujung ricuh pada akhir Agustus. Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, menyebutkan beberapa poin yang perlu dipertanyakan.

“Ada beberapa hal yang menurut kami juga masih perlu didalami,” ujar Dimas.

Menurutnya, polisi mengklaim bahwa Farhan sempat menggadaikan ponsel beserta simcard. Namun, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi apakah ada indikasi peretasan akun media sosial milik Farhan.

Selain itu, Polda Metro Jaya langsung mengklasifikasikan kerangka manusia yang ditemukan di Gedung ACC pada 30 Oktober sebagai jenazah Reno dan Farhan.

“Kami saat itu bertanya, kenapa langsung jump into conclusion atau langsung menuju pada kesimpulan bahwa dua kerangka yang ditemukan di gedung ACC Kwitang itu kerangka Reno dan Farhan?” tanya Dimas.

Padahal, selama dua bulan terakhir, KontraS selalu meminta kepolisian memberikan update berkala kepada keluarga korban. Menurut Dimas, ada beberapa hal yang masih menjadi pertanyaan, seperti mengapa kepolisian langsung memperkirakan kedua kerangka itu adalah Reno dan Farhan, meskipun ada beberapa gedung yang dibakar saat kerusuhan pada Agustus.

“Itu yang menurut kami masih perlu dijelaskan lebih lanjut oleh kepolisian,” katanya.

Ia juga menyoroti kondisi Gedung ACC setelah terbakar. Struktur bangunan masih terlihat dan tidak rata runtuh. Di sisi lain, polisi menyatakan bahwa kerangka tersebut baru mengeluarkan bau tak sedap hampir satu bulan setelah terbakarnya gedung.

KontraS akan terlebih dahulu berkonsultasi dengan keluarga korban setelah menerima kerangka dari kepolisian untuk langkah selanjutnya.

“Akan ditanyakan soal sejumlah hal-hal yang sekiranya masih mengganjal di keluarga. Kami belum bisa menjawab apa yang akan kami tempuh apabila ternyata ada kejanggalan yang sifatnya valid hasil dari asumsi-asumsi itu,” ujar Dimas.

Kepolisian menyimpulkan bahwa dua kerangka manusia yang ditemukan di Gedung ACC Kwitang, Jakarta Pusat, identik dengan Reno Syahputra Dewo dan Muhammad Farhan Hamid.

“Nomor posmortem 0080 cocok dengan antemortem 002 sehingga teridentifikasi sebagai Reno Syahputra Dewo anak biologis dari Bapak Muhammad Yasin,” kata Karo Labdokkes Polri Brigjen Sumy Hastry Purwanti dalam konferensi pers di RS Polri, Jumat (7/11).

“Nomor posmortem 0081 cocok dengan antemortem 001 sehingga teridentifikasi sebagai Muhammad Farhan Hamid anak biologis dari Bapak Hamidi,” tambah dia.

Ia menyampaikan hal itu berdasarkan hasil identifikasi primer pada gigi dan tulang, selain itu didapati kecocokan dengan antemortem atau data kesehatan sebelum kematian.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan