
Teras Cihampelas: Potensi Wisata yang Tidak Terwujud
Teras Cihampelas, salah satu ikon wisata kota Bandung, kini menghadapi berbagai tantangan. Segmen 2 dari Teras Cihampelas terlihat lengang dan tenang, dengan jalur pejalan kaki yang memanjang di bawah rimbun pepohonan besar. Kanopi alami dari dahan dan daun menciptakan kesan teduh. Namun, suasana ini juga menunjukkan tanda-tanda kekurangan perawatan.
Bangku-bangku besi berjajar rapi di sisi kiri dan kanan jalur. Meski demikian, terlihat pula tanda-tanda kurangnya perawatan. Beberapa bangku tampak rusak, dengan papan alas yang terlepas dan berserakan di lantai, menyisakan rangka besi terbuka. Potongan kayu dan serpihan bangku yang jatuh memperkuat kesan bahwa fasilitas ini tidak lagi sepenuhnya terawat.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Isu keamanan bangunan hingga wacana pembongkaran mencuat setelah Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan segmen dua akan dibongkar jika hasil loading test menyatakan struktur tidak layak. Hal ini memicu diskusi tentang pengelolaan dan tata kelola Teras Cihampelas.
Teras Cihampelas sebagai Ikon Wisata
Ketua Koperasi Teras Cihampelas (TeCi), Edo, melihat persoalan ini bukan semata soal bongkar atau tidak, melainkan soal tata kelola. Menurutnya, Teras Cihampelas menyimpan potensi besar sebagai ikon wisata kota, bahkan bisa sejajar dengan kawasan pedestrian legendaris seperti Malioboro di Yogyakarta asal dikelola dengan konsep yang jelas dan satu pintu.
“Kalau kami sih pada dasarnya mengikuti apa pun keputusan Pemerintah Kota Bandung. Tapi yang kami dorong dari dulu itu pengelolaannya. Teras ini terlalu banyak OPD. Aset di satu dinas, lampu di PU, UMKM di Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandung. Kalau ada masalah, urusannya panjang,” kata Edo.
Edo menjelaskan, aktivitas ekonomi UMKM sepenuhnya berada di segmen satu, yang membentang dari kawasan Advent hingga sekitar Hotel Aston. Sementara segmen dua yang diresmikan pada September 2022 lebih berfungsi sebagai ruang publik terbuka tanpa kios pedagang.
Masalah Pengelolaan dan Tantangan Ekonomi
Kondisi itu membuat segmen dua cenderung sepi dan sempat rawan aktivitas negatif sebelum penjagaan diperketat. “Di segmen dua itu enggak ada UMKM sama sekali. Orang ke sana paling foto-foto, ada komunitas senam, dancer, atau kegiatan sekolah atau kampus. Tapi enggak masif. Beda dengan segmen satu yang hidup karena ada pedagang,” ujarnya.
Ia menilai, pengalaman kota lain bisa menjadi rujukan. Malioboro, misalnya, dikelola oleh satu badan khusus sehingga tertata rapi, terawat, dan jelas arah pengembangannya. “Kita pengin Teras Cihampelas ini dikelola seperti Teras Malioboro, bisa dalam bentuk UPTD atau BULD. Jadi jelas ke mana pedagang harus mengadu, jelas juga konsep wisatanya. Pemerintah kan urusannya banyak, banjir, sampah, macet kalau maintenance teras ini tanpa skema kerja sama, berat,” kata Edo.
Saat ini, Teras Cihampelas memiliki 192 kios, terdiri dari 140 kios suvenir dan 52 kios kuliner. Namun realitas di lapangan menunjukkan tantangan berat, terutama bagi pedagang suvenir yang kalah bersaing dengan toko daring. “Kalau kuliner masih bisa bertahan, karena makan itu harus dinikmati di tempat. Tapi suvenir head to head dengan e-commerce. Harga online lebih murah, bisa gratis ongkir,” tuturnya.
Harapan untuk Masa Depan Teras Cihampelas
Meski demikian, Edo menyayangkan jika Teras Cihampelas hanya berhenti sebagai proyek yang dibangun lalu dibiarkan. Terlebih, skywalk ini pernah masuk jajaran skywalk terpanjang ke-4 di dunia. Dikatakannya, Teras Cihampelas sejatinya memiliki nilai simbolik dan kebanggaan tersendiri bagi Kota Bandung.
“Kalau kita melihat Krisna di Bali, Teras Malioboro di Yogyakarta, tentunya kami juga berharapnya seperti itu. Karena sayang banget, Teras Cihampelas ini atau skywalk ini ternyata masuk urutan nomor empat di dunia. Skywalk yang ada di Indonesia cuma kami. Jadi sayang banget kalau tempat ini hanya dibangun lalu dibiarkan,” ujarnya.
Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, para pedagang masih menyimpan harapan agar Teras Cihampelas kembali ke masa jayanya. “Terlebih lagi kan di sini ada teman-teman pedagang yang memang berharap teras ini balik lagi ke masa jayanya seperti di awal,” kata Edo.
Harapan itu sejalan dengan tren kunjungan wisata ke Jawa Barat yang masih tinggi. Wisatawan Nusantara (Wisnus) yang melakukan perjalanan tujuan Jawa Barat pada Oktober 2025 tercatat sebanyak 17,04 juta perjalanan, atau naik 0,10 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang berjumlah 17,03 juta perjalanan.
Pandangan Masyarakat dan Faktor Pendukung
Menurut Yoga (33), warga Tamansari, Kota Bandung, mengatakan kawasan ini sebenarnya memiliki daya tarik unik. “Teras Cihampelas bisa menjadi pusat wisata. Daya tariknya unik, aksesnya mudah, cuma memang PR-nya di transportasi, terutama kemacetan di sekitar Ciwalk,” kata Yoga.
Menurutnya, dari sisi perhotelan kawasan Cihampelas justru sudah sangat mendukung. “Dari segi penginapan padahal sudah mendukung, karena kawasan ini pusat jeans yang sangat tersohor. Menurut saya ini bisa jadi andalan,” ujarnya.
Yoga mengaku sudah lama tidak berkunjung langsung ke Teras Cihampelas, meski kerap melintas di kawasan tersebut. Ia menilai kekhawatiran soal bangunan perlu disikapi serius, namun harus dibarengi pembenahan tata kelola. “Sekilas memang sudah mengkhawatirkan dari sisi bangunannya. Kalau memang harus dibongkar, perhatikan juga tata kelolanya, pengawasan, dan maintenance. Karena pas awal kawasan ini sebenarnya sudah bagus,” katanya.