
Permasalahan Sampah di Indonesia Bukan Hanya Soal Kebersihan
Prasasti Center for Policy Studies menyatakan bahwa masalah sampah tidak lagi hanya menjadi isu kebersihan, tetapi telah memasuki ranah ekonomi, kesehatan publik, dan keberlanjutan lingkungan. Namun, Prasasti juga melihat adanya peluang ekonomi yang besar jika krisis sampah bisa dikelola dengan baik.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Hal ini disampaikan oleh Gundy Cahyadi, Research Director Prasasti Center for Policy Studies, dalam diskusi Building a Circular Future yang diadakan oleh PT TBS Energi Utama Tbk. Ia menjelaskan bahwa sekitar 40% sampah nasional belum dikelola secara optimal. “Lebih dari 80% di antaranya berakhir di pembakaran terbuka atau open dumping landfill. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan polusi tetapi juga menjadi ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat dan iklim,” ujarnya di Jakarta, Jumat (14/11).
Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2024 mencatat total sampah di Indonesia telah mencapai 34 juta ton. “Jika diilustrasikan, jumlah tersebut setara dengan rangkaian gerbong kereta api yang membentang dari Sabang hingga Merauke,” tambah Gundy.
Tiga Penyebab Utama Krisis Sampah
Gundy mengidentifikasi tiga penyebab utama di balik krisis sampah di Indonesia. Pertama, pertumbuhan penduduk yang pesat sehingga meningkatkan volume sampah rumah tangga. Kedua, perubahan pola konsumsi masyarakat menuju gaya hidup yang semakin didorong oleh konsumsi. Hal ini ditandai dengan meningkatnya penggunaan kemasan sekali pakai serta layanan makanan instan dan jasa pengantaran makanan (food delivery). Ketiga, keterbatasan infrastruktur dan sistem pengelolaan sampah yang hingga kini masih bersifat “tambal sulam”.
“Regulasi sebenarnya sudah ada, tapi implementasinya sering berhenti di tengah jalan. Banyak daerah bahkan belum memiliki sistem pengelolaan yang solid,” jelas Gundy. Ia juga menyoroti ketimpangan layanan pengumpulan sampah, minimnya investasi sektor lingkungan, serta lemahnya penegakan hukum sebagai faktor penghambat utama.
Potensi Ekonomi Pengelolaan Sampah
Meski demikian, Prasasti melihat adanya peluang ekonomi besar di balik krisis tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak pelaku usaha dan investor yang mulai melirik sektor pengelolaan sampah sebagai bisnis berkelanjutan dan sumber penciptaan lapangan kerja hijau (green jobs). Menurut Gundy, apabila mendapatkan solusi yang baik, krisis sampah bisa menjadi berkah.
“Tantangan geografis Indonesia memang kompleks mulai dari logistik hingga biaya tinggi tapi potensi ekonominya juga luar biasa. Pengelolaan sampah bisa menjadi pintu masuk menuju ekonomi sirkular dan transisi hijau,” kata Gundy.
Solusi Jangka Panjang untuk Mengubah Narasi Sampah
Prasasti menilai, solusi jangka panjang hanya bisa tercapai jika ada sinergi lintas sektor antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil. Pendekatan berbasis kolaborasi, inovasi teknologi, serta investasi pada rantai nilai daur ulang menjadi kunci agar Indonesia bisa mengubah narasi “krisis” menjadi “kesempatan.”
“Kalau ketiganya dapat bersinergi, tumpukan masalah ini bisa kita ubah menjadi tumpukan peluang. Sudah saatnya Indonesia dikenal bukan karena sampahnya, tapi karena solusinya,” ujar Gundy.