Presiden Iran Menegaskan Tidak Akan Menyetujui Syarat AS untuk Mengakhiri Perang
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa ia ingin mengakhiri perang dengan Amerika Serikat dan Israel tanpa mengorbankan martabat negaranya. Ia menolak untuk menyetujui syarat-syarat yang diajukan oleh AS, khususnya terkait penghentian program senjata nuklir Iran. Hal ini dilakukan agar perang yang telah berlangsung lebih dari sebulan bisa segera berakhir.
Donald Trump mengatakan Iran seharusnya tidak menggunakan hak nuklirnya. Namun, (ia) tidak menjelaskan kejahatan apa yang telah dilakukan Iran, kata Pezeshkian saat berkunjung ke Kementerian Olahraga dan Pemuda Iran, seperti dilansir oleh Anadolu Agency pada Minggu (19/4/2026).
Penghentian Program Senjata Nuklir Jadi Syarat Utama untuk Mengakhiri Perang
Sebagaimana diketahui, penghentian program senjata nuklir menjadi salah satu syarat utama yang diberikan oleh AS kepada Iran agar perang bisa berakhir. Namun, Iran memutuskan untuk menolak syarat tersebut. Penolakan ini membuat negosiasi perdamaian tahap pertama yang dilakukan AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, pada pekan lalu gagal total.
Kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan berupaya mendapatkan senjata nuklir, dan mereka tidak akan berupaya mendapatkan alat-alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat memperoleh senjata nuklir. Itulah tujuan utama presiden Amerika Serikat, dan itulah yang telah kami coba capai melalui negosiasi ini, kata Wakil Presiden AS, JD Vance, usai melakukan pertemuan dengan perwakilan Iran dilansir oleh Times of Israel.

Trump Mengklaim Iran Setuju Menyetop Program Senjata Nuklirnya
Namun, Presiden AS, Donald Trump, pada Kamis (16/4/2026) lalu menyebut Iran kini sudah setuju untuk menghentikan program senjata nuklirnya. Ini dilakukan agar perang dengan AS dan Israel bisa berakhir permanen. Selain itu, Trump juga mengklaim bahwa Iran kini sudah setuju untuk menyerahkan pasokan uraniumnya kepada AS.
Semua klaim yang dilontarkan Trump tadi dibantah keras oleh Iran. Iran menegaskan tidak akan setuju menghentikan program nuklir dan memberi cadangan uraniumnya ke AS. Presiden Amerika Serikat membuat tujuh klaim dalam satu jam. Ketujuh klaim tersebut salah. Mereka tidak memenangkan perang dengan kebohongan ini. Mereka pasti tidak akan mendapatkan apa pun dalam negosiasi, tulis Juru Bicara Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, dalam sebuah unggahan di X.

Ghalibaf Meminta Semua Pihak Jangan Terpapar Klaim Palsu Trump
Bantahan yang dilontarkan Ghalibaf tadi lantas dipertegas oleh Kementerian Luar Negeri Iran. Mereka mengatakan Iran tidak akan pernah menyerahkan cadangan uraniumnya ke negara mana pun, termasuk ke Negeri Paman Sam.
"Uranium yang diperkaya milik Iran tidak akan dipindahkan ke mana pun; memindahkan uranium ke Amerika Serikat bukanlah pilihan bagi kami," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dilansir oleh Jerusalem Post.
Oleh karena itu, Ghalibaf meminta semua pihak agar jangan termakan klaim palsu yang kerap dilontarkan Trump. Sebab, menurutnya, semua klaim Trump yang menyangkut Iran adalah hoaks dan berpotensi menyesatkan publik.

Isu-isu Lain Terkait Krisis Iran dan Negara-negara Lain
Selain isu tentang perang antara Iran dan AS, beberapa topik lain juga muncul dalam diskusi internasional. Misalnya, isu tentang kapal perang AS yang masuk ke perairan Indonesia di Selat Malaka, serta rencana AS untuk memburu dan menyita kapal Iran di perairan internasional. Selain itu, Megawati Soekarnoputri juga menyampaikan pandangannya terkait krisis antara Iran dan Venezuela, yang dianggap sebagai indikasi bahwa dunia sedang diguncang oleh berbagai tantangan global.
Beberapa isu ini menjadi sorotan media internasional dan menjadi bahan perdebatan antara para ahli politik dan analis internasional.