Penobatan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional Mengundang Perdebatan
Wacana penobatan Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, sebagai Pahlawan Nasional oleh Kementerian Kebudayaan RI kembali menjadi perbincangan di Karanganyar. Berbagai pandangan muncul dari masyarakat setempat, baik pro maupun kontra terhadap rencana tersebut.
Salah satu warga Karanganyar, Yoseph Heriyanto, menyatakan penolakannya terhadap wacana ini. Ia menilai masa kepemimpinan Soeharto penuh dengan pelanggaran HAM, praktik korupsi, dan monopoli ekonomi yang dilakukan oleh keluarganya. Menurutnya, gelar Pahlawan Nasional bukan sekadar penghargaan politik, melainkan bentuk pengakuan moral dan sejarah.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Saya menolak bukan karena benci, tapi selama Soeharto menjadi presiden banyak kasus HAM yang terjadi akibat kepemimpinan yang otoriter. Selain itu, juga KKN yang melibatkan keluarganya serta penguasaan atau monopoli ekonomi oleh keluarga Soeharto,” ujarnya.
Yoseph meminta pemerintah pusat mengkaji ulang wacana tersebut secara hati-hati dan objektif. Ia menegaskan bahwa pengangkatan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional harus didasarkan pada fakta sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Keluarga Soeharto Bersyukur atas Rencana Ini
Di sisi lain, pihak keluarga Soeharto menyambut baik wacana penobatan tersebut. Putri keempat Soeharto, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, menyampaikan rasa syukur atas rencana pemerintah yang disebut telah mendapat dukungan luas dari berbagai pihak.
“Alhamdulillah, kami bersyukur dan keluarga bersyukur kalau pemerintah berkenan dengan dukungan masyarakat seluruhnya, berkenan untuk memberikan gelar pahlawan nasional untuk almarhum Pak Harto,” ujar Titiek saat meninjau SMP Kemala Bhayangkari dan SPPG Yayasan Kemala Bhayangkari, Jumat (7/11/2025).
Titiek menyebut, mayoritas fraksi di DPR RI telah menyetujui wacana pemberian gelar tersebut. “Semua fraksi di DPR RI sudah setuju kecuali mungkin satu fraksi yang lain,” singkatnya.
Meski menuai pro dan kontra di kalangan publik, pihak keluarga menilai gelar pahlawan nasional bagi Soeharto merupakan bentuk penghargaan atas pengabdian dan jasa-jasanya selama memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade.
Wacana Muncul Kembali di Era Prabowo
Belakangan, wacana menetapkan Presiden kedua Republik Indonesia Soeharto menjadi pahlawan nasional kembali mencuat di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Diketahui, Prabowo Subianto pernah menjadi menantu Pak Harto.
Beberapa waktu ini, nama Soeharto masuk dalam daftar sembilan nama lainnya yang diusulkan untuk menjadi pahlawan nasional tahun 2025 oleh Kementerian Sosial (Kemensos) bersama Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) pada Maret 2025.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan, Soeharto diusulkan menjadi pahlawan nasional lewat provinsi Jawa Tengah. Usulan tersebut dilayangkan oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi setelah mendapatkan masukan dari masyarakat.
“Tentu awalnya adalah masukan dari gubernur. Gubernur mendapatkan masukan dari bupati, wali kota, yang sebelumnya bupati dan wali kota itu adalah masukan dari masyarakat lewat seminar dan lain sebagainya,” ujar Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul di Kompleks Widya Chandra, Jakarta, Minggu (20/4/2025) malam.
Ia mengatakan, untuk wacana yang diusulkan oleh Gubernur Jateng, nama Soeharto sudah dikaji terlebih dahulu yang melibatkan banyak pihak, termasuk sejarawan dan tokoh daerah.
“Setelah seminar selesai, ada sejarawannya, ada tokoh-tokoh setempat, dan juga narasumber lain yang berkaitan dengan salah seorang tokoh yang diusulkan jadi pahlawan nasional. Setelah itu, nanti prosesnya naik ke atas, ke gubernur, ada seminar lagi, setelah itu baru ke kami,” kata Saifullah.
Makam Soeharto di Karanganyar
Astana Giribangun yang berada di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi presiden kedua Indonesia, Soeharto, dan istrinya, Siti Hartinah atau lebih dikenal dengan Ibu Tien Soeharto.
Wafat pada 28 Januari 2008, Soeharto dikebumikan di samping makam Ibu Tien. Seperti diketahui, Ibu Tien lebih dulu berpulang pada 28 April 1996.
Sebelum dibangun menjadi kompleks permakaman keluarga, Astana Giribangun dulunya merupakan bukit. Tempat itu mulai dibangun sebagai Astana Giribangun pada 1974 oleh Yayasan Mangadeg. Proses pembangunan berlangsung sekitar dua tahun.
Juru kunci Astana Giribangun, Sukirno, mengatakan, pembangunan kompleks makam ini bermula saat Ibu Tien menunjuk lokasi tersebut untuk perluasan Astana Mangadeg yang berada tak jauh dari Astana Giribangun.
