
Proyeksi Kenaikan Kapasitas Produksi TPIA Hingga 21 Juta Ton pada 2027
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), yang merupakan perusahaan konglomerat milik Prajogo Pangestu, memproyeksikan kapasitas produksinya akan meningkat signifikan hingga mencapai 21 juta ton pada tahun 2027. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Sumber Daya Manusia & Urusan Korporat Chandra Asri, Suryandi, dalam sebuah diskusi bertema “Menakar Transformasi Chandra Asri Group di Tengah Dinamika Dunia Industri” di Jakarta, Selasa (24/2).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Suryandi menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas produksi tersebut akan didorong oleh pembangunan pabrik chlor alkali dan ethylene dichloride (CA-EDC) di Cilegon, Banten. Saat ini, progres pembangunan pabrik tersebut telah mencapai 56% dengan nilai investasi sekitar Rp 15 triliun. Dengan adanya pabrik baru ini, total kapasitas produksi TPIA diperkirakan naik dari 17,6 juta ton pada tahun 2025 menjadi 21 juta ton pada 2027.
Peningkatan Kapasitas Produksi Melalui Akuisisi
Selain pembangunan pabrik CA-EDC, pertumbuhan kapasitas produksi TPIA juga dipengaruhi oleh akuisisi Aster Chemicals and Energy Pte Ltd di Singapura. Direktur Legal dan Hubungan Eksternal TPIA, Edi Riva'i, menyebutkan bahwa fasilitas refinery Aster memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan kemampuan Chandra Asri Group untuk memproduksi berbagai produk petrokimia.
Pabrik CA-EDC melalui Chandra Asri Alkali (CAA) dirancang sebagai fasilitas berskala dunia untuk mendukung hilirisasi rantai nilai nikel bagi industri kendaraan listrik. Pabrik ini akan memproduksi lebih dari 400 KTA soda kaustik kering dan 500 KTA ethylene dichloride (EDC) demi memenuhi kebutuhan pasar regional yang masih kekurangan pasokan.
Peluang Ekspor dan Kontribusi Ekonomi
Edi menambahkan bahwa pabrik CA-EDC tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik tetapi juga membuka peluang ekspor EDC ke Thailand. Pada fase awal operasional, kapasitas produksi pabrik ini diproyeksikan mencapai 827.000 ton soda kaustik dan 500.000 ton EDC per tahun.
Dalam jangka panjang, produksi soda kaustik diperkirakan mampu menggantikan impor hingga 827.000 ton per tahun senilai sekitar US$ 293 juta atau sekitar Rp 4,9 triliun. Sementara itu, seluruh produksi EDC untuk ekspor memiliki potensi devisa sekitar US$ 300 juta atau setara Rp 5 triliun per tahun.
Proyeksi Harga Saham TPIA
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, melihat bisnis TPIA kian positif dan sahamnya masuk fase bullish. Ia merekomendasikan saham TPIA kepada investor untuk akumulasi beli dengan target harga jangka pendek ke Rp 7.400 dan jangka panjang ke Rp 8.700. Adapun level support TPIA berada di Rp 6.950 dan Rp 6.600.
Nafan menilai bahwa katalis positif TPIA salah satunya adalah pembangunan pabrik CA-EDC di Cilegon yang terus berjalan dan ditargetkan beroperasi komersial pada kuartal pertama 2027. Hal ini akan mendiversifikasi produk ke sektor hilir seperti bahan baku alumina dan nikel, yang marginnya lebih baik.
Strategi Bisnis dan Tantangan
TPIA tengah melakukan transformasi bisnis melalui sejumlah akuisisi strategis, termasuk Aster Chemicals and Energy Pte Ltd yang sebelumnya dimiliki Shell Energy and Chemicals Park Singapore, serta jaringan SPBU Esso milik ExxonMobil di Singapura. Selain itu, kepemilikan di sektor pelabuhan, energi, dan air memberi pendapatan berulang yang menopang keuangan.
Kinerja TPIA juga mulai pulih pada kuartal ketiga 2025 setelah sebelumnya merugi. Perseroan turut mengumumkan buyback saham hingga Rp 2 triliun pada 6 Februari–5 Mei 2026 serta memperoleh peringkat idAA- dari Pefindo untuk obligasi berkelanjutan V senilai Rp 6 triliun.
Namun, tantangan utama yang dihadapi TPIA adalah fluktuasi harga minyak mentah dan produk kimia global yang masih memengaruhi margin. Di sisi lain, industri petrokimia global masih mengalami oversupply dari Tiongkok, yang menekan harga jual produk.
Analisis Fundamental dan Teknikal
Secara fundamental, TPIA kini jauh lebih kuat dibandingkan 1–2 tahun lalu usai bertambahnya aset di Singapura. Namun, karena lonjakan laba lebih banyak didorong faktor nonoperasional, investor perlu mencermati apakah perseroan mampu menjaga profitabilitas operasional secara konsisten pada 2026.
Secara teknikal, pergerakan saham TPIA juga kerap dipengaruhi aliran dana institusi besar serta sentimen aksi korporasi, seperti akuisisi maupun rencana IPO anak usaha, yakni PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) pada 2025 lalu.
Dengan demikian, TPIA cocok bagi investor dengan profil risiko moderat-agresif yang percaya pada katalis ekspansi jangka panjang Grup Barito.