Prabowo: Jangan Terlalu Pintar, Pelajari dari Nenek Moyang

admin.aiotrade 16 Des 2025 3 menit 14x dilihat
Prabowo: Jangan Terlalu Pintar, Pelajari dari Nenek Moyang
Prabowo: Jangan Terlalu Pintar, Pelajari dari Nenek Moyang

Peran Lumbung Pangan Desa dalam Menghadapi Krisis Pangan Nasional

Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya menghidupkan kembali lumbung pangan tradisional sebagai strategi untuk menghadapi mahalnya harga beras di Papua dan pelajaran dari bencana yang terjadi di beberapa wilayah Sumatra. Hal ini disampaikan oleh Prabowo saat memberikan arahan kepada para gubernur, bupati, dan wali kota se-Papua dalam rapat percepatan pembangunan Otonomi Khusus Papua, Selasa (16/12/2025).

Konsep Lumbung Pangan yang Harus Dihidupkan Kembali

Menurut Prabowo, konsep lumbung pangan perlu dihidupkan kembali agar setiap daerah memiliki ketahanan sendiri, terutama saat menghadapi kondisi darurat atau gangguan distribusi. Ia menjelaskan bahwa setiap tingkatan masyarakat harus memiliki lumbung pangan, mulai dari desa hingga nasional.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Kita tanyalah kepada kakek-kakek kita dulu ada lumbung desa, kita harus ada lumbung desa sekarang, harus ada lumbung kecamatan, harus ada lumbung kabupaten, harus ada lumbung provinsi, dan harus ada lumbung-lumbung nasional,” ujarnya.

Prabowo menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan kunci utama keberlangsungan bangsa. Ia menekankan bahwa bangsa Indonesia tidak perlu merasa paling pintar, melainkan cukup belajar dari pengalaman leluhur.

“Jadi kita tidak usah terlalu pintar, belajar aja dari nenek moyang kita kenapa dulu ada lumbung desa. Kita harus siap untuk kemungkinan yang paling jelek, itu pelajaran,” jelasnya.

Pelajaran dari Bencana Sumatra

Prabowo juga menekankan bahwa bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, serta Sumatra Barat menjadi pelajaran penting. Menurutnya, peristiwa tersebut menunjukkan perlunya kemandirian pangan di tingkat desa melalui konsep lumbung desa yang sejak lama dikenal masyarakat.

“Bencana yang kita lihat sekarang di Sumatra Utara, Aceh, dan di Sumatra Barat memberi pelajaran lagi kepada kita. Kalau terjadi sesuatu di mana komunikasi putus, desa itu harus bisa bertahan. Kecamatan itu harus bisa bertahan. Kabupaten harus bisa bertahan,” ujarnya.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Selasa (16/12/2025), total korban jiwa di tiga provinsi tersebut mencapai 1.053 orang. Ratusan orang masih hilang dan lebih dari 600 ribu warga mengungsi.

Ketergantungan Wilayah dan Biaya Logistik

Prabowo juga menyoroti kondisi geografis Indonesia yang luas, yang membuat ketergantungan antarwilayah tidak efisien, terutama dari sisi biaya logistik.

“Masalahnya adalah karena negara kita begitu besar tidak bisa satu pulau tergantung pulau lain. Satu ongkos logistik itu terlalu besar sehingga beras yang mungkin produksinya di satu daerah hanya 8 ribu rupiah atau 9 ribu rupiah, di suatu provinsi bisa 25 ribu rupiah karena faktor komunikasi, karena faktor logistik,” ucapnya.

Data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan per 4 Desember 2025 mencatat harga beras medium di Papua Pegunungan Rp23 ribu/kg, sedangkan beras premium Rp27 ribu/kg. Angka ini jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.500–Rp15.800/kg.

Swasembada Sesuai Potensi Alam

Prabowo menegaskan setiap daerah harus mengembangkan sumber pangan sesuai kondisi alam masing-masing. Ia menyarankan agar daerah dengan potensi sawah dapat fokus pada produksi beras, sementara daerah lain dapat berkembang pada tanaman seperti jagung, sagu, atau singkong.

“Jadi kita dipaksa oleh alam kita untuk masing-masing mengejar swasembada pangan. Di mana saudara bisa punya sawah-sawah untuk beras mari kita lakukan, atau kebun-kebun jagung atau sagu atau singkong,” ujarnya.

Ia menyebut ketahanan pangan sebagai kunci utama keberlangsungan bangsa. “Ingat ini adalah kunci survival kita sebagai bangsa, ini pelajaran ribuan tahun,” katanya.

Pesan Prabowo: Ketahanan Pangan sebagai Pelajaran Nenek Moyang

Dalam acara tersebut hadir 42 bupati dan 6 gubernur se-Papua, serta 10 anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua. Turut hadir sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara, termasuk Mensesneg Prasetyo Hadi, Mendagri Tito Karnavian, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Kapolri Jenderal Listyo Sigit, dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.

Pesan Prabowo sederhana namun menggugah: ketahanan pangan bukan sekadar kebijakan, melainkan pelajaran dari nenek moyang dan pengalaman pahit bencana yang harus dihidupkan kembali.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan