Produksi Batubara Turun, Ini Rekomendasi Saham Analis

admin.aiotrade 16 Nov 2025 4 menit 14x dilihat
Produksi Batubara Turun, Ini Rekomendasi Saham Analis


Di tengah tantangan yang dihadapi oleh industri batubara nasional, para emiten produsen batubara kini menghadapi tekanan yang cukup berat pada tahun 2026. Hal ini dipicu oleh potensi penurunan proyeksi produksi batubara nasional seiring dengan tren pelemahan permintaan global dan perlambatan capaian produksi tahun ini.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberi sinyal bahwa target produksi batubara nasional akan dikurangi pada tahun depan. Produksi batubara diperkirakan bakal berada di bawah 700 juta ton, meskipun sebelumnya target produksi untuk 2025 ditetapkan sebesar 735 juta ton. Namun, realisasi produksi hingga pertengahan tahun cenderung lebih lambat dari target yang ditetapkan.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Selain itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor batubara masih tertekan sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. Nilai ekspor batubara pada Januari–September 2025 mengalami penurunan 20,85% year on year (yoy) menjadi US$ 17,94 miliar. Secara volume, ekspor batubara nasional juga berkurang 4,74% yoy menjadi 285,23 juta ton.

Beberapa emiten batubara telah merancang strategi untuk menghadapi tantangan tersebut. Salah satunya adalah PT Bukit Asam Tbk (PTBA), yang memiliki rencana untuk optimasi biaya, peningkatan efisiensi operasional, serta perencanaan penambangan yang lebih selektif agar harga pokok produksi (HPP) tetap kompetitif.

“Kami juga terus mengembangkan infrastruktur dan rantai pasok logistik agar biaya angkutan lebih efisien,” ujar Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno. PTBA menargetkan volume produksi batubara sebanyak 50,05 juta ton pada 2025, sedangkan volume penjualan dan angkutan masing-masing sebesar 50,09 juta ton dan 43,25 juta ton.

Hingga kuartal III-2025, volume produksi batubara PTBA meningkat 9% yoy menjadi 35,90 juta ton. Pada periode yang sama, volume penjualan batubara PTBA tumbuh 8% yoy menjadi 33,70 juta ton.

Sementara itu, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengklaim tidak khawatir dengan sentimen penurunan produksi batubara nasional pada 2026. Justru, BUMI meyakini adanya perbaikan kondisi pasar batubara global. Berdasarkan analisis internal BUMI, sejumlah negara utama berpeluang meningkatkan pemesanan batubara dari Indonesia.

“Alhasil, mereka (klien) perlu meningkatkan volume pembelian batubara dari BUMI,” kata salah satu perwakilan perusahaan. Dalam catatan aiotrade, volume produksi batubara BUMI berkurang 4% yoy menjadi 54,9 juta ton per kuartal III-2025. Penjualan batubara BUMI juga berkurang 2% yoy menjadi 54,5 juta ton.

Menurut Chief Executive Officer Edvisor Provina Visindo Praska Putrantyo, potensi penurunan produksi batubara nasional merefleksikan kondisi permintaan komoditas tersebut yang belum pulih sepenuhnya untuk jangka pendek dan menengah. Ekspor batubara juga menghadapi tantangan karena kebijakan China yang memilih batubara dengan kalori lebih tinggi, sehingga sulit dipenuhi oleh eksportir batubara Indonesia.

“Sentimen-sentimen ini bersifat negatif dan bisa menekan margin emiten batubara,” tambah Praska. Ia menyarankan agar emiten batubara dapat mengambil langkah antisipasi dengan menekan biaya produksi serta mengevaluasi capital expenditure (capex) untuk keperluan pembelian peralatan tambang dan alat berat.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, produksi batubara nasional yang terancam berkurang pada 2026 semestinya menjadi momentum bagi emiten di sektor ini untuk mempercepat diversifikasi di luar batubara. Upaya ini penting dalam rangka menjaga keberlanjutan usaha secara jangka panjang.

Dari sisi saham, Nafan melihat saham-saham emiten batubara dalam kondisi yang cukup bervariasi. Sebagai contoh, saat ini saham BUMI sedang berada dalam kondisi jenuh beli (overbought) yang ekstrim akibat lonjakan harga tajam dalam beberapa hari terakhir. Saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) cenderung bergerak sideways, namun harganya kerap terkoreksi ketika musim pembagian dividen.

Saham PTBA berada dalam tren menurun sehingga investor perlu wait and see, meski emiten ini menawarkan rekam jejak dividen yield yang tinggi di tengah tantangan industri batubara. Di sisi lain, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Indika Energy Tbk (INDY) masih perlu dipantau lebih lanjut di tengah statusnya yang masih on going secara teknikal.

Nafan merekomendasikan akumulasi beli saham INDY dengan target harga di level Rp 2.430 per saham, sedangkan saham AADI direkomendasikan add dengan target harga di level Rp 9.225 per saham. Menurut Praska, saham-saham emiten batubara sebenarnya memiliki valuasi yang menarik namun risiko tekanan terhadap kinerja keuangan masih cukup besar.

Dia menyebut, saham PTBA dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dapat dipantau oleh investor lantaran keduanya sama-sama royal dalam membagi dividen dengan yield cukup tinggi.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan