Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Kalimantan Timur pada 2026
Pertumbuhan ekonomi di tiga wilayah Kalimantan Timur, yaitu Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser, diprediksi tetap kuat pada tahun 2026. Prediksi ini didasarkan pada sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan ekonomi daerah tersebut, termasuk sektor unggulan seperti industri pengolahan, konstruksi IKN, dan pertambangan.
Bank Indonesia (BI) Balikpapan menyampaikan perkembangan inflasi dan kondisi makroekonomi di wilayah kerjanya. Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, menjelaskan bahwa inflasi di Balikpapan dan PPU sepanjang 2025 diperkirakan masih berada dalam sasaran inflasi nasional, yakni 2,5 persen ±1 persen. Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi di tiga wilayah diproyeksikan tetap kuat pada 2026, didukung oleh sektor unggulan masing-masing daerah.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Sektor Unggulan Penopang Pertumbuhan
BI menilai sejumlah sektor akan menjadi penggerak utama ekonomi daerah:
- Industri pengolahan di Balikpapan.
- Konstruksi di PPU, seiring berlanjutnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
- Pertambangan di Paser, yang masih menjadi tulang punggung ekonomi wilayah tersebut.
Selain itu, BI menekankan pentingnya optimalisasi produksi pangan lokal untuk menjaga pasokan dan menekan inflasi. Upaya ini mencakup pemanfaatan lahan pekarangan di PPU serta pengembangan budidaya cabai di Paser yang digerakkan oleh kelompok PKK.
Sinergi Pengendalian Inflasi
Robi menambahkan, sinergi antarwilayah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menjadi kunci menjaga stabilitas harga. Kolaborasi ini diperkuat dengan kerjasama antar daerah (KAD) serta monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara konsisten.

Sebelumnya, TPID telah menggelar High Level Meeting (HLM) di Balikpapan untuk merumuskan strategi pengendalian inflasi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru 2025–2026. Salah satu langkah konkret adalah pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai wilayah:
- Balikpapan selama 10 hari.
- PPU selama 12 hari.
- Paser selama 23 hari.
Langkah ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus menekan gejolak harga komoditas strategis.
Dalam Rakor TPID gabungan tersebut, tiga komitmen utama disepakati:
- Mendorong kerjasama pasokan SPPG-MBG antara daerah dan produsen seperti kelompok tani serta pesantren, sekaligus mengoptimalkan Kerjasama Antar Daerah (KAD) dengan sentra produksi di luar Kaltim.
- Pengajuan usulan peninjauan HET beras, khususnya untuk Balikpapan yang bukan wilayah sentra pangan, agar penetapan harga dapat memperhatikan kondisi geografis dan distribusi.
- Optimalisasi GPM/PM/OP menjelang HBKN, termasuk integrasi informasi melalui aplikasi bersama agar publik dapat mengakses pembaruan harga dan lokasi kegiatan secara cepat.
Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Kaltim di 2026
Di triwulan III tahun ini, pertumbuhan ekonomi Kaltim melambat, namun tahun depan justru diprediksi membaik. Bank Indonesia menegaskan bahwa stabilitas ekonomi Kaltim diprediksi semakin kokoh pada tahun 2026.
Optimisme ini disampaikan dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 yang digelar di Samarinda pada Jumat (28/11/2025) malam. Bank Indonesia menilai sinergi lintas sektor menjadi kunci penting menghadapi tantangan global sekaligus menjaga ketahanan ekonomi daerah.
Plh. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Bayuadi Hardiyanto, menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin selama ini antara Bank Indonesia dan seluruh mitra strategis—mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga akademisi. Menurutnya, kolaborasi tersebut telah berperan besar dalam menjaga stabilitas ekonomi regional.
"Dukungan dan kolaborasi terhadap berbagai program sangat penting dalam menjaga stabilitas ekonomi Kalimantan Timur," tegas Bayuadi di hadapan para pemangku kepentingan.
Dalam paparan outlook 2026, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur melonjak di kisaran 4,50 hingga 5,30 persen. Lonjakan ini didorong oleh peningkatan kapasitas industri refinery migas, percepatan pembangunan proyek strategis, serta penguatan investasi secara keseluruhan. Sementara inflasi diperkirakan tetap terkendali dalam sasaran nasional, yakni 2,5 ± 1 persen.
Prediksi ini diyakini semakin solid berkat koordinasi pengendalian inflasi antar-instansi serta inovasi kebijakan yang terus digulirkan di tingkat daerah. Meski demikian, Bank Indonesia mengingatkan agar kewaspadaan tetap dijaga.
Bayuadi menyoroti sejumlah risiko yang berpotensi mengganggu prospek positif tersebut, antara lain transisi energi global yang menahan permintaan batubara, gejolak harga emas dan minyak dunia, hingga risiko iklim yang dapat menekan kinerja sektor pertanian.
“Risiko gejolak iklim yang dapat menekan kinerja sektor pertanian juga mesti diwaspadai,” sebutnya.
Asisten II Setdaprov Kaltim, Ujang Rachmad, menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi Kalimantan Timur bertumpu pada kolaborasi berkesinambungan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, pelaku usaha, hingga akademisi. Menurutnya, sinergi kuat adalah fondasi utama untuk memastikan stabilitas dan pertumbuhan yang berkelanjutan.