
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu prioritas utama Presiden Prabowo Subianto sejak awal pemerintahannya terus mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Meskipun telah mencapai 36,7 juta warga, kritik tajam tetap muncul, termasuk dari mahasiswa dan pengguna media sosial.
Menanggapi hal tersebut, Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Hariqo Wibawa Satria, menyatakan bahwa pemerintah tidak menutup diri terhadap kritik. Bahkan, pihaknya menjadikan masukan tersebut sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas program.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Kami percaya bahwa orang-orang yang mengkritik MBG ini sebenarnya ingin melihat program ini disajikan dengan lebih baik," ujar Hariqo saat berkunjung ke aiotrade, Senin (20/10).
Ia menekankan bahwa setiap masukan, baik yang pedas maupun pahit, dianggap penting dalam memperbaiki pelaksanaan program agar semakin tepat sasaran dan berkualitas. Menurutnya, pemerintah sadar masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan MBG.
"Oleh karena itu, Pak Mensesneg, Pak Prasetyo Hadi, langsung meminta maaf atas berbagai kekurangan dalam pelaksanaan MBG. Termasuk juga Pak Dadan dan jajaran BGN, Bu Nani juga meminta maaf," jelas Hariqo.
Ia menambahkan bahwa kesadaran akan kekurangan dan kesalahan dalam program MBG menjadi dasar bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan. "Yang paling penting adalah mengakui kesalahan tersebut," tambahnya.
Hariqo juga merespons kritik dari Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) UGM yang membuat plesetan kepanjangan MBG menjadi "Makan Beracun Genosida". Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak pernah memandang kritik terhadap MBG sebagai bentuk kebencian terhadap pemerintahan.
Namun, ia menekankan bahwa kritik harus berdasarkan fakta. "Kalau kita masukkan ke hati, itu ada yang mengatakan makan beracun gratis. Bahkan ada salah satu BEM, kalau tidak salah UGM, yang menulis 'makan beracun genosida'."
Meski menggunakan istilah keras seperti "genosida", pemerintah memilih untuk tidak bereaksi berlebihan. Bagi Hariqo, kritik semacam itu justru menjadi pemicu bagi pemerintah untuk memperbaiki program agar lebih baik.
"Kan ngeri nih dia pakai istilah genosida loh. Menggunakan istilah genosida ini kan gak bisa sembarangan. Ya begitu kita membaca ini, saya kebetulan juga kuliah di Jogja gitu loh. Apa enggak ada kata-kata yang lain untuk mengkritisi MBG ini tapi oke lah gitu loh," ucapnya.
Keberhasilan MBG: Puluhan Juta Penerima Manfaat dan Buka Lowongan Kerja Baru
Hariqo menegaskan bahwa di balik kritik yang ada, program MBG telah membawa manfaat nyata bagi masyarakat luas. Hingga kini, puluhan juta warga Indonesia sudah menikmati makan bergizi gratis setiap hari. Program MBG juga membuka lapangan kerja baru hingga 600 ribu orang di seluruh Indonesia.
Selain itu, MBG menjadi bagian penting dalam upaya menurunkan angka stunting, anemia, dan memperbaiki pola makan anak-anak Indonesia. Program ini merupakan fondasi menuju Indonesia Emas 2045, karena menyentuh langsung aspek kesehatan dasar masyarakat.
"Kalau kita sederhananya begini, kita melihat makan bergizi ini seperti aplikasi gitu loh. Semakin banyak kritik yang pahit, yang keras dari masyarakat, ini justru akan menyempurnakan dari makan bergizi gratis itu," jelasnya.