Presiden Prabowo Dipanggil Jokowi di KTT ASEAN oleh TV Malaysia

admin.aiotrade 26 Okt 2025 3 menit 14x dilihat
Presiden Prabowo Dipanggil Jokowi di KTT ASEAN oleh TV Malaysia

Insiden Memalukan Saat KTT ASEAN 47 di Kuala Lumpur

Pada gelaran Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia, terjadi sebuah insiden yang cukup memalukan. Dalam siaran langsung yang disiarkan oleh Radio Televisyen Malaysia (RTM), komentator secara tidak sengaja menyebut Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dengan nama Joko Widodo. Kesalahan ini menimbulkan kehebohan di kalangan jurnalis yang hadir dalam acara tersebut.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Insiden ini terjadi saat sesi kedatangan para pemimpin negara di Pusat Konvensi Kuala Lumpur (KLCC) pada Minggu, 26 Oktober 2025. Ketika rombongan resmi Indonesia tiba dan Presiden Prabowo Subianto melangkah keluar dari kendaraan kenegaraan, komentator mengatakan:

Tiba Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Ucapan ini terdengar jelas dalam siaran langsung dan segera menarik perhatian para wartawan yang sedang melaporkan jalannya acara.

Permintaan Maaf Terbuka dari RTM

Tidak butuh waktu lama bagi RTM untuk merespons insiden tersebut. Dalam pernyataan resmi yang dirilis tak lama setelah kejadian, lembaga penyiaran publik Malaysia itu menyampaikan permintaan maaf kepada Presiden Prabowo Subianto, Pemerintah Indonesia, dan masyarakat kedua negara.

Departemen Penyiaran Malaysia menyampaikan permohonan maaf yang tulus atas kesalahan yang terjadi selama siaran langsung RTM dalam rangka KTT ke-47 ASEAN dan pertemuan terkait yang diadakan di Pusat Konvensi Kuala Lumpur (KLCC), tulis RTM dalam keterangan resminya.

RTM juga mengonfirmasi bahwa kesalahan murni terjadi akibat kekeliruan komentator dalam mengidentifikasi kepala negara Indonesia. Mereka menegaskan, tidak ada unsur kesengajaan dalam kejadian tersebut.

Setelah insiden viral di berbagai platform media sosial dan menjadi perbincangan publik, RTM langsung melakukan penyelidikan internal. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa komentator memang keliru menyebut nama Presiden yang tengah menjabat.

Penyelidikan internal telah dilakukan, dan hasilnya menunjukkan bahwa komentator siaran telah salah mengidentifikasi Presiden Republik Indonesia yang kini menjabat, Prabowo Subianto, dengan pendahulunya, bunyi laporan resmi yang dikutip dari Antara.

RTM menegaskan bahwa mereka menganggap insiden ini sebagai hal serius. Sebagai lembaga penyiaran pemerintah, kesalahan identifikasi pemimpin negara sahabat dinilai mencoreng profesionalitas dan kredibilitas penyiaran mereka.

RTM memandang hal ini dengan serius dan telah mengambil tindakan yang sesuai. RTM dengan ini menyampaikan permohonan maaf kepada Presiden dan Pemerintah Republik Indonesia, serta kepada semua pihak yang terdampak oleh kesalahan ini, lanjut pernyataan tersebut.

Komitmen Profesionalisme

Sebagai langkah korektif, RTM menyatakan akan memperketat proses editorial serta meningkatkan pelatihan bagi seluruh tim siaran. Hal ini dilakukan agar setiap laporan, terutama yang bersifat kenegaraan dan diplomatik, disajikan dengan tingkat akurasi tinggi dan memegang teguh etika jurnalistik.

Mereka juga berjanji untuk memperkuat sistem verifikasi fakta sebelum tayangan disiarkan secara langsung, guna memastikan tidak ada lagi kesalahan dalam penyebutan nama maupun jabatan para pemimpin negara.

Ke depan, RTM berkomitmen menjaga integritas dan kredibilitas sebagai media publik nasional, dengan memastikan setiap informasi yang disampaikan akurat, terpercaya, dan bebas dari kesalahan, tegas pihak RTM.

Reaksi Publik dan Nilai Diplomasi

Meski insiden ini berlangsung singkat, publik di Malaysia maupun Indonesia ramai membicarakannya. Sebagian menilai hal tersebut sebagai bentuk keteledoran teknis, namun ada pula yang menilai kejadian ini menjadi pengingat penting bagi media agar lebih berhati-hati dalam menyiarkan acara kenegaraan.

Pengamat hubungan internasional Prof. Dr. Zulkifli Rahman dari Universiti Malaya menilai, sikap cepat RTM dalam mengakui kesalahan dan meminta maaf menunjukkan kedewasaan diplomatik.

Kesalahan teknis memang bisa terjadi, tetapi yang terpenting adalah tanggapan cepat dan itikad baik untuk memperbaikinya. RTM menunjukkan profesionalisme dengan meminta maaf secara terbuka, ujar Zulkifli kepada The Star Malaysia.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan