
Alasan Pembentukan Kementerian Haji dan Umrah
Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan alasan dibentuknya Kementerian Haji dan Umrah. Menurutnya, hal ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan permintaan yang datang dari pihak Arab Saudi.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Kita mendirikan Kementerian Haji, atas permintaan Arab Saudi,” kata Presiden dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, pada Senin (20/10/2025). Ia menjelaskan bahwa pihak Arab Saudi menyampaikan bahwa urusan haji harus diurus oleh seorang menteri, bukan hanya oleh kepala badan.
“Karena dia bilang 'Kami urusan haji adalah Menteri Haji. Jadi kami minta urusannya sama pejabat,'” tambahnya.
Sebelumnya, Prabowo telah mengajukan Kepala Badan Penyelenggara Haji dan Umrah untuk mewakili urusan haji. Namun, pihak Arab Saudi lebih menginginkan adanya perwakilan setingkat menteri.
“Ya sudah, apa boleh buat kita menyesuaikan,” ujarnya.
Pembentukan Kementerian Haji dan Umrah ini merupakan bagian dari upaya peningkatan status Badan Penyelenggara Haji dan Umrah menjadi kementerian. Presiden Prabowo telah melantik Mochamad Irfan Yusuf sebagai Menteri Haji dan Umrah, serta Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai wakilnya pada 8 September 2025 lalu.
Penurunan Biaya Haji
Dengan dibentuknya kementerian tersebut, Presiden juga menyatakan bahwa biaya haji berhasil diturunkan. Ia yakin bahwa biaya haji masih bisa ditekan lagi melalui upaya efisiensi dan pelaksanaan yang bersih.
“Saya minta terus Menteri Haji, dia tidak hadir karena sekarang di Arab Saudi, saya minta biaya haji terus turun. Bisa, dengan efisiensi dan pelaksanaan yang bersih,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga menyebutkan keberhasilan lain dalam pengelolaan haji, yaitu memangkas waktu tunggu haji dari 40 tahun menjadi 26 tahun.
“Waktu tunggu haji juga bisa dipercepat, dari 40 tahun sekarang bisa hampir setengah kita potong tunggu 26 tahun, tapi itu masih lama juga. Kita berusaha untuk memotong lebih,” ucap Prabowo.
Upaya Lebih Lanjut
Presiden Prabowo menekankan bahwa pihaknya akan terus berupaya untuk meningkatkan kualitas layanan haji. Dalam sidang tersebut, ia menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah Indonesia dan pihak Arab Saudi dalam mengatur urusan haji.
“Kita akan terus bekerja sama dengan pihak Arab Saudi untuk memastikan bahwa layanan haji dapat ditingkatkan secara signifikan,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa pembentukan Kementerian Haji dan Umrah merupakan langkah strategis untuk memperkuat koordinasi dan pengawasan dalam pengelolaan haji.
Tantangan dan Peluang
Meskipun ada beberapa tantangan dalam proses penyesuaian sistem haji, Presiden optimis bahwa dengan komitmen yang kuat dan kerja sama yang baik, semua masalah dapat diatasi.
“Kita harus terus berinovasi dan mencari solusi yang terbaik untuk masyarakat yang ingin melaksanakan ibadah haji,” tegasnya.
Dengan adanya Kementerian Haji dan Umrah, diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi jemaah haji dan umrah, serta meningkatkan citra Indonesia dalam pengelolaan haji.