
Perdamaian di Gaza, Kekuatan Bersama Indonesia dan Afrika Selatan
Langit Jakarta siang hari terlihat cerah, meski udara terasa tebal oleh upacara dan protokol kenegaraan. Di halaman Istana Merdeka, derap langkah pasukan kehormatan berbaris serempak, menyambut tamu negara dari benua jauh di selatan. Presiden Prabowo Subianto berdiri tegak di samping Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa—dua pemimpin yang datang dari sejarah perjuangan berbeda, namun kini disatukan oleh satu pesan: perdamaian di Palestina.
Dari balkon Istana, bendera merah putih berkibar berdampingan dengan warna hijau, kuning, dan hitam milik Afrika Selatan. Di sela dentuman meriam kehormatan, percakapan keduanya berlangsung hangat namun sarat pesan politik global. Dalam pernyataan bersama di Istana Merdeka, Rabu, 22 Oktober 2025, Ramaphosa menegaskan komitmennya bersama Presiden Prabowo untuk mendorong penyelesaian konflik di Gaza.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Kami bertukar pandangan tentang upaya mengakhiri konflik di Gaza dan mengamankan perdamaian yang adil dan abadi, yang mewujudkan aspirasi rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri,” ucap Ramaphosa. Bagi kedua negara yang sama-sama lahir dari sejarah panjang perjuangan kemerdekaan, isu Palestina bukan sekadar politik luar negeri, tetapi juga nilai moral.
“Solusi dua negara adalah jalan satu-satunya,” lanjut Ramaphosa. “Negara ‘Israel’ hidup berdampingan dengan negara Palestina, dalam damai dan saling menghormati.” Prabowo mengangguk, menegaskan bahwa Indonesia sejak awal mendukung kemerdekaan Palestina. Bagi pemerintahan barunya, diplomasi untuk perdamaian Timur Tengah menjadi bagian dari tanggung jawab global Indonesia di era kepemimpinannya.
Menjembatani Selatan Global
Pertemuan kedua pemimpin juga melahirkan kesepakatan memperkuat hubungan bilateral di bidang ekonomi dan keamanan. Ramaphosa memuji bergabungnya Indonesia sebagai anggota terbaru kelompok BRICS, blok ekonomi yang kini beranggotakan Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan—dan kini Indonesia.
“Kami sepakat untuk memperluas kerja sama di BRICS dan G20,” kata Ramaphosa. “Kami ingin memperkuat sistem multilateral yang mampu menyelesaikan konflik melalui dialog, bukan senjata.” Bagi Indonesia, kemitraan ini adalah juga tentang memperkuat suara negara-negara selatan dunia (Global South) dalam tatanan geopolitik global. Kedua pemimpin sepakat meningkatkan volume perdagangan yang selama ini masih di bawah potensi, serta mempercepat kerja sama pertahanan yang telah dirintis selama beberapa tahun terakhir.
Prabowo diundang ke KTT G20 di Johannesburg. Dalam kesempatan itu, Ramaphosa juga mengundang Prabowo menghadiri KTT G20 di Johannesburg bulan depan. “Kami akan merasa terhormat untuk menerima Presiden Subianto di Afrika Selatan,” ujarnya. “Beliau menunjukkan kesiapan untuk berkunjung dan memperdalam kemitraan strategis kedua negara.”
Pertemuan ini menandai awal kunjungan kenegaraan Ramaphosa ke Indonesia. Sore harinya, Prabowo dijadwalkan menjamu Ramaphosa dalam santap malam kenegaraan di Istana Negara—suatu tradisi diplomasi yang sarat simbol persahabatan.
Pesan Utama di Balik Gestur Diplomatik
Namun di balik gestur diplomatik dan jabat tangan di karpet merah, pesan utama dari pertemuan ini jauh lebih besar: dua negara dari dua benua menyerukan kembali pentingnya kemanusiaan di tengah perang yang tak kunjung padam di Gaza.
Afrika Selatan telah lama dikenal sebagai salah satu suara paling vokal dalam mengecam agresi ‘Israel’ terhadap Palestina. Indonesia, di sisi lain, secara konsisten menolak normalisasi diplomatik dengan Tel Aviv selama pendudukan masih berlangsung. Dalam konteks itu, kolaborasi Jakarta–Pretoria tampak seperti upaya memperkuat solidaritas lintas benua demi keadilan bagi rakyat Palestina.
Sebagaimana Prabowo sampaikan dalam pidato singkatnya, “Indonesia dan Afrika Selatan memiliki sejarah yang sama—bangkit dari penjajahan. Kami tahu bagaimana rasanya diperjuangkan, dan kami tahu bagaimana rasanya memperjuangkan.”
Di bawah sinar sore Jakarta, kedua pemimpin menuruni tangga Istana Merdeka. Di halaman, pasukan kehormatan kembali berdiri tegak. Namun gema pertemuan hari itu melampaui upacara: ia bergema ke arah Gaza, ke arah dunia yang menantikan perdamaian yang belum juga tiba.